
Kabar tentang 4 kerajaan yang menyerang satu kerajaan kecil dan hancur setelahnya menjadi perbincangan semua orang di seluruh benua.
Orang-orang berdiri di jalanan kota mereka selagi berbisik satu sama lain memberikan komentar yang mereka pikirkan, tak terkecuali di bar yang diisi oleh wanita-wanita penghibur pun tak luput darinya.
Seorang pria yang tampak arogan mengebrak meja dengan kesal membuat minuman di gelasnya tumpah tak beraturan, sementara dua orang lain pun mendesah pelan untuk menanggapinya.
"Ini tidak masuk akal bahkan kita bertiga bisa dikalahkan."
"Ah, seperti yang dikatakan jenderal itu seharusnya kita tidak meletakan tangan kita pada pria bernama Souma, ia juga menggagalkan festival naga yang kita buat sedemikian rupa."
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya pria yang lain.
"Sudah jelas kita akan merebut kembali hak kita, aku tidak ingin membiarkan kerajaan Diamond mendapatkan tanah kita."
Pembicaraan ditutup setelah mereka membayar.
Sementara itu di ibukota kerajaan Diamond, Law harus menjelaskan semua hal pada seluruh bangsawan yang telah menghadiri rencana masa depan kerajaan Diamond, dia tidak pernah meng-klaim bahwa semuanya dia dapatkan dengan tangannya sendiri terutama soal keberadaan pria bernama Souma.
Semua orang jatuh kedalam keheningan setelah Law selesai berbicara.
"Dia melakukannya seorang diri?" tanya bangsawan Marquess yang mendapatkan anggukan kecil dari Law.
"Bahkan jika dia ingin menghancurkan dunia, itu bukan hal sulit baginya."
Itu membuat orang yang terdiam lebih terkejut lagi. Law mengirim tatapannya ke arah bangsawan Duke yang merupakan seorang pria dengan rambut emas panjang yang diikat satu.
"Aku dengar tuan Sandel mencoba menjodohkan nona Stella bukan, aku harap itu bukan sebuah paksaan, bahkan jika Souma berfikir ingin pindah dari kerajaan kita, itu merupakan kerugian besar untuk kita."
Beberapa bangsawan berdiri untuk menyerangnya secara bersamaan.
"Jika kau berniat untuk menguasai dia untuk keluarga Duke maka lupakan saja, orang sekuat itu bisa menjadi pedang bermata dua yang bisa menebas leher kita jika kita membuatnya terganggu."
"Benar, aku rasa lebih baik urungkan untuk menjodohkannya dengan putrimu begitu juga kami, jika ia memilih sendiri itu akan lebih bagus tapi jika harus memaksa... lebih baik untuk sekali lagi memikirkannya."
Law di sini hanya sedang mencoba untuk membantu Souma, dia bukan pria yang dengan kejam membalas bantuan seseorang dengan sesuatu yang merepotkan baginya.
"Aku mengerti tapi Stella menginginkannya sendiri bukan karena perintahku, aku berjanji tidak akan memaksanya dan membiarkan pria itu yang memilihnya."
__ADS_1
Law mengangguk puas begitu juga orang yang turut bergabung dalam rapat tersebut. Ini hanya pembicaraan tidak berarti karena topik sesungguhnya dimulai dari sekarang.
"Sekarang mari bahas soal wilayah," ucap bangsawan Marquess.
****
***
**
Di dalam hutan yang rimbun yang didominasi oleh warna hijau, terdapat sebuah danau indah di tengahnya yang memantulkan warna langit sempurna.
Di pinggirnya tampak seorang wanita berambut panjang biru yang memiliki warna sama akan tetapi itu sedikit lebih gelap dari seharusnya, singkatnya itu adalah warna langit malam.
Setelah melepaskan pakaiannya wanita itu yang memiliki mata lapis keabuan berjalan ke tengah danau demi merendamkan tubuhnya dalam kemewahan dari alam, merasakan keberadaan penyihir senja di belakangnya ia berbalik dan seketika sekelilingnya berubah dengan drastis.
