
Noir mengirim serangan balasan dari tangan buatannya untuk menangkap ketiganya dengan kekuatan miliknya, dia melemparkan mereka ke udara layaknya sebuah bola.
Untuk Souma sendiri dia hanya mengurusi para pendeta.
"Anu... tuan, apa mereka akan baik-baik saja?"
"Jangan khawatir mereka sangat kuat, mereka cuma berakting... lagipula orang itu mengatakan dia pilar empat, akan kasihan jika dia kalah tanpa perlawanan."
"Aku bisa mendengarmu sialan," suara Noir memotong.
Souma bisa saja mengalahkannya hanya dengan mata tertutup, namun akan buruk jika semua orang tahu kekuatannya.
Dia berpikir bahwa dirinya akan dipekerjakan sebagai buruh upah yang harus melawan monster atau hal yang mengancam dunia, sungguh itu adalah sesuatu yang sering Souma lakukan saat dia menerima tawaran dari sang dewi.
Di hidupnya yang sekarang dia hanya ingin bersantai dan mencoba menikmatinya dengan kegembiraan.
Walau dia kuat adakalanya dia kehilangan orang-orang yang dikenalkannya bahkan orang yang turut berjuang bersamanya juga di medan perang harus terbunuh secara mengenaskan, itu adalah sesuatu yang didapatkan saat peperangan terjadi.
Singkatnya Souma sudah muak melihat pertumpahan darah di depan matanya.
Risela menebas tangan yang hendak menangkapnya kembali, di saat sama Anna maupun Undine mampu meloloskan diri.
Ketiganya menggerak-gerakkan tangannya menunjukkan wajah kesal.
"Aku sudah lelah mari habisi dia."
"Aku juga berfikiran sama."
__ADS_1
Undine juga mengangguk atas pernyataan keduanya untuk kembali memasang sihir ledakan, meski tidak sebesar sebelumya itu mampu membuat Noir waspada untuk setiap serangannya.
Noir mengumpulkan seluruh tangan iblis miliknya untuk melindunginya, setelah ledakan selesai Risela menebas tangan itu hingga menghilang.
"Sekarang Anna."
"Baik."
Anna mengulurkan tangannya dan dalam sekejap membungkus Noir dengan sihir es. Sebagai sentuhan terakhir Risela mengirim tusukan mengenai jantung musuhnya.
"Bagaimana bisa aku kalah," Noir melirik ke arah Anna dan Risela.
"..."
"Kalian berdua adalah.."
"Kita berhasil."
"Sudah kukatakan bukan."
Di saat para pendeta memeluk Souma senang, Undine, Risela dan Anna menatapnya dingin.
"Sepertinya dia sangat bersenang-senang di sana."
Atas kejadian yang menimpa kultus Dewi Harmonia, kelompok Souma diberikan bayaran atas prestasinya. Semua pendeta yang sebelumnya ditangkap menjelaskan semuanya ke publik dan mulai sekarang tidak akan ada orang yang akan dipaksa untuk bergabung serta semua orang bisa mendapatkan air suci secara gratis dan juga membiarkan kultus Eria juga mendapatkan kebebasannya.
Entah bagaimana semuanya berjalan lancar.
__ADS_1
Beberapa hari setelahnya Souma hanya duduk di mejanya di depan toko selagi melirik Undine yang dengan senang memamerkan tubuhnya.
"Lihat ini, Souma tubuhku sangat indah bukan... dengan ini aku yakin bahwa aku akan jadi Heroin di novel ini."
"Tunggu sebentar, Heroin tetaplah dimiliki olehku."
Anna muncul dan bersikeras akan hal itu.
Tetapi Risela yang hanya mengenakan handuk menyatakan dirinya, dia repot-repot keluar dari kamar mandi hanya untuk menyela.
"Sejak kapan kalian diangkat jadi Heroin, akulah yang pantas... kalian berdua hanya maskot."
"Apa?"
Ketika ketiganya bersikeras Souma hanya menghela nafas, semenjak dia mendapatkan air suci kini kutukan dimiliki pak tua Jean telah tersembuhkan dan dia jauh lebih bersemangat.
Banyak orang yang mendengar bahwa pak tua Jean sekarang lebih aktif dalam kegiatan amal, bagi Souma dia hanya seorang penjual obat di toko sederhana dan di desa sederhana pula, dia tidak ingin terlalu mengetahui apapun di dunia luar.
Ketiga orang merepotkan mengepungnya.
"Neh, neh, Souma menurutmu siapa yang pantas menjadi Heroin?" tanya Undine disusul Risela dan Anna.
"Pasti aku."
"Tidak, aku yang pantas."
"Kenapa kalian malah memperebutkan hal aneh seperti itu," kata Souma lemas dan memutuskan menjadikan ketiganya sebagai Heroin saja.
__ADS_1