
Seekor ular hitam raksasa meluak-liuk di antara pepohonan, ular itu menjulurkan lidahnya sesaat sebelum masuk ke dalam sebuah mansion terbengkalai kemudian melingkarkan tubuhnya di sebuah singgasana di mana di sana seorang wanita tanpa busana duduk selagi menyilangkan kakinya, ia memiliki rambut hitam panjang yang dikepang menggantung di dadanya yang sama sekali tidak tersembunyi. Jika adapun ornamen yang dipakainya hanyalah sebuah kelompok mawar hitam di rambutnya.
Entah dirinya atau si ular mengalihkan pandangan ke arah wanita lain yang memasuki bangunan tersebut.
Dengan anggun wanita itu berjalan selagi membetulkan sarung tangannya.
"Apa yang kau lakukan di sini penyihir senja."
"Seperti biasa kamu tidak menutupi tubuhmu, ah aku lupa lebih baik aku menyapamu lebih dulu, lama tak bertemu penyihir kecantikan, Sina."
Tepat saat penyihir senja mengatakannya kepalanya terpenggal ke udara hingga darah membasahi lantai di kakinya.
"Terjadi lagi, apa setiap aku memanggil namamu aku harus terpenggal."
"Sebaiknya kau meletakan kembali kepalamu itu, berhenti memanggil namaku dan juga sembunyikan nafsu birahimu itu."
"Ini wajar loh.. saat melihatmu tidak mungkin ada yang sanggup menahannya bahkan untuk penyihir, apa kau mau sedikit bersenang-senang denganku."
Selanjutnya kepala penyihir senja terbelah dua bagian, cairan otak bersatu dengan darah dan itu merupakan pemandangan yang menjijikan, bahkan setelah tubuhnya berantakan seluruh daging itu menyatu kembali seolah tak terjadi apapun lagi.
"Sungguh menyebalkan."
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Aku hanya ingin memberitahukan soal pesta teh para penyihir."
__ADS_1
"Jika demikian berarti itu akan menjadi dua kalinya kita melakukannya."
"Iya.. tapi jangan khawatir karena Lugunica telah mati."
"Sepertinya kau merencanakan sesuatu."
"Entahlah, kasih tahu nggak yah... aku sudah memberikan jadwalnya jadi jangan sampai lupa untuk datang."
Penyihir senja hanya berjalan pergi selagi melambaikan tangannya.
***
Pagi harinya saat matahari belum muncul dan cahaya bulan masih bersinar terang Souma membawa Anna, Misela, Scarlett dan juga Lilith pergi ke sebuah lahan tandus. Dia meminta mereka menunggu di belakang sementara dirinya berjalan beberapa langkah ke depan.
Tatapannya dingin akan tetapi dipenuhi gairah yang begitu dalam.
"Yang mulia ratu, biar aku tanyakan satu hal, apa yang Anda minta pada tuan Souma?"
Walau ragu ia menjawabnya.
"Mengembalikan tanah tandus wilayah ras iblis dengan sebuah ramuan tertentu."
"Apa menurutmu hanya dengan ramuan hal itu bisa dilakukan?"
__ADS_1
Mereka akhirnya menyadarinya, ramuan tidak mungkin bisa melakukannya bahkan seberapa keras kau melakukannya hal itu jelas mustahil, lalu bagaimana jika Souma bisa melakukannya? Perlu berapa banyak ramuan untuk membuat seluruh wilayah ini subur kembali? Pertanyaan yang digumamkan Lilith masuk ke dalam pemikiran mereka juga.
Tanpa menyembunyikan ekpresinya, Lilith menjilat bibirnya.
"Tuan bukan membuat ramuan tapi akan menggunakan teknik alkemis yang menentang dewa, mengubah akal sehat menjadi tidak berguna."
Semua orang mengalihkan pandangan ke arah satu-satunya keberadaan yang dikatakan tersebut.
Dia menggabungkan tangannya dengan gaya menepuk nyamuk dan seketika aliran petir menyambar dari sekeliling tubuhnya, saat ia menyentuhkan tangannya ke tanah, itu memunculkan 12 patung yang mengelilinginya, setiap patung adalah patung wanita dengan pose berdoa dengan mata tertutup sementara di belakang mereka sepasang sayap yang mempesona terbentuk dengan indahnya.
"Itu benar-benar mengagumkan" kecuali Lilith, semua orang terlalu takjub dengan itu, seolah mulut mereka terkunci rapat.
Dari setiap patung menciptakan lingkaran sihir yang menembakkan cahaya ke atas langit dan kemudian menyatu di sana membentuk lingkaran sihir raksasa.
Cahaya bulan terhisap ke arahnya, berkumpul sesaat sebelum cahaya itu di tembakan ke tanah.
Dalam sekejap tunas-tunas dari pepohonan bermunculan dan secara bertahap tumbuh bersama rumput-rumput hijau yang terus merambat ke seluruh wilayah. Air sungai serta danau yang telah mengering terisi kembali dan tumbuhan yang mati kembali tumbuh.
Dalam sekejap pemandangan telah berubah drastis bersamaan cahaya matahari yang muncul setelahnya.
Souma berbalik selagi menatap ke arah Anna yang hanya menutupi mulutnya karena terkejut.
"Lihat, aku menempati janjiku bukan?"
Air mata menetes dari wajah Anna, kakinya telah kehilangan tenaga dan ia terduduk dengan lemas.
__ADS_1
"Te-terima kasih."
Souma hanya membalas dengan senyuman biasanya.