Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 225 : Kebrutalan


__ADS_3

"Jadi begitu, kalian mau pergi ke kota penyihir haha."


Salah satu Viking berkata demikian saat Lugunica menjelaskan perjalanan mereka, untuk para Viking ini hanya akan tinggal di sini beberapa hari saja sebelum kembali pulang, paling tidak itulah yang mereka katakan.


Semenjak setahun mereka berkeliling untuk melihat bagaimana kebudayaan di luar desa mereka dan sekarang sudah waktunya mereka kembali, mereka mengambil beberapa benih tanaman yang akan mereka coba tanam di kampung halaman.


Lugunica tertarik seperti apa desa mereka namun segera mengurungkannya, dia juga memiliki tugas yang lebih utama dibandingkan pergi ke sana, untuk mengakhiri pertemuan Lugunica menantang mereka semua adu panco dan ia dengan mudah menang telak.


"Kalau begitu selamat tinggal."


"Jaga diri kalian."


Riel dan Karina mengikuti di belakang, kereta itu memiliki 12 gerbong dan ketiganya akan berada di bagian paling akhir. Di sana hanya diisi beberapa orang pria tua, wanita tua dan juga anak-anak.


Tempat ini memang tidak terlalu mewah seperti gerbong lainnya namun dari segi kenyamanan tentu saja tidak kalah jauh.


Riel dan Karina duduk bersebelahan dan Lugunica dia duduk di depan mereka sendirian selagi melirik hamparan laut biru dari dalam jendela.


"Aku ingat aku pernah masuk ke dalam laut dalam wujud nagaku dan mereka semua malah berlarian."


Mereka yang dimaksud Lugunica merupakan makhluk-makhluk penghuni lautan, dengan wujud aslinya tidak ada siapapun yang tidak takut padanya.

__ADS_1


Kota penyihir bisa ditempuh hanya satu jam dan ketika mereka sampai itu membuat mereka terkejut, Riel dan Karina berlari di belakang mengikuti Lugunica yang lebih dulu melesat maju.


Orang-orang yang sudah mati berserakan di jalan mereka dan semua itu hanya dilakukan oleh satu orang yang melemparkan tubuh pria dibunuhnya ke samping.


Pria itu mengenakan helm besi dengan pakaian putih khas dari 12 kesatria suci.


"Kebetulan sekali kalian datang, dengan ini berikutnya kalian yang akan kuhabisi."


"Hector kau datang kemari."


"Aku hanya menjalankan mi..."


Helmnya rusak dan untuk pertama kalinya seseorang melihat wajahnya. Dia seperti pria pada umumnya hanya saja matanya tidak seperti manusia melainkan mata naga seperti Lugunica.


"Sudah kuduga aroma ini, aroma naga."


"Aku tak pernah menyangka bisa bertemu ratu naga di tempat seperti ini terlebih bersama kedua orang buronan."


"Apa kau mengenalnya?" tanya Karina.


"Dia orang yang aku usir dari kota naga karena membunuh sesama naga, karena mereka yang salah jadi aku hanya mengusirnya dengan pengasingan, sungguh kau benar-benar berubah jadi monster seperti ini."

__ADS_1


"Apapun yang kau katakan, aku sudah tidak peduli... yang ingin kulakukan hanyalah membunuh banyak orang."


"Kau sudah gila."


Riel dan Karina saling bertatap muka.


Bagi mereka ini juga pertama kalinya tau bahwa Hector adalah seekor naga. Dia melesat maju ke arah Lugunica memukulnya beberapa kali di perut kemudian menampar wajahnya dengan sebuah tendangan yang mana membuatnya berputar di udara sebelum menembus puluhan rumah di belakangnya.


Hujan mulai turun saat dia berkata dengan suara tajam.


"Aku lebih kuat dari sebelumnya karena mendapatkan berkah dari dewi Harmonia."


"Orang sepertimu seharusnya tidak memiliki berkah apapun."


Riel dan Karina melompat di atas kepala Hector namun dalam sekejap tubuh mereka terhenti, hujan yang berjatuhan mengalami hal sama.


Dibandingkan siapapun dialah yang tahu seberapa kuat dirinya.


Seorang yang bisa menghentikan waktu dalam beberapa saat saja.


Kepala Riel dan Karina dicengkeram oleh tangannya kemudian dihancurkan begitu saja mirip sebuah biji Ek.

__ADS_1


__ADS_2