
"Jack the River."
Nama itu memberikan kesan pahit pada ingatan Astrea, tidak berlebih jika semua orang mengetahui nama tersebut.
"Jadi kau pria mesum yang senang melakukan tindakan senonoh pada wanita."
Mendapati perkataan sarkasme, orang bernama Jack the River tertawa.
"Apa yang kalian tahu tentangku semua hanya kebohongan, aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi namun dibanding melakukan hal menjijikan seperti itu hobiku jauh lebih menarik."
Jack menciptakan lubang hitam di depannya dan saat dia menarik sesuatu dari sana sebuah kepala bisa terlihat jelas di tangannya, tidak ada darah yang menetes dari sana dengan kata lain itu telah dipenggalnya beberapa waktu lalu atau bahkan beberapa hari sebelumnya.
Astrea mengklik lidah saat kepala itu dilemparkan padanya. Emosi memenuhi kepalanya tapi tidak sampai dibatas dia kehilangan akal sehatnya dengan sebuah kemarahan.
"Aku suka mengoleksi berbagai kepala dari musuh-musuh yang kuat, jika kau kuat maka kau juga akan berakhir seperti itu."
Astrea membuang kepala itu ke samping sebelum melangkah maju, dia memutar pisau belati dengan gerakan cepat dan menyerang secara langsung. Jack melihat kilatan di depan matanya yang mana ia tahan dengan sempurna melalui pedang miliknya, sementara dia mempertahankan keseimbangan Astrea memutar dirinya memberikan sebuah tendangan menghantam tubuhnya membuatnya menembus beberapa rumah dengan sedikit ledakan debu.
Perlahan matahari terbit dan kegelapan yang sebelumnya terasa telah menghilang digantikan kabut yang menyelimutinya.
"Sepertinya waktu berpihak padaku, bagaimana kau bisa mengatasinya."
Jack menggunakan area yang kini berubah sebagai keuntungan baginya, pada dasarnya jenis pertarungan Jack lakukan lebih mirip seperti seorang assassin lakukan, dia menyelinap ke dekat Astrea. Ujung pedangnya terkirim dengan baik yang mana sedikit menyerepet sisi luar Astrea.
Sebelum bisa membalas Jack telah lenyap.
"Kau benar-benar membuatku muak."
Api menyembur dari tubuh Astrea dan secara perlahan kabut di sekelilingnya mulai lenyap tertarik ke atas oleh udara panas.
__ADS_1
"Apa?"
Tepat saat Jack terkejut, sebuah pisau melayang padanya sebelum itu bisa mengenainya Astrea melompat ke belakang karena sesuatu telah muncul di tempat musuhnya berada, sebuah jubah hitam melayang di udara dengan sebuah sabit di tangannya.
Seluruh tubuhnya merupakan tulang berulang.
"Kau? Jadi seperti itu kau membunuh semua orang, kau seorang Lich."
"Tepat sekali."
Lich adalah penyihir kegelapan yang telah mencapai keabadian melalui pemahaman yang diketahuinya namun sebagai pembayaran dia akan memiliki wujud mengerikan seperti itu.
Nama Jack The River memang cocok untuknya.
Jack melayang cepat dengan sabit terayun di tangannya, Astrea menahan itu dengan belatinya dan dia terlempar, saat serangan berikutnya datang dari atas Astrea menghindarinya lalu bergerak ke samping untuk memberikan serangan balasan.
Belati itu bersiap memotongnya kepala Jack.
Itu hancur berkeping-keping.
"Percuma, pisau sekelas itu tidak bisa melukaiku... paling tidak kau harus menggunakan senjata yang telah mendapatkan pembaptisan dari pihak gereja."
Jack mengarahkan satu tangannya di mana sebuah bayangan hitam mencengkeram seluruh tubuh Astrea, teriakan terdengar dari mulutnya.
"Haha ini adalah kutukan kematian."
"Sial."
Dengan kekuatan sihir api Astrea sedikit membakar bayangan yang menyelimutinya tapi itu tidak sampai ditahap dia bisa lolos dengan sempurna. Jack mengangkat sabitnya tinggi dan bersiap untuk memenggal musuhnya saat sebuah suara memukulnya.
__ADS_1
"Jika aku jadi kau, aku tidak akan melakukan itu."
"Kau?"
Pedang Souma menebas lengan Jack dengan mudah, bayangan hitam menghilang dan dengan sedikit lompatan Souma berhasil membawa Astrea yang tidak berdaya.
"Souma?" ucap pelan Astrea.
"Aku merasakan energi aneh jadi aku datang kemari untuk memeriksanya, kau sudah bertarung cukup lama jadi kemampuanmu tidak sebagus dulu."
"Berisik, aku hanya lengah barusan."
Jack ikut dalam pembicaraan.
"Aku tidak tahu siapa kau? Tapi wanita itu telah mendapatkan kutukan kematianku dia akan mati hanya dalam beberapa jam saja."
"Eh, benarkah?"
Souma mengulurkan tangannya dan sebuah cahaya keemasan menyelimuti Astrea kemudian lenyap setelah kutukan itu terangkat.
"Seorang pria bisa menggunakan sihir suci, menarik... Gereja tidak mungkin dengan senang mengajarimu sihir seperti itu bukan?"
Ada aturan bahwa hanya wanita yang bisa bergabung dengan Gereja, namun Souma mempelajarinya ini jauh sebelum dia berada di dunia ini.
Souma bangkit lalu berbalik untuk menghadap musuhnya yang memiringkan kepalanya.
"Bukannya kau orang yang berkeliling ke medan perang dan dengan bodohnya menawarkan obat-obatan di tengah pertarungan."
"Kau mengenalku?"
__ADS_1
"Jika tak salah julukanmu orang dengan seribu obat yang disebut dewa Alchemist."
"Semua orang terlalu berlebihan aku hanya pemilik toko obat sederhana yang bisa sedikit bertarung, kau tahu."