
Beberapa hari berikutnya Souma duduk di atas batu sementara dua penyihir yang selalu mengikuti Law kemanapun berada tampak mengembungkan pipi mereka.
Keduanya adalah penyihir rembulan Pandora, dan penyihir kasih sayang Marinna.
Keduanya memiliki tubuh kecil jadi mereka berdua tergolong loli.
"Kenapa aku harus ikut denganmu, aku ingin bersama Law."
"Sebenarnya aku tidak keberatan."
"Kalian sudah melihat keadaan penyihir bencana sekarang bukan."
Keduanya melirik satu sama lain sambil tersenyum masam, menyadari apa yang Souma inginkan keduanya hendak melarikan diri namun Souma lebih cepat menangkap mereka layaknya seekor kucing.
"Di dunia ini, sudah tidak diperlukan penyihir sage.. jadi aku akan senang jika kalian memutuskan untuk membuang kekuatan kalian."
"Aku tidak mau melakukannya, aku sudah senang hidup abadi terlebih aku tidak seenaknya mencuri tubuh seseorang, aku hanya mengambil tubuh orang-orang mati saja."
"Aku juga sama, dengan kekuatanku aku bisa membunuh siapapun dengan sebatas perkataan.. lagipula aku hanya membunuh orang-orang jahat."
Souma menghela nafas panjang.
"Bagaimana pun kalian sangat ditakuti, aku tidak bisa menjamin kalian menggunakan kekuatan kalian dengan baik."
"Ini diskriminasi."
Souma menjatuhkan keduanya lalu memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Mari buat kontrak, jika kalian salah menggunakan kekuatan kalian, kalian akan mati dalam sekejap."
Marinna dan Pandora saling menatap beberapa saat. Jika dibandingkan kekuatan mereka yang dihilangkan apa yang ditawarkan Souma jauh lebih baik.
"Kalau begitu aku menerimanya."
"Aku juga."
Dibanding penyihir senja, penyihir dosa dan kecantikan mereka lebih baik.
Souma memunculkan sebuah gulungan kertas yang bertuliskan peraturan yang ditawarkan Souma, apabila dari mereka melanggar, mereka akan langsung terbakar menjadi debu.
"Kami hanya tidak boleh menggunakan kekuatan kami untuk membunuh orang yang tidak bersalah saja bukan."
"Aah, ada kalanya beberapa harus ditangani dengan kekerasan."
"Kau ternyata bisa sedikit bijak Souma."
Marinna dengan cepat mendorong wajahnya ke arah Souma.
"Ada apa? Aku tidak memiliki hobi yang selalu kau lakukan?"
"Bukan begitu, hanya saja aku berfikir apa kau juga bisa mengembalikan keadaan kakakku sedia kala? Sejak dia mencoba untuk menghidupkanku lagi ia selalu menderita dengan kutukan kematiannya, aku ingin paling tidak kakak hidup normal, menikah dengan seseorang dan membesarkan anak-anaknya seperti apa yang dijalani kebanyakan orang, dia selalu kesepian."
Souma menjawab tanpa ragu.
"Tentu saja, aku bahkan akan memberikannya kembali kebangsawanannya dan memintanya melakukan tugas kerajaan yang kedua orang tua kalian lakukan di masa lalu."
__ADS_1
"Aku sangat berterima kasih."
"Jangan memelukku, menjauhlah dariku."
"Tidak bisa, aku mulai menyukaimu sekarang."
Pandora memotong.
"Jadi kita akan pergi ke mana?"
"Aku tidak memiliki tujuan khusus tapi aku rasa kita akan mulai mendatangi di mana pun kabar soal keberadaan penyihir."
"Ide yang ceroboh tapi sepertinya kau juga terlihat melarikan diri dari sesuatu."
"Jika harus dikatakan aku kesulitan saat semua orang di kediamanku memintaku untuk melakukan itu secara bersamaan."
Marinna menutupi mulutnya.
"Kamu maniak juga Souma."
"Jelas tidak," teriaknya.
"Aku hanya perlu waktu untuk beristirahat, jadi anggap saja ini juga liburan untukku."
"Aku mengerti, aku mendengar rumor bahwa penyihir senja akan menyerang Omelas lebih baik kita periksa tempat itu lebih dulu."
"Itu sangat membantu."
__ADS_1
Dan ketiganya segera tiba di sana, tempat itu selalu dikatakan sebagai kota indah yang damai bagai bak di negeri dongeng namun yang ditunjukkan sekarang adalah penuh kematian.
Itu mengingatkan Souma tentang kejadian di benua barat saat orang-orang yang dikenalnya mati secara tragis.