
Avelin menangis selagi memegangi kaki Souma.
"Aku tidak mau masuk ke tempat ini, hueeeh... biarkan aku tetap di rumah."
Yuna memandangnya jijik sedangkan Sera sedikit prihatin.
"Orang ini apa gunanya jadi petualang."
"Souma lebih baik kita jangan memaksanya."
Souma menjatuhkan bahunya lemas, Avelin bukanlah petualang lemah seperti yang terlihat sekarang, di masa lalu dia bisa membantai banyak monster hanya dengan sebuah pedang di tangannya.
"Biar aku tanya, apa kau akan terus seperti ini, ketika kau duduk ketakutan orang-orang yang sebelumnya meninggalkanmu pasti sedang menertawakanmu, pada dasarnya merekalah yang lebih membutuhkanmu, aku tidak setuju dengan Yuna tawarkan tapi terkadang marah lebih baik dibandingkan menyalahkan diri atau bersembunyi."
Avelin terlihat menggigit bibirnya bertepatan saat Sera memberikan peringatan tentang seekor Minotaurus yang menyeret pedang besar dan berjalan ke arah mereka.
"Apa aku harus mengatasinya?"
"Tidak, biarkan Avelin melakukannya."
Souma menarik dua orang untuk ikut mundur ke belakang dan hanya meninggal Avelin yang duduk mematung. Ia bisa melihat sepasang kaki yang telah berdiri di depannya dan siap mengayunkan pedang miliknya.
"Souma, ini terlalu berlebihan."
Souma hendak menarik pedangnya namun sebelum dia bisa mengatasinya tubuh Minotaurus telah ditebas hingga darah menyembur ke udara.
Berdiri di depan mereka sosok Avelin yang memegang pedang besar di tangannya.
"Bagaimana dia bisa memunculkan pedang sebesar itu?" tanya Sera.
__ADS_1
"Heh, ternyata dia kuat," tambah Yuna.
Beberapa monster kuat bermunculan, Avelin hanya menghentakkan kakinya untuk menerjang ke depan. Hanya dalam waktu singkat monster-monster itu terbunuh dengan tragis.
"Akan kubunuh semua monster di dungeon ini."
"Sebenarnya dia kesurupan makhluk apa," ucap Yuna demikian.
Selama tiga hari Avelin berubah jadi monster haus darah dan ketika dia berhasil mengalahkan bos dia mengangkat pedangnya ke atas.
"Aku tidak butuh rekan petualang, aku sendiri sudah cukup mengalahkan mereka."
"Kalau begitu kau sudah siap bekerja bukan."
"Soal itu, aku ingin tetap di rumah."
Souma menarik kerahnya untuk pergi.
Paling tidak dalam kondisinya sekarang dia mampu melatih seseorang.
Sekarang giliran Sera, dia dipaksa mengenai pakaian pelayan sexy den rok pendek.
"Ini memalukan."
Yuna menatap dengan mata menilai.
"Lumayan juga Souma, apa ini cara untuk menghilangkan kegugupannya?"
"Aku ingin membuatnya menjadi terbiasa dengan orang-orang."
__ADS_1
"Heh, dasar iblis.?"
"Tugasmu akan selesai saat memberikan selembaran ini pada orang-orang, kamu harus bisa menarik orang-orang jika ingin segera keluar dari situasi sekarang."
Sera memucat bagaimana tumpukan kertas itu sangatlah banyak, meski begitu dia melakukannya dengan baik walau beberapa hari pertama terasa berat.
Ia bertemu dengan berbagai orang dan mencoba untuk mengatasi semuanya.
Beberapa pria bahkan sengaja untuk mengangkat roknya dan akhirnya berakhir dilempar ke langit.
"Benar-benar cara yang cepat, hanya dalam seminggu dia bisa mengeluarkan sihir di depan banyak orang."
Latihan untuknya selesai dengan baik dan yang terakhir untuk Yuna.
"Aku penasaran apa yang akan kau lakukan padaku, aku tidak akan merubah pelatihanku apapun yang terjadi."
"Mari kurung dia di kamar dan hanya berikan makan dan minum saja."
Hanya dalam dua hari Yuna berlutut.
"Tolong jangan kurung aku lagi, aku akan merubah pelatihanku."
Ini selesai dari yang diharapkan.
Beberapa hari berikutnya para petualang terlihat menggigil dengan sosok pelatih mereka yang baru.
"Jika kalian tidak baik dalam latihan aku akan membuat kalian tidak akan lulus sampai kapanpun dan meminta Astrea untuk menolak kalian di guild."
"Ba-baik pelatih."
__ADS_1
"Mereka jadi kejam juga," kata Souma dalam hati.