Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 244 : Pertemuan Kedua Kalinya


__ADS_3

Inoe dan Evangelista masih bertarung tanpa henti, Evangelista mengayunkan pedangnya dengan gerakan mengecoh untuk memotong tubuh Inoe menjadi dua bagian sebelum tubuh itu menjadi kelopak bunga sakura.


"Kekuatanmu benar-benar menyebalkan Inoe."


"Ini hanya kekuatan biasa."


Inoe telah memegang leher Evangelista dari belakang sementara tangan lain siap menusuknya dari samping.


"Ni No kata, kelopak kematian."


Evangelista tersenyum dan bersamaan itu, Inoe melompat ke belakang. Dia terpaksa melakukannya karena baru saja Evangelista menusukan pedangnya sendiri untuk melukai Inoe.


"Benar-benar keputusan yang ceroboh."


"Jangan khawatir, aku ini sekarang vampir. Hanya menunggu sesaat lukanya akan sembuh."


"Jadi karena itu matamu berwarna merah."


"Inoe kau yakin tidak langsung mengeluarkan seluruh kemampuanmu itu, bukannya dewi Harmonia sedang kesulitan di gereja."


"Aku tidak mengenal Souma tapi aku rasa dia telah pergi ke sana, jadi tak apa menyerahkan padanya untuk sementara waktu... sekarang aku hanya harus mengalahkanmu dengan begitu kau akan menuruti perintahku bukan?"


"Seperti itulah, aku akan menuruti orang yang lebih kuat dariku."


"Kalau begitu bagaimana kalau aku rubah peraturannya."

__ADS_1


Inoe tersenyum dengan ekpresi manis.


"Apa itu?"


"Jika aku menang, aku tidak memerintahmu, aku hanya meminta satu hal yang kuinginkan darimu."


"..."


"Jadilah temanku."


"Konyol sekali, tapi baiklah jika kau kalah kau akan menuruti perintahku."


"Sepakat."


"Bukannya alasan mereka sudah berubah, tadinya mereka berdebat akan pergi menyelamatkan Dewi Harmonia atau tidak, Evangelista berusaha menghalangi Inoe untuk pergi, sementara Inoe ingin mengajaknya pergi bersama-sama menyelamatkan dewi, aku tidak mengerti kenapa jadi begini?"


"Siapa peduli, biarkan mereka melakukan semaunya."


"Ah mungkinkah mereka saling jatuh cinta?"


"Riel sebaiknya kau berhenti mengatakan hal tidak-tidak."


Souma meninggalkan kota Huruhara dan muncul tepat di sebuah perkarangan gereja pusat Harmonia, tidak ada siapapun di sini kecuali sebuah katedral yang sangat megah yang berada di kota eselon.


Saat dia memasuki bangunannya dan berada di ruangan aula luas tampak sosok tengkorak telah duduk di kursi kebesaran. Dia mengenakan jubah putih yang menandakan seorang uskup agung.

__ADS_1


Dia adalah Vanitas.


Jika mengalihkan pandangan ke atas di sana ada seorang wanita bergaun cerah serta berambut ungu panjang yang terlilit rantai di antara kedua tangannya.


Dia Dewi Harmonia.


"Kau cukup berani memperlakukan dewi seperti itu Vanitas?" ucap Souma disusul Lugunica.


"Dia itu memang orang gila."


"Hoh, kalian benar-benar datang, ini pertemuan kedua kalinya untuk kalian berdua.. sang ratu naga Lugunica dan seorang penjual obat Souma, selamat datang di tempatku."


"Sesungguhnya ini bukanlah tempatmu.. kau tidak memuja dewi Harmonia atau menyembahnya, kau hanya penyihir yang merasa sebagai dewa, hanya itu," balas Lugunica.


"Merasa? Haha lebih tepatnya aku memang dewa... aku sudah tahu bahwa Dewi Harmonia selalu mengunjungi kota ini untuk menyapa pengikutnya, berkat bantuan penyihir pendosa Mikela akhirnya aku bisa menangkapnya bukannya ini hebat, aku mengambil kekuatannya lalu memberikannya kepada ke 12 kesatria suci, tapi itu hanya sebagian... kekuatan sesungguhnya telah aku ambil semuanya... Secret From Goddess, Totalis Exitium."


Bersamaan perkataannya tubuh tengkoraknya telah ditutup oleh zirah besi putih dengan enam sayap di punggungnya serta tombak di tangannya.


Sayapnya berwarna putih namun hanya sesaat sebelum berubah menjadi hitam dan kemudian sayap-sayap yang lain berjatuhan di langit.


"Dia tidak menggunakan bayangannya?" tanya Lugunica terkejut.


"Aku rasa dia sudah memberikannya pada orang bernama Javelin, dan aku sudah mengalahkannya."


"Kekuatan seperti itu tidak cocok untuk dewa sepertiku."

__ADS_1


__ADS_2