Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 135 : Asetasius


__ADS_3

Sebuah pedang meluncur dari bawah pergerakan Souma, dia buru-buru menarik pedangnya dalam posisi bertahan dan dalam sekejap seluruh bagian belakang bangunan telah terpotong-potong menjadi beberapa bagian.


Tak berhenti di sana Asetasius yang mengetahui serangannya bisa ditahan, kembali melangkahkan kakinya dengan gerakan tebasan ke kiri disusul ke kanan kemudian bersamaan dengan teriakannya tubuh Souma terlempar ke udara menabrak pilar sebelum memuntahkan darah dari mulutnya.


Sosok Asetasius berjalan selagi menyeret pedangnya menghasilkan suara gesekan yang kurang nyaman bagi yang mendengarnya.


Sementara itu Souma hanya tersenyum selagi menyeka darah yang keluar dari ujung mulutnya.


"Kau menahan diri? Apa yang sebenarnya kau tunggu."


"Tidak ada, hanya saja aku ingin melihat seberapa besar kekuatan kalian, kalian selalu bersikap seolah menjadi spesies unggulan dan dengan mudah merendahkan ras lainnya."


"Kau memandang kami sebagai hewan."


"Tubuh kalian dibuat dari percobaan bukannya wajar."


Asetasius mengerenyitkan alisnya atas pernyataan Souma yang menatapnya dengan belas kasih namun semua itu murni hanya sebuah provokasi biasa, beberapa puluh tahun lalu Asetasius hanyalah seorang gadis miskin yang bukan siapa-siapa, dibandingkan orang lain dia adalah gadis yang bekerja keras untuk keluarganya dan sering bolak-balik antara hutan dan rumahnya.


Suatu hari dia melihat bagaimana rumahnya telah dihancurkan di depan wajahnya, orang-orang telah mati termasuk keluarganya, semua itu terjadi karena masalah sepele di mana penduduknya mengambil wilayah ras serigala dan menjadikannya sebagai pemukiman.


Mereka adalah orang pelarian dan hanya di tempat ini saja mereka bisa tinggal. Desa mereka yang dulu telah dihancurkan oleh sesuatu yang disebut festival naga.


Saat itu Asetasius hanya bisa berteriak histeris, bagaimanapun kehidupan yang dia inginkan telah direbut darinya, ia tidak tahu harus melakukan apa sampai di sanalah dia bertemu dengan seorang wanita berambut merah yang mengenakan topeng di wajahnya.


"Kamu baik-baik saja, ini pasti ulah ras serigala aku bisa melihat bagaimana jejak cakar mereka tertanam di sini."


"Apa yang kau inginkan?"

__ADS_1


"Aku perlu seseorang untuk membantuku untuk meraih tujuanku. Apa kau mau bergabung?"


Saat wanita itu menunjukan wajahnya dia bisa melihat mata berwarna merah terang dan senyuman tipis yang mempesona.


"Jika kau mau kita bisa membalaskan dendam dari penduduk ini, tapi sebagai gantinya kau hanya akan menuruti perintahku."


Asetasius mengangguk mengiyakan.


Wanita itu melukai tangannya lalu berlutut di dekat Asetasius dan berkata sambil menyodorkan tangannya yang terus menetes darah.


"Minumlah darahku maka kau pasti akan memiliki kekuatan yang luar biasa."


Asetasius melakukannya dan seketika ia juga memiliki mata merah dan taring yang menyeruak dari mulutnya.


"Akan kubantai seluruh ras serigala."


Itu adalah kilas balik yang singkat yang terbayang di benaknya. Dia mengayunkan pedangnya tepat saat itu Souma berguling ke samping lalu melesat maju.


Dia mengayunkan pedang secara diagonal sebagai balasan yang ditangkis dengan baik, alasan kenapa sejauh ini Souma tidak bertarung dengan serius adalah untuk mencoba membuat Asetasius kehilangan energinya. Dan ketika itu terjadi dia akan melakukan sesuatu yang sulit di terima oleh musuhnya.


Mata Souma berubah menjadi merah terang, ia menambahkan kecepatan serta pergerakan yang tidak bisa diikuti oleh Asetasius. Bahkan dengan darah vampirnya itu benar-benar sangat sulit.


Yang ia sadari pedangnya telah terlempar ke udara.


"Bagaimana bisa?"


Sebelum Asetasius bereaksi tangan Souma telah berada di dadanya, dalam hitungan detik sebuah lingkaran sihir gelap tercipta yang mana memancarkan petir hitam ke sekelilingnya, selanjutnya saat Asetasius jatuh dengan lemas ada sebuah tanda di mana Souma meletakan tangannya.

__ADS_1


"Haa... haaa .. haaa... apa yang kau lakukan?"


Souma membalas dengan santai.


"Aku memberikan kutukan budak padamu, mulai sekarang kau akan jadi anak buahku."


"Jadi ini maksudnya kenapa kau sejak tadi bermain-main denganku."


"Aku perlu menanamkannya secara cepat jika kau memiliki tenaga itu akan sulit dilakukan."


"Kau."


Saat Asetasius menarik pedangnya untuk menebas Souma tubuhnya dialiri petir hitam hingga tubuhnya kejang dan jatuh berlutut.


"Kau tidak bisa melukaiku, meski aku menanam kutukan budak aku tidak akan melakukan hal aneh-aneh aku memang sedikit marah dengan apa yang kalian lakukan tapi kalian memang memiliki potensi bagus untuk melindungi kerajaan ini, yah... lagipula aku selalu terlibat pertarungan meskipun aku sebenarnya tidak suka bertarung, akan lebih baik jika seseorang bisa menggantikanku juga nanti."


Asetasius mengarahkan ujung pedangnya pada dirinya namun pedang itu hancur karena petir yang mengalir di tubuhnya.


Souma berjalan mendekat lalu berlutut untuk meletakkan tangannya di rambutnya.


Ini adalah hal sama yang dilakukan wanita bertopeng itu pada Asetasius.


"Kau sudah bekerja keras jadi sisanya serahkan padaku, aku yakin meski kau membunuh semua orang rasa kesepianmu tidak pernah terisi lagi bukan, sekarang ikutlah denganku dan cobalah untuk menikmati hidupmu juga."


Berbeda dari wanita itu, perkataan Souma lebih ke arah memintanya untuk tidak membalas dendam.


Tangisan terdengar dari mulut Asetasius.

__ADS_1


__ADS_2