Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 22 : Semprotan Pembersih Kaca


__ADS_3

Mendengarkan penjelasan Souma membuat Astrea tertawa puas.


"Bagaimana bisa seorang ratu iblis yang ditakuti banyak orang ingin bekerja di toko orang sepertimu dan juga Risela akan bunuh diri jika kau menolaknya bekerja di sini, hidupmu pasti sulit."


"Jadi itu yang kau tertawakan."


"Yah, kau tahu... kukira tidak ada yang mau mendekatimu karena sifatmu."


"Bukannya perkataan itu cocok denganmu," balas Souma dengan tatapan bermasalah.


"Hanya itu yang ingin kutanyakan, kalau begitu sampai nanti."


Astrea meninggalkan toko sementara Souma kembali untuk meracik obat-obatan di mejanya.


Dia mencampur beberapa dedaunan lalu menumbuknya di pegilingan batu. Anna dan Risela hanya memperhatikan.


Anna berkata.


"Apa daun ini bermanfaat untuk memperhalus kulitmu?"


"Benar, aku hanya perlu mendiamkannya semalaman dan ini akan menjadi seperti sebuah krim, kalau mau kalian bisa mengambil masing-masing satu buah."


"Bolehkah?"


Souma mengangguk mantap.


Ini adalah produk baru, memiliki beberapa orang untuk mengujinya sesuatu yang dibutuhkan olehnya.


Keesokan paginya keduanya telah mendapatkan krim yang dimaksud, tanpa menunggu lagi entah Anna atau Risela langsung mengoleskannya di wajah.


"Rasanya dingin."


"Benar Risela, aromanya juga seperti jeruk... apa kami harus memakainya seharian?"

__ADS_1


"Kurasa tidak perlu hanya sekitar 10 menit itu sudah cukup atau juga bisa dibiarkan semalaman saat kalian tidur agar khasiatnya lebih terasa."


"Kalau terlalu lama?" tanya Risela.


"Kalian akan bersinar seperti matahari."


"Uwah... aku bisa membayangkan hal itu."


Tidak akan ada seseorang yang mau keluar rumah dengan krim di wajah mereka, Souma yakin tentang hal itu.


Tak lama kemudian madam masuk ke dalam toko.


"Selamat datang," mereka menyambutnya seperti kepada pelanggan lainnya.


"Sepertinya kalian sedang mengenakan sesuatu yang menarik, apa ini?"


"Ini krim untuk memperhalus wajahmu," balas Anna.


"Boleh aku mencobanya."


Souma hanya membiarkan mereka mencobanya sepuasnya, tak lama wanita dari desa semakin bertambah, bertambah dan bertambah hingga dalam sekejap toko menjadi lautan manusia.


Souma diangkat lalu didorong hingga keluar toko dengan posisi terduduk.


"Padahal aku pemiliknya," katanya demikian.


Sampai situasinya tenang Souma memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di sekitar desa, ini bukanlah desa besar atau kota yang dipenuhi berbagai macam pertokoan ini hanya desa sederhana yang memiliki beberapa tempat sederhana juga.


Souma memesan beberapa makanan manis yang terlihat seperti donut atau sejujurnya ini memang toko Donut. Dia mengambil satu untuk dimasukan kedalam mulutnya yang dinikmatinya dengan teh hangat.


"Maafkan aku pelanggan, apa kau baik-baik saja?"


"Apa-apaan pelayanan yang buruk, aku pergi."

__ADS_1


"Tunggu sebentar."


Gadis pelayan berkacamata berusaha terlalu keras hingga dia menumpahkan minumannya ke salah satu pelanggan.


Souma membantunya untuk berdiri.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Terima kasih, ah.. kacamataku sedikit buram."


"Kau sudah mencoba membersihkannya."


"Tentu namun nodanya tidak hilang."


Souma mengeluarkan sebuah botol semprotan dari balik pakaiannya.


"Boleh pinjam kacamatanya."


"Silahkan."


Dia menyemprotkan ke bagian lensa kacamata tersebut lalu mengusapnya dengan kain pakaiannya sebelum memberikan kembali pada gadis tersebut.


"Nodanya hilang, dan rasanya aku bisa melihat semakin jelas."


"Ini adalah semprotan pembersih, apapun yang disemprotan ke bahan kaca akan bersih mengkilap."


"Heh begitukah. Anda pasti Dewa Alchemist yang dirumorkan itu."


"Tidak, aku hanya pemilik toko biasa."


Souma memberikan botol tersebut padanya.


"Ambillah, kalau kau perlu lagi datang lagi ke tokoku."

__ADS_1


"Terima kasih banyak."


Gadis itu tersenyum lebar.


__ADS_2