
"Kupikir kita bisa menyelesaikan hal ini dengan saling berbicara, apa kau setuju?"
"Hah? Kau pasti bercanda... sebelum aku bisa mencabik-cabik orang-orang di dunia ini, aku tidak akan berhenti."
Lugunica sedikit memucat walaupun dalam wujud pedangnya tidak ada yang dapat melihatnya.
"Apa kau serius ingin berbicara dengannya Souma? Dia itu makhluk kejam loh."
"Apa pedangmu memiliki aura naga yang paling kubenci."
"Aku juga membencimu," balas Lugunica saat keberadaan dirinya disinggung.
"Jelas sekali."
Souma memunculkan sebuah katana di tangannya untuk memblokir penyihir bencana yang secara mengejutkan muncul di depan wajahnya dengan tangan yang berubah menyerupai cakar naga.
Matanya berwarna kuning emas, dengan seringai layaknya monster.
"Saat aku berhadapan dengan orang kuat, membuat darahku bergejolak, hibur aku."
Dia mengayunkan tangannya yang lain melemparkan Souma menembus beberapa rumah dengan ledakan memekakkan telinga.
__ADS_1
"Aku yakin serangan seperti itu tidak akan berpengaruh padamu kan, Souma."
Dia bangun dengan darah menyembur dari mulutnya, dari sekian orang yang dia lawan ia bisa mengetahui serangan penyihir begitu efektif padanya.
"Jadi benar Souma, tanpa kekuatan iblis samurai kau tidak bisa.."
"Yang barusan hanya pemanasan, aku ingin segera menyelesaikan semua ini dan berhenti untuk bertarung."
Bagi Souma ini adalah dunia terakhir yang harus dia selamatkan, setelah selesai dia hanya ingin menjalani kehidupannya yang santai.
Penyihir bencana melesat dengan ledakan besar di bawah kakinya, dia adalah tipe beserker yang bergerak menghancurkan apapun di depannya tanpa kenal takut.
Souma menghindari tebasan cakarnya ke samping selagi memiringkan tubuhnya beberapa derajat ke bawah. Melalui teknik tarikan pedang dia menebas penyihir bencana hingga seluruh bangunan di sekitarnya terpotong-potong.
"Mati kau!"
DOOOAR.
Di detik-detik akhir Souma menggunakan sihir teleportasi untuk berpindah ke atap bangunan.
"Yang barusan hampir saja Souma, hmm.. penyihir bencana tidak mudah dikalahkan tanpa pedangku, sebaiknya kau gunakan aku."
__ADS_1
Souma bisa memperhatikan luka yang perlahan mulai menutup dari tubuh penyihir bencana.
Itu juga didapat dari memakan seekor naga.
"Jadi begitu, apa boleh buat, Lugunica pinjamkan kekuatanmu."
"Kau terdengar seperti terpaksa menggunakanku, tapi inilah yang aku tunggu sejak lama."
Souma menghilangkan katananya dan berganti dengan pedang Lugunica. Tidak ada kesulitan untuk menggunakannya hampir tidak jauh berbeda dengan senjata miliknya.
"Satu serangan tidak cukup untuk melukaimu bagaimana dengan empat."
Empat naga yang seharusnya berada di tiang telah berada di dekat Souma, masing-masing dari mereka membuka mulutnya sembari menembakan nafas api mereka.
Di luar dugaan nafas itu terhisap oleh pedang Lugunica, dan setelahnya Souma menggunakan kemampuan pedang tersebut untuk menyadarkan keempatnya kembali.
Kondisi mereka terlalu lemah jadi dia memutuskan untuk membiarkan mereka berbaring di lantai.
"Jangan pikir kau bisa melakukan segalanya penyihir bencana, apa kau tahu berapa lama aku menyiapkan segala hal untuk mengalahkanmu, kau sudah berani menggangu keluargaku dan sekarang waktunya kau menerima akibatnya," ucap Lugunica penuh emosi.
Souma tidak berpikir untuk memotong ucapan tersebut, dia muncul di hadapan penyihir bencana menebasnya dengan pedang hingga kini giliran dirinya yang terbang menembus beberapa bangunan sebelum menempel di salah satu dinding dengan retakan jaring laba-laba di belakang punggungnya.
__ADS_1
"Aku tahu kehidupan penyihir bukan sesuatu yang baik, meski begitu aku ingin menyelamatkan kalian agar berhenti membunuh."
"Kau berbicara omong kosong, terlebih apa yang terjadi denganmu? Di mana kah niat membunuh yang waktu itu!" teriak penyihir bencana.