
"Souma aku ingin membelinya?"
Di dalam toko pakaian yang ramai Souma memberikan pukulan karate ke arah kepala Historia.
Dia mengerang kesakitan selagi berguling-guling di lantai.
"Sakit, sakit."
"Jika kau melakukan hal bodoh lagi aku akan memukulmu."
"Tapi aku ingin membeli si mbak ini."
"Anu, saya tidak dijual."
"Sayang sekali kalau begitu hanya beberapa jam saja mari pergi ke penginapan."
"Maaf bocah ini sedikit miring, aku juga khawatir bagaimana nasibnya nanti di masa depan... tapi sebelum itu apa ada sesuatu yang cocok untuk dikenakannya."
"Bagaimana dengan ini? Semua gadis selalu ingin tampil layaknya seorang putri, kami juga menambahkan ornamen mahkota di kepalanya."
"Aku beli itu."
"Aku tidak suka, aku ingin mengenakan pakaian sexy yang menampilkan pahaku."
"Sekali lagi aku mengkhawatirkan nasibnya di masa depan."
"Sepertinya bakal jadi tugas berat."
"Begitulah."
Dengan sedikit memaksa, Souma akhirnya berhasil melakukannya, tak hanya memotong rambut Historia sebahu ia juga membelikannya perisai dan pedang untuknya serta armor besi di bagian atasnya.
__ADS_1
"Sekarang kau terlihat cocok."
"Apa aku akan dikirim ke medan perang Souma?"
"Tidak, aku hanya ingin kau sedikit memiliki pertahanan jika kita diserang."
"Diserang? Apa kau memiliki banyak musuh."
"Sepertinya banyak salah satunya saingan bisnis gereja Harmonia."
"Mereka yang menjual ramuan dengan harga selangit itu kah."
"Kalau bisa kita tidak boleh berurusan dengan mereka."
"Dimengerti."
Souma menyewa kamar untuk tiga hari dimana di dalamnya memiliki dua ranjang terpisah, ia duduk di kursi dan menyadari bahwa bahan untuk membuat obatnya telah habis.
"Aku kehabisan bahan-bahan membuat ramuan."
"Hal itu tidak penting, cepatlah aku sudah telanjang."
"Sudah kubilang aku tidak memiliki hobi seperti itu."
Souma melirik ke arah luar jendela untuk memikirkan sesuatu, jika tidak salah dia ingat ada lokasi bagus untuk mengumpulkan herbal di dekat sini.
Dia bergumam.
"Mungkin aku pergi ke sana saja."
Pagi berikutnya keduanya telah berdiri di luar sebuah gua yang berada tersembunyi di dalam hutan.
__ADS_1
"Apa ini dungeon Souma?"
"Lebih tepatnya hanya gua biasa."
"Gua biasa, percuma aku waspada kalau begitu."
"Ini termasuk gua wisata, kau bisa melihat banyak orang yang datang kemari."
"Banyak wanita cantik juga."
"Usap air liurmu itu, terlebih kau ini gadis kan."
Souma pernah sekali memeriksa jenis kelaminnya dan ia benar-benar seorang gadis. Mungkin ada kesalahan tentang dirinya.
Tidak ingin memikirkannya lagi keduanya berjalan masuk, mereka segera menemukan sebuah air terjun yang membentuk kolam di bawahnya, airnya berwarna hijau indah dengan sekitarnya dipenuhi rumput dan bunga-bunga.
"Bahan ini yang kita akan ambil."
Historia melirik ke arah orang-orang yang berdiri di pinggir kolam selagi melempar beberapa uang receh ke dalamnya.
"Apa yang sedang mereka lakukan?"
"Gua ini disebut sebagai gua permintaan, jika kau melemparkan uang ke dalam kolam selagi berdoa maka permintaanmu akan terkabul."
"Benarkah, aku ingin mencoba untuk mendapatkan banyak gadis."
"Apa kau ini sadar apa yang kau katakan, kau ini gadis juga soalnya?"
"Tak masalah kan? Gadis juga bisa menyukai gadis lagi, yang membuatku bingung adalah dirimu Souma kau ini manusia kah, kau tidak memiliki nafsu walau kau bekerja dengan gadis seimutku kau tidak tegang."
"Kau malah membanggakan dirimu sendiri, cepat bantu kumpulkan tanaman ini atau kau tidak dapat jatah makan."
__ADS_1
"Dasar tirani."