
Sementara Souma memberikan obat-obatan pada orang yang mengantri, Astrea duduk sedikit jauh untuk memperhatikan.
Souma telah mengambil berbagai gejala dari sepuluh orang pertama, jadi hanya bagaimana mereka mengatakan apa yang mereka rasakan maka Souma akan langsung tahu obat apa yang cocok untuknya, walau terlihat malas Souma adalah seorang genius sesungguhnya.
Astrea selalu bertanya kenapa dia bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan orang lain dengan mudah dan Souma hanya membalas dengan perkataan ambigu seperti 'Pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup dan juga buku terkadang tidak bisa menjawab apa yang kau butuhkan maupun inginkan, selalu ada metode baru untuk memecahkan berbagai persoalan' saat itu Astrea hanya menatapnya sebagai pria sangat tua.
Pria tua selalu memiliki hal seperti kebijaksanaan saat mereka menyentuh umur tertentu atau mungkin malah sebaliknya.
Itu hanya pemikiran sekilas darinya sampai seorang pria paruh baya duduk disampingnya, ia membawa tongkat dan terlihat seperti seorang veteran dari seorang prajurit.
"Hari yang indah bukan nona Astrea."
"Meski ada matahari aku tetap merasa dingin."
"Itu karena kau hanya mengenakan pakaian terbuka."
"Jangan memintaku untuk menutupinya karena tubuh ini adalah pesonaku satu-satunya."
"Itu terdengar aneh bagi pria tua sepertiku."
Astrea mengambil satu kotak rokok dari saku bajunya lalu menarik salah satunya dan mendorong sisanya pada pria di sebelahnya.
"Aku sudah berhenti merokok."
__ADS_1
"Tentu saja, jika kau ingin panjang umur jangan lakukan ini... aku memiliki tubuh kuat bahkan aku tidak merasakan efek apapun saat menghisapnya."
"Jangan katakan itu pada seorang pria yang kau cintai nanti."
"Aku tidak terlalu peduli dengan hal itu," balas Astrea selagi menggunakan sihir api dari ujung jarinya, ia menghisap putung rokok di tangannya lalu mengeluarkan asap dari mulutnya.
Itu jelas bukan pemandangan dari wanita feminim yang ingin dilihat kebanyakan para pria. Pria tua di sebelahnya berkata dengan penuh rasa kagum tapi bukan untuk Astrea melainkan sosok Souma yang jauh di hadapannya.
"Sejak dulu aku kagum dengan tuan Souma, sejak era peperangan ratu iblis dia terus memberikan banyak bantuan dengan menjual obat-obatan pada semua orang dengan harga murah bahkan saat pihak gereja menekannya dia terus melangkah maju ke depan."
"Tidak ada hal yang bisa dikagumi darinya, dia menghancurkan ratusan toko obat di seluruh dunia dengan caranya sendiri."
"Mau bagaimana lagi, mereka semua memanfaatkan perang untuk meraup keuntungan lebih tinggi."
Sementara toko lain harus mencari bahan lewat permintaan guild dan menempatkan mereka dalam bahaya serangan iblis hingga diwajibkan memberikan kompensasi untuk itu dengan bayaran cukup tinggi.
Saat itu hampir semua tempat dikuasai jenderal iblis yang setia pada Anna, Souma tidak berada di pihak manusia ataupun iblis jadi dia membuat pertukaran untuk mereka.
Bahkan jika Souma hanya menjual obatnya di bawah pasar itu masihlah keuntungan besar. Namun untuk para bangsawan dan orang-orang yang berperang Souma selalu meningkatkan harganya agar mereka berfikir bahwa perang hanyalah sesuatu yang bodoh untuk dilakukan.
Astrea mengingat saat dia hidup dengan Souma dalam satu atap, biasanya dia akan berbaring seharian di tempat tidur namun hari itu jelas berbeda. Souma berdiri di depan jendela dengan pakaian rapih di mana ia mengenakan kemeja lengan panjang yang ditutup dengan rompi coklat serta celana panjang.
Saat itu Astrea baru selesai mandi jadi dia hanya mengenakan handuk mini untuk menyembunyikan tubuhnya.
__ADS_1
"Tidak biasanya kau sudah bangun Souma."
Cahaya matahari mengintip dari jendela yang dibukanya dan ia berkata dengan santai.
"Kurasa aku sudah terlalu lama bersantai, aku ingin berjalan-jalan ke berbagai kerajaan dan mulai menjual obat-obatanku."
"Heh... apa yang membuatmu bergerak? Apa kerajaan yang mengusirmu mendesakmu untuk kembali, dan sekarang kau malah melarikan diri."
"Jangan bodoh, aku hanya tidak bisa mengabaikan orang-orang itu."
Astrea hanya menatap Souma dengan pandangan lembut.
"Apa kau ingin melihatku telanjang?"
"Tidak minat."
"Jangan begitu, hora."
Astrea mengunci kepala Souma dengan lengannya sementara Souma sendiri tersenyum masam.
"Jika tugasmu selesai, jangan lupa untuk pulang kembali kemari."
"Aku tahu."
__ADS_1