Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 85 : Turut Bergabung


__ADS_3

Malam hari itu Anna terbangun dari tidurnya, ia secara berhati-hati keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga dan menemukan sosok Risela sedang duduk selagi memandangi cahaya bulan yang mengintip dari jendela.


"Anna, kau belum tidur?"


"Aku sedikit haus, apa mau aku buatkan teh?"


"Tentu, terima kasih."


Keduanya duduk bersama dalam keheningan sebelum Anna memulai pembicaraan.


"Memikirkan Souma."


"Um... aku pikir alasan dia bergerak karena kita dan penduduk desa ini."


Anna menyeruput tehnya lalu membalas tanpa menyembunyikan kesedihannya.


"Aku juga berfikiran demikian, Souma bukan sosok yang ingin dikenal sebagai pahlawan aku yakin ini semua karena rasa traumanya karena telah kehilangan banyak hal yang berharga di kehidupannya di dunia lain."


Bagaimana semua orang tahu Souma telah berpindah dari satu dunia ke dunia lainnya hanya untuk bertambah kuat, kuat untuknya adalah di mana ia bisa menyelamatkan orang-orang berharga baginya namun keadaannya malah terbalik dengan apa yang dia inginkan.


Jika Souma membiarkan desa ini hancur mungkin saja mentalnya tidak akan kuat menahannya.


Itulah yang Anna bisa pikirkan sekarang.


Risela melanjutkan.

__ADS_1


"Sebelum fajar aku akan pergi bergabung dengan pasukan Law, kupikir aku masih bisa menyusul mereka."


"Bukannya Souma akan marah."


"Mana mungkin, lagipula dia tidak melarang kita untuk pergi."


Anna tertawa kecil.


"Kenapa Anna tertawa?"


"Bukan apa-apa, padahal sebelumnya kita saling bertarung satu sama lain tapi kita malah duduk bersama, aku sama sekali tidak menyangka hal ini."


"Kurasa aku juga merasa begitu, aku ingat bagaimana Anna menangis."


"Fufu bukannya kamu yang menangis bersama Stella."


"Tak apa untuk mengaku."


Keduanya saling mendorong satu sama lain, Risela mengenakan pakaian kesatrianya kemudian menggunakan sihir teleportasi untuk pergi ke kota terdekat, jika mengasumsikan arah pertarungan mereka tidak akan jauh dari sini.


Ia melompat dari pohon kemudian sebisa mungkin menghindari tumpukan salju yang telah menggunung sebelum mendaratkan kakinya dengan aman.


Law, Stella dan juga Laura yang meletakan tangan mereka di pedang segera menurunkan kewaspadaan mereka.


"Kau rupanya Risela, kupikir kau tidak akan datang kemari."

__ADS_1


"Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi dan sedikit membantu."


"Begitu, aku ucapkan terima kasih," balas Law demikian lalu Stella mengambil alih pembicaraan.


"Sejauh ini kita belum mengalami kendala apapun, mari bergerak saat udara lebih hangat."


Semua orang mengangguk pelan dan sesampainya di benteng pertama mereka dikejutkan dengan sebuah tembok yang roboh dengan puing-puing menumpuk di tengahnya.


Masih banyak penduduk di sana dan mereka secara bekerja sama untuk membangun kota mereka kembali, saat melihat pasukan Law mereka mengangkat tangan mereka dengan wajah ketakutan.


"Jangan khawatir kami tidak akan menyakiti kalian."


Salah satu penduduk desa berjalan untuk membungkukan kepalanya.


"Aku tidak tahu kalian ingin melakukan apa tapi aku harap kalian segera pergi dari sini, kami semua tidak peduli dengan kerajaan ini bahkan jika kalian semua merebutnya asalkan kami bisa hidup damai itu lebih dari cukup."


Law melirik ke arah anak-anak yang bersembunyi dibelakang orang tua mereka selagi gemetar ketakutan.


"Maaf atas keributannya, kita memutar."


Semua pasukan melakukan apa yang dikatakan Law.


Laura yang berada di sebelahnya berkata.


"Membayangkan satu orang bisa melakukan hal ini membuatku masih tercengang."

__ADS_1


"Bukan hanya kau, aku juga merasa begitu."


__ADS_2