
Raifudus melesat dengan kecepatan tinggi, dia tidak menyerang Souma dari depan melainkan memilih jalur samping. Tepat saat dia muncul empat pedang raksasa menebasnya di udara, mencincangnya menjadi potongan daging segar yang berserakan di tanah.
Setiap tubuh itu menghilang dan Raifudus tampak berdiri jauh dengan perasaan mencekam.
"Kau, bagaimana bisa... aku tidak bisa melihat masa depan."
"Sosok di belakangku tidak memiliki waktu entah itu masa depan, masa lalu atau masa sekarang dia tidak berada dimana-mana."
"Jangan konyol? Entah benda ataupun makhluk hidup selalu memiliki asal muasal, mereka memiliki waktu. Dan juga serangan barusan aku tidak bisa menemukannya di masa depan."
Souma mendesah pelan.
"Kau terlalu percaya diri pada kemampuanmu, dan sepertinya aku sudah tahu apa yang kau sembunyikan lagi, mata Rigenmu membuat kematianmu barusan sebagai sesuatu yang tidak nyata, kau merubah lintasan takdir kematianmu sendiri."
Raifudus mengerenyitkan alisnya. Ini pertama kalinya dia merasakan sesuatu yang disebut ketakutan tubuhnya gemetar saat melihat mata Souma yang bersinar merah terang.
"Teknik barusan juga dimiliki oleh penyihir senja, sekilas dia terlihat abadi namun sebenarnya dia merubah takdirnya, jika takdir A dia mati dia akan menghapusnya dan memulai kembali ke takdir B di waktu yang sama, semacam pengulangan namun secara melompat di garis yang sama dimana hanya menghapus beberapa bagian yang tidak penting. Sama seperti pazel, kau melepas yang cacat lalu memasang yang baru."
"Sialan, aku benar-benar harus membunuhmu."
"Aku ingin tahu seberapa banyak kau merasakan kematian."
Setiap Raifudus menyerang dia ditebas secara brutal, kepalanya terpenggal, kakinya terpotong, organ dalamnya berceceran dan di saat yang sama dia kembali muncul.
Di serangan 500 dia mengayunkan senjatanya dan itu hancur begitu berbenturan kembali dengan sosok samurai di belakang Souma.
Tepat saat dia menghindar tebasan merobek kedua matanya menghasilkan teriakan kesakitan.
__ADS_1
"Gaaaaaaaah."
Ujung pedang menembus tubuhnya.
Di kematian 1000 dia hanya berdiri layaknya boneka, ini adalah batas darinya, mentalnya sudah dihancurkan begitu juga keinginannya untuk hidup singkatnya dia bergerak tanpa berfikir.
Souma menghilangkan sosok samurai di belakangnya lalu berjalan mendekat dengan pedang miliknya sendiri lalu menancapkannya menembus jantung.
Jika melawan penyihir senja Souma pikir cara seperti ini tidak akan berhasil.
Jika Raifudus bisa mengimbangi kekuatan Souma tanpa mati dia mungkin akan menjadi musuh merepotkan sampai akhir sayangnya dia tidak bisa melakukannya.
Pedang ditarik dan Raifudus roboh ke depan.
"Beristirahatlah dengan tenang," perkataan itu mengakhiri pertempuran yang panjang ini.
Teriakan menggema ke seluruh wilayah ibukota dan semua orang (Terdiri dari pasukan penyerang dan juga penduduk kota) yang sejak tadi menahan nafas untuk melihat pertarungan Souma berlari padanya lalu mengangkatnya ke udara.
Souma sudah menyadari bahwa mereka datang sejak pertengahan pertempuran tapi mengangkatnya seperti ini sulit untuk dibayangkan.
"Kalian semua, aku sedang terluka."
"Hidup Alchemist jenius, hidup."
Historia yang diikat dan menonton dari kejauhan hanya terduduk menangis.
"Aku juga sudah berjuang keras, aku ingin digituin juga."
__ADS_1
Jelas tidak ada yang ingin melakukannya, Nymph, Jin dan juga Jibel menatap di sebelahnya.
"Kekaisaran ini telah banyak memberikan kesedihan jadi semua orang pasti akan senang bahkan jikapun kotanya kita hancurkan," kata Nymph yang dibalas senyuman oleh adiknya bernama Jin.
"Kakak terdengar penuh emosi hari ini."
"Kau ini, setidaknya bilang bahwa kakakmu jadi manis atau apapun itu."
Nymph mencekik leher Jin dengan kuncian.
Scarlett juga berada di sana hanya duduk tanpa banyak bergerak. Sementara itu di bagian atas menara, Lilith dan juga Beatrix hanya melihat pemandangan di bawahnya.
"Pertarungan barusan benar-benar hebat, jika aku pasti sudah tidak bisa bertahan."
"Tuan memang luar biasa."
"Lalu makhluk apa yang berada di belakang tuan? Jika itu tidak memiliki asal muasal bukannya itu artinya bukan sesuatu yang seharusnya ada di dunia ini."
"Bukan tidak ada asalnya melainkan makhluk itu tercipta dari sebuah perasaan manusia, perasaan seharusnya tidak memiliki bentuk karena itulah Raifudus tidak bisa melihat masa depannya."
"Perasaan manusia?"
"Benar, tuan Souma telah melalui banyak pertempuran yang tak terhitung lagi jumlahnya dan memakan korban yang begitu banyak pula, setiap orang yang mati memiliki banyak penyesalan, ras sedih, rasa kehilangan, rasa kematian dan lainnya. Banyak orang yang ingin hidup dan bertemu orang yang mereka cintai meskipun berada dalam peperangan, hanya orang-orang bodoh yang mengatakan bahwa jalur perdamaian hanya bisa diraih dengan peperangan.
Setiap perasan itu terus berkumpul di tubuh tuan dan sedikit demi sedikit membentuk dirinya seperti yang kita lihat barusan, perasaan itu seharusnya menghilang seiring kematian para pemiliknya namun malah berkumpul di dekat tuan layaknya kutukan."
"Bukannya itu artinya tuan Souma paling menderita harus menahan perasaan tersebut jangan bilang dia sengaja menggunakannya agar seseorang bisa.."
__ADS_1
Keheningan terasa di antara keduanya dimana angin lembut telah mengibarkan rambut Lilith ke samping dan ia berkata dengan nada dingin.
"Benar, suatu hari aku yang akan menyelamatkan tuan dan menghancurkan makhluk tersebut."