Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 42 : Hewan Peliharaan Di Toko Dan Kedatangan Tuan Putri


__ADS_3

Souma mengerutkan alisnya saat seekor gurita setinggi 30 cm berdiri di lantai selagi melambaikan satu tentakel.


"Apa-apaan ini? Makan siang kita kah?"


Gurita tersebut hanya mengatakan satu kata saja yaitu namanya.


"Tako, tako, tako."


"Souma jangan menjahili Tako, dia mulai sekarang tinggal bersama kita."


"Eh, kenapa kau memutuskan begitu saja," balas Souma pada Anna yang sedang merapikan potion di rak.


"Kupikir Souma menyukai sesuatu yang imut jadi tidak masalah."


"Kalian pasti menganggap ini rumah kalian sendiri bukan."


Anna hanya tertawa kecil sementara Souma menjatuhkan dirinya di lantai untuk mengangkat gurita ke tangannya.


"Jadi kalian dapat darimana gurita ini?"


"Tako sebelumnya milik Profesor Ban, dia sedang dipenjara jadi tidak ada yang akan merawat Tako karena itu dia memberikannya pada kita."


"Dia memberikannya?"


"Ia juga bilang sebagai permohonan maaf serta ucapan terima kasih karena mengembalikan kondisinya sedia kala meskipun itu berkat guild sih."


"Ah, aku ingat kalian mengatakan bahwa Ban telah dikutuk oleh penyihir rembulan menjadi orang tua, dia sudah menjadi muda lagi rupanya."


Anna mengangguk mengiyakan dan Souma mencoba menurunkan gurita tersebut dari kepalanya.


"Kuharap kalian tidak lupa memberikannya makan dan membersihkan kotak pasirnya."


"Gurita tidak punya kotak pasir mereka akan pergi ke toilet juga."


"Bukannya itu sangat aneh, dia juga hidup di daratan."

__ADS_1


Tepat Souma mengutarakan keanehannya Risela yang kembali dari mengantar obat membanting pintu secara tiba-tiba dan berteriak.


"Gawat, gawat."


"Gawat kenapa Risela? Silahkan duduk dulu aku akan membuatkan teh dulu."


"Ah tolong yah."


Risela duduk dengan elegan selagi meminum teh yang dituangkan Anna, sampai sekarang Souma selalu merasa ada yang tidak beres dengan tingkah laku mereka.


Sementara Tako berdiam diri di kepalanya Souma bertanya.


"Jadi apa situasi gawatnya?"


"Ah, aku lupa... putri Celestrial akan datang kemari, aku tanpa sengaja mendengar dari para penjaga desa."


"Cuma tuan putri, bukannya itu hal biasa... Souma, Souma."


Anna tampak khawatir.


"Perlakuan seperti apa?"


"Perlakuan dimana membuatmu tidak bisa menikah lagi."


"Owh, itu mengerikan."


"Apa yang kau katakan pada Anna."


Souma menarik pipi Risela hingga dia hanya bisa berteriak Awawa.


"Kyau... sudyah.. sadyar."


"Pokoknya aku tidak melakukan apapun yang membuat seseorang di penjara," Souma akhirnya melepaskan tangannya sebelum mendesah pelan dan melanjutkan.


"Aku membuat citra buruk di kerajaan agar raja ataupun tuan putri itu segera mengusirku dari sana. Jika dia datang kemari aku yakin dia punya sesuatu yang merepotkan hingga ingin meminta pertolongan."

__ADS_1


"Kudengar kalau putri menolak lamaran keempat kerajaan meskipun sebenarnya mereka tidak menyerah sampai sekarang, apa hal itu ada sangkut pautnya?"


"Mungkin saja, tidak baik untuk menebak-nebak hal yang belum pasti lebih baik mari sambut kedatangannya saja."


"Aku juga setuju, aku akan menggelar karpet merah di luar serta menyebar beberapa kelopak bunga mawar," kata Risela bergegas pergi sebelum Souma bisa menghentikannya.


Karena dia ingin seperti itu jadi biarkan saja.


Anna bertanya.


"Lalu apa yang harus kulakukan?"


"Tolong siapkan teh saja tapi sebelum itu bisakah kau bantu turunkan gurita ini dari kepalaku."


"Tako."


Meski Anna mencoba menariknya gurita tersebut menempel kuat seolah tak bisa dilepas hingga akhirnya sampai kedatangan putri dia hanya berdiri dengan gurita di atas kepalanya.


Seorang pelayan turun dari kereta untuk bisa membuka pintu, dan dari dalam sana sosok wanita bergaun putih muncul secara perlahan.


Ia memiliki rambut pirang panjang lurus sampai pinggul serta mahkota menghiasinya, walau masih berumur 14 tahun, dia sudah diberkahi dada yang besar serta tubuh ideal dengan tinggi di atas rata-rata.


Saat ia melirik Souma dia tertawa kecil.


"Apa-apaan, ada gurita di atas kepalamu? Apa itu semacam topi atau hal lainnya."


"Tuan putri," pelayan bernama Sebastian memperingati.


Bagi tuan putri semua tindakannya haruslah sopan bahkan jika itu berhadapan dengan pria menyedihkan seperti Souma.


"Ah, maafkan aku... lama tak bertemu tuan Souma, apa bisa meminta waktunya sebentar."


Souma hanya mengangguk ragu saat dia melihat Sebastian memosisikan tangannya di pedang.


Jika dia menolak atau berbicara kasar sudah jelas kepalanya akan melayang dengan mudah, bagaimanapun sebelumnya Sebastian adalah komandan kerajaan sampai akhirnya putranya yang sekarang menggantikan posisinya.

__ADS_1


__ADS_2