
Sudut pandang Pandora.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini tapi yang jelas ini memang sukar untuk dipercaya. Makhluk di belakang Souma yang jelas menyerupai iblis memotong hampir ratusan dari mereka hanya dengan sekali tebasan menciptakan jurang satu kilometer hingga aku berfikir.
Dia memang bukan manusia.
Di sisi lalin Law masih bergerak seperti biasanya, dia mengambil pedang yang digunakan Orc kemudian mengayunkannya untuk membunuh dari mereka dengan cepat.
Tanpa sadar aku terbawa suasana, ini menyenangkan kau tahu? Aku baru pertama kali terlibat dengan pertarungan dimana tiga orang melawan 500 ribu di satu tempat yang sama meksipun aku pernah membunuh satu kota olehku sendiri. Darahku mendidih karena kegirangan karenanya tidak perlu ragu untuk melibatkan diri juga.
Aku memutar pedang di lenganku yang kecil kemudian melemparkannya jauh dari langit, saat itu jatuh dan menghantam tanah sebuah kawah raksasa tercipta dan dari sana sebuah sihir mirip petir menyerbu seperti hewan buas kemudian memotong monster di sekelilingnya dalam satu serangan.
Aku berlari lalu melompat untuk berdiri di atas pedang, monster yang menaruh kebencian padaku menatapku dengan mata merahnya dan tanpa sadar aku menyeringai senang, inilah yang kuinginkan aku memiliki kemampuan yang mengerikan entah apapun yang melihat kilatan di mataku mereka semua akan menurut padaku dan perintah yang kuberikan pada mereka adalah membunuh rekan mereka sendiri hingga dalam sekejap sekitar 5000 monster berada di bawah perintahku.
Membiarkan mereka bersenang-senang sendiri itu curang maka dari itu aku juga tidak pernah lupa untuk memberikan bantuan.
__ADS_1
Aku melompat menebas setiap daging yang kutemui, seekor golem raksasa muncul hendak menamparku dengan tangannya, walau ukurannya sebesar itu bukan masalah.
Aku menebas lengan tersebut lalu bergerak ke bawah kakinya memotongnya hingga dia kehilangan keseimbangan dan saat dia jatuh sekitar beberapa puluh monster di bawahnya tertimpa dengan bunyi memekakkan telinga.
"Ini menyenangkan."
Melihat tingkahku yang kekanak-kanakan Law mengerenyitkan alisnya.
"Aku sudah menduga kau memiliki perilaku buruk."
"Aku memang seperti ini dari dulu.. bukannya menyenangkan saat mereka semua mati."
Aku sekali lagi memperhatikan Souma dan rasanya mataku jelas menipuku sekarang. Iblis di belakang Souma menyarungkan tangannya dan setiap tangan menciptakan bola sihir dari api hitam yang kemudian saat itu dilemparkan itu menghasilkan ledakan yang luar biasa. Tanah berguncang hanyalah salah satu dampaknya, yang lebih mengerikan bola api itu membentuk bola api yang lebih besar setiap monster yang ditabraknya larut dalam api seolah tidak menyisakan tulang terkecil apapun.
Berbeda dariku yang menahan kagum, Law melihatnya dengan ekpresi datar.
__ADS_1
"Yah, itu bagus."
Dia jelas tidak bisa mengukur tingkat kekuatan seseorang, jika menggunakan sihir besar seseