Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 128 : Hal Tak Terduga


__ADS_3

Tak peduli sebanyak apa jumlah musuh yang Souma kalahkan, yang terpenting dari semua itu adalah mengalahkan pemimpinnya yaitu seorang pria dengan rambut panjang ikal serta berdandan layaknya seorang vampir dengan jubah semestinya.


Menghilangkan sosok samurai di belakang punggungnya, Souma berjalan santai selagi membawa katana di tangannya.


Saat pria itu menunjukkan tangan yang memegang kristal sebuah tebasan menghancurkannya selagi memotong lengannya dari bahu.


"Gaahh.... Nani?"


Tangan itu jatuh ke tanah dengan darah yang menyemprot kencang ke udara. Pria itu buru-buru mengambil tangannya lalu menyatukan kembali ke tubuh utama sehingga menempel sedia kala.


"Jadi begitu, pantas saja kenapa konflik empat kerajaan tidak menimbulkan kekacauan parah, jadi semuanya karena kau," ucapnya dengan mata merah yang masih melotot ke arah Souma.


"Kurasa itu benar, aku tidak tahu apa tujuan kalian tapi apa tidak cukup kalian membuat onar, setelah membakar hutan peri dengan cara menghipnotis para manusia kalian juga memusnahkan ras serigala tanpa ampun dan sekarang kalian mencoba untuk membunuh manusia juga."


"Yah begitulah... aku heran kau bisa tahu semuanya."


"Setelah aku tahu bahwa pemimpin kalian bernama Scarlett Evergarden semua hal kini terhubung.. aku berada di tempat itu saat kebakaran terjadi."


"Kau yang menyelamatkan Symponia dan peri yang lainnya... pantas saja aku tidak asing melihatmu, saat itu aku sendiri yang mengawasi semuanya. Kami mencoba menggunakan pion agar mereka menyerang manusia sayangnya yang kudengar ratu peri itu malah memilih untuk mengurung diri dibandingkan balas dendam."


Itu semua juga karena Souma yang menjanjikan untuk membantu membangun kembali hutannya sungguh menyebalkan bahwa Souma berada di titik peristiwa penting terjadi, dia tidak menyesalinya karena berkat dirinya juga para peri tidak ada yang mati karenanya.


Namun, sebagai gantinya sampai sekarang Symponia sangat berhutang budi padanya. Memintanya menikahinya juga merupakan hal yang dia coba lakukan untuk membayar hutang tersebut meski pun perasaan sukanya bukanlah suatu kebohongan semata.

__ADS_1


"Aku tidak perlu bicara lagi, akan kuhabisi kau demi kemenangan para vampir."


Pria itu melesat maju dengan ujung kuku yang mulai memanjang layaknya cakar hewan buas, pergerakannya terlihat cepat namun tidak berada di batas seseorang tidak bisa melihatnya.


Tubuh Souma mengikuti pergerakannya saat dia menyerang di titik buta.


Tubuh Vampir memiliki dua kriteria unik di dalamnya, pertama seperti sebelumnya tubuh mereka bisa menyatu setelah di potong dan kedua bidang pandangan mereka sangat cepat itu membuktikan bahwa ketika Souma mengayunkan pedangnya dalam kecepatan standar pria di depannya bisa menangkisnya.


Pria itu memegang erat kedua bahu Souma lalu dia tarik ke depan untuk menghantamkannya dengan lutut kakinya membuat tubuh Souma terbang ke langit.


Dampak yang cukup kuat sulit untuk di tahan dalam waktu singkat.


"Bagaimana? Inilah kekuatan manusia sesungguhnya kalian manusia kuno sudah tidak dibutuhkan lagi."


"Kau?"


Tanpa terduga Souma telah berada di belakang pria tersebut, dia hendak mengayunkan pedangnya secepat mungkin namun pria itu lebih cepat menghindarinya sehingga hanya satu telinganya saja yang berhasil terpotong.


Dia menutupi darah yang mengalir dari sana selagi memekik kesal, Souma mengayunkan pedangnya di udara yang mana menciptakan bilah angin yang terbang lurus padanya sebelum mengenainya seorang wanita muncul dari lubang portal lalu tanpa bergeming dia menangkisnya lewat pedang miliknya membuat seluruh area di bawah kakinya terpotong membentuk jurang tanpa dasar.


"Benar-benar kekuatan mengerikan."


"Asetasius?" kata pria di belakangnya.

__ADS_1


"Misi kita sudah berhasil, sekarang kita bisa kembali"


"Tapi pria ini?"


"Lupakan saja Dartan, kita bukan lawannya, orang ini benar-benar monster, nona Scarlett bilang beliau sendiri yang akan melawannya jika muncul di hadapannya."


"Aku mengerti."


"Apa kalian mau pergi begitu saja? Jadi misi apa yang kalian telah lakukan."


Keduanya tidak ada yang menjawab pertanyaan Souma dan menghilang begitu saja tanpa kata apapun lagi.


Itu cukup mengecewakan.


Setelah monster yang berjumlah ratusan ribu berhasil dikalahkan. Souma baru menyadari bahwa sihir pelindung yang dia pasang di kota telah hancur seutuhnya sementara itu pasukan yang seharusnya selamat sudah terbunuh dengan mengenaskan.


Setiap jalan dipenuhi noda darah sementara tubuh mereka terpotong dan tersebar ke arah berbeda.


"... Ini terjadi lagi, sial."


Begitulah yang sering dialami Souma, saat dia bertarung digaris depan dia selalu kehilangan apa yang dia lindungi di belakang. Ini juga bagaimana cara seorang yang disukainya terbunuh.


Souma berteriak frustasi sementara Pandora dan Law meliriknya dengan perasaan aneh.

__ADS_1


__ADS_2