
Sementara penyihir rembulan duduk berdoa di depan nisan ibunya, Souma dan Symponia duduk bersama dengan secangkir teh hangat yang beraroma harum.
Itu bukan dari tumbuhan seperti biasa orang buat melainkan dari daun bunga yang difermentasikan dengan cara dikeringkan beberapa lama sebelum diseduh untuk disajikan dengan baik.
"Bagaimana?"
"Seperti biasa teh buatanmu nomor satu."
"Bukannya itu perkataan dari iklan."
"Benarkah?"
Keduanya menyeruput teh lalu Souma menjelaskan kenapa ia membawa penyihir rembulan dan kesepakatan apa yang telah dibuat olehnya. Symponia memiliki wajah sedikit sedih.
"Kalau soal itu harusnya Souma lebih mengandalkanku aku juga siap bertarung."
Tidak, jelas itu ide buruk di mana hutan ini lebih membutuhkan keberadaannya. Souma ingin mengatakan itu akan tetapi dia memilih untuk tidak menyakiti perasaannya dan berkata dengan seharusnya.
"Mungkin lain kali, aku perlu seseorang untuk mencuci piring, merapikan tempat tidurku dan juga memasak makanan enak setiap harinya."
"Bukannya itu artinya aku dilamar... semua pekerjaan itu sama seperti tugas istri."
"Salahku, lupakan yang aku katakan."
Symponia mengembungkan pipinya dan itu mampu menekan emosi Souma jauh lebih rendah.
"Aku minta maaf tapi kau tahu aku belum berfikir untuk berumah tangga atau semacamnya."
"Aku yakin Souma akan memiliki banyak istri dan aku harus meyakinkan bahwa aku berada di posisi satu saat itu terjadi."
"Ka-kau berlebihan dan juga tolong jangan coba-coba meramalku."
__ADS_1
Symponia ahli dalam meramal karena itulah sejak awal dia telah menunggu Souma dalam sebuah bunga teratai dalam waktu lama, ia membenci manusia tapi Souma adalah pengecualian.
Jika dia ingin mengandung, Symponia lebih memilih untuk mengandung anak-anak Souma, itu keinginannya yang dia gantungkan sejak lama saat Souma berdiri di depannya dengan tangan terulur padanya.
Hampir sekelilingnya telah dilahap api yang mengerikan.
"Kau baik-baik saja?"
"Manusia, kenapa kau ada di sini?"
"Aku kebetulan berdagang di sekitar sini dan melihat sebuah kebakaran, mungkin aku bisa membantu sedikit."
"Kalianlah yang membakar hutan ini, mana mungkin kau bisa membantu... jauhkan tanganmu aku tidak perlu bantuanmu."
"Benar-benar keras kepala."
Souma mengarahkan tangannya untuk menciptakan lingkaran sihir raksasa yang mana itu menciptakan awan gelap selanjutnya hujan pun terjadi.
"Siapa kau?"
"Namaku Souma, seorang penjual obat keliling."
Dan saat itulah hati Symponia telah terenggut oleh sosok di depannya yang bersikap acuh tak acuh seperti biasanya dan terkesan pemalas dari siapapun.
Penyihir rembulan yang sudah selesai duduk di kursi dan mengambil teh untuknya sendiri.
Penyihir terdiam beberapa saat sebelum menunjuk ke arah Symponia.
"Ada apa?"
"Teh buatanmu nomor satu."
__ADS_1
"Bisakah kalian memujiku dengan perkataan yang lain."
Keduanya hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya berpamitan dengan ratu para peri.
"Itu sangat sepi saat Souma pergi."
"Jangan khawatir lain kali aku akan datang lagi kemari."
"Janji."
"Tentu saja, atau mungkin kau bisa berkunjung ke tokoku."
"Soal itu?"
"Begitu, sampai nanti."
"Iya."
Souma yakin bahwa Symponia masih tidak bisa membuang kebencian pada manusia, mau bagaimana lagi Symponia sama sepertinya, dia telah banyak kehilangan hal berharga di hidupnya.
Souma dan penyihir rembulan muncul di istana saat Lawyer berlari tergesa-gesa untuk menemui keduanya.
"Souma, kudengar kau berhasil membujuk penyihir rembulan di mana dia?"
"Apa maksudmu? Dia ada di sini."
"Ore... gadis kecil ini, kukira dia gadis hilang.... Uwah."
Sebuah pukulan menghantam wajah Lawyer hingga kepalanya menancap di tembok.
"Aku benci dia."
__ADS_1
Perlu sekali pertemuan saja untuk membuat penyihir rembulan membenci komandan kesatria kerajaan ini, namun diam-diam Souma merasa lega bahwa Lawyer bukanlah Lolicon.