Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 179 : Hutan Bambu


__ADS_3

Historia duduk di atas batu selagi melepaskan alas kakinya.


"Aku lelah sekali, seberapa luas hutan bambu ini."


Souma juga berfikir ada yang aneh tentang tempat ini hingga dia juga duduk untuk beristirahat memperhatikan sekitar. Bambu ini bergoyang tertiup angin dan menghasilkan suara aneh sebagai timbal balik, terlepas dari semua itu.


Souma menarik katana yang selama ini dia bawa di pinggangnya, memotong bambu secara vertikal hingga melalui tebasannya dia mampu memotong lima bambu secara bersamaan.


"Apa yang kau lakukan?"


"Coba lihat ini."


Historia bisa melihat dari tempat duduknya bagaimana potongan bambu itu bergerak untuk menyatukan kembali dengan potongan yang sebelumnya.


"Kenapa bisa?"


"Hutan ini hidup, cepat lari."


"Eh."


Historia dipaksa berlari saat bambu-bambu yang sebelumnya hanya diam mulai menumbuhkan tangan untuk mencengkeram mereka.


"Ini semua karena Souma melakukan hal tidak-tidak."


"Pohon-pohon bambu ini tetap saja akan menyerang kita tanpa aku melakukan hal barusan."


Souma memberikan tebasan kilat untuk membuka jalan mereka namun sayangnya sebuah bambu mengikat kaki Historia dan menariknya ke atas.


"Sudah kuduga hal ini terjadi, wanita selalu menjadi objek fanservice seperti ini."


Posisinya terbalik dan rok Historia jatuh ke bawah, melihat itu Souma segera memalingkan wajahnya sementara Historia tersenyum jahil.

__ADS_1


"Jika aku menggoda Souma, kurasa itu akan berhasil."


Souma bisa melihat sebuah tanduk muncul di kepala Historia, meskipun itu imajinasinya dia terlihat cocok memakainya.


"Ini memalukan, lebih baik aku lepaskan pakaian dalamku juga."


"Oi."


Souma menebas bambu itu sehingga Historia jatuh ke tanah.


"Aduh, duh pantatku."


"Jika kau memiliki waktu untuk melakukan hal aneh bantu aku untuk menyelesaikan ini."


"Baik, baik."


Historia menarik pedang di tangannya lalu menebas bambu yang menyerang mereka, dia mengikuti pergerakan Souma lalu saling membelakangi.


"Tidak ada habisnya, apa ada seseorang yang mengendalikannya?"


"Maksudmu monster yang memiliki kecerdasan, jarang untuk menemukannya."


Souma juga berfikir sama.


Terakhir kali Souma bertemu monster tersebut saat insiden dungeon di kota Huruhara, saat itu ada kristal hitam yang ditanamkan di tubuhnya jadi sekilas dia berfikir bahwa kristal itu yang mempengaruhinya namun dia menyadari bahwa monster itulah yang mengambilnya dari monster lain.


Monster memiliki evolusi, kecerdasan adalah salah satu hasil dari evolusi tersebut.


Dari kejauhan seekor pohon bergerak layaknya manusia atau sejujurnya memiliki postur yang sama pula.


"Dia muncul," ucap Historia.

__ADS_1


Pohon itu meletakan tangannya di bawah dan akar-akar menyeruak untuk mengincar keduanya, Souma mengarahkan tangannya dengan sebuah mantra singkat.


"Inferno."


Bam.


Api menyembur membakarnya dengan daya ledakan yang kuat, setelahnya hanya menyisakan kawah raksasa tanpa melukai monster tersebut.


"Monster ini menjebak siapapun yang lewat lalu menjadikannya sebagai nutrisi baginya."


"Itu menjijikan."


Pohon itu mulai tumbuh selagi meraung pada keduanya, tubuhnya membesar dan di mana perutnya berada adalah sebuah mulai yang menganga lebar.


Souma dan Historia bergerak maju saat makhluk itu mengulurkan tangannya untuk menyerang mereka dengan tanaman, Souma dan Historia bergerak melebar untuk menebas tangan itu dengan cepat, potongan berjatuhan saat keduanya telah mempersempit jarak entah pedang Souma atau Historia keduanya memotongnya rapih.


Untuk berjaga-jaga Souma membakarnya dengan api.


"Apa mungkin makhluk seperti ini bukan hanya satu-satunya di sini."


"Kurasa benar."


Souma bisa merasakan keberadaan yang lainnya dan dia yakin bahwa mereka tidak akan muncul sebelum malam tiba, jadi alangkah lebih baik jika mereka bisa melewati hutan sebelum waktu tersebut.


Di pinggiran sungai Historia duduk selagi membersihkan kakinya, Souma yang melihatnya sedikit terpesona bagaimana kaki dan pahanya begitu putih dan memikat.


Ia juga tidak ragu untuk menunjukkan apa yang ada di dalam roknya berupaya kain putih yang bersih.


"Souma kau mulai tertarik dengan hal seperti itu, aku tidak keberatan jika kau mencoba menenggelamkan wajahmu ke bagian ini."


Dan Souma menyemburnya dengan cipratan air.

__ADS_1


"Dingin."


Dia benar-benar iblis penggoda, pikir Souma dalam hati.


__ADS_2