Danau yang dihiasi warna biru telah berubah menghitam seutuhnya, pohon-pohon mulai mengering secara tidak wajar serta daun-daunnya mulai berguguran tertiup angin seolah kehidupan mereka telah terenggut dalam sekejap mata, seluruh hewan mati juga dan hanya menyisakan kehampaan yang didasari oleh kegelapan yang tak berdasar.
Benar, semua itu dilakukan oleh satu orang, dia adalah wanita yang telanjang tanpa memperdulikan tubuhnya yang terekpos seutuhnya.
"Lama tak bertemu penyihir kematian."
"Dingin seperti biasanya," penyihir senja membalas selagi mengambil air dari danau lalu meminumnya.
Saat itu berubah menjadi hitam seluruh kehidupan akan mati tapi tidak baginya, alasan kenapa tujuh penyihir Sage dikenal sebagai makhluk terkutuk tidak lepas dari seperti apa kekuatan mereka, namun dibandingkan semua penyihir, di depan penyihir senja dialah yang paling terkutuk di antara semua orang.
Jika dia bertemu dengan makhluk kecuali hewan atau tumbuhan, semua nyawa di sekelilingnya akan terenggut bagai mimpi buruk.
"Aku hanya kebetulan lewat sini dan kupikir aku ingin melihatmu."
"Sungguh konyol, aku merasakan sihir yang sama saat Festival Naga terjadi, jadi semuanya ulahmu."
"Ah, ketahuan kah."
Penyihir senja melangkah ke dalam danau di mana dia benar-benar berjalan di atas air, hanya terpaut satu meter dari penyihir kematian dia tersendak.
Semakin dekat maka tekanan kematian yang diberikan lawannya begitu mengerikan, kulitnya melepuh dan matanya mengeluarkan darah yang jelas tidak sedikit.
__ADS_1
Penyihir senja tertawa kegirangan atas sensasi kematian yang diterimanya.
"Sampai sekarang aku sangat sulit mendekatimu, kurasa ini batasku."
"Kau bermain-main dengan makhluk hidup lagi, bukannya kita penyihir sudah berjanji pada naga suci Lugunica untuk tidak membuat bencana bagi manusia."
"Mau bagaimana lagi, aku bosan... lagipula naga tua itu sudah tidak ada di dunia ini, bukannya kau juga merasakan hal sama. Festival naga yang kubuat cukup hebat loh meski tidak seperti penyihir itu."
"Sungguh menyedihkan, setelah pembicaraan ini selesai pergilah dari sini.. karena ulahmu sekarang aku harus mencari tempat baru lagi."
"Haha maaf soal itu, aku harus pergi sebelum penyihir itu dat..."
Sebelum penyihir senja menyelesaikan perkataannya kepalanya terbang ke langit dan darah menyembur dari leher yang terpotong.
Penyihir kematian hanya tersenyum kecil seolah tidak peduli kepada pelaku yang memenggal kepala lawan bicaranya, dia adalah gadis kecil dengan rambut merah muda bergaya twintail.
Mengenakan t-shirt berlengan panjang serta rok pendek di mana disatukan dengan kaos kaki panjang bergaris-garis.
"Ada seorang yang bodoh yang mencuri sihirku, apa aku harus memotong-motong tubuhnya."
"Ugh... ini menyakitkan, kepalaku malah dipenggal."
"Ini bayaran karena seenaknya menggunakan sihirku... penyihir kematian, kau ingin pergi?"
"Aku tidak berniat untuk berada terlalu lama di antara pertengkaran dua penyihir, sampai nanti."
"Hey Endaemonia, bisakah kau menyatukan kembali kepalaku rasanya cukup sulit di sini."
"Kita sudah membuang nama asli kita, panggil aku penyihir bencana."
"Padahal nama itu sangat bagus."
Tubuh tanpa kepala itu bergerak mirip sebuah boneka lalu mengambil bagian tubuh lainnya sebelum melompat ke dahan untuk melarikan diri.
"Jangan lari kau."
"Haha sampai nanti, bertemu dua penyihir lain di satu waktu betapa tidak beruntungnya diriku."
__ADS_1
"Cih... kau pandai sekali melarikan diri, lain kali akan kutunjukan bagaimana festival naga itu sesungguhnya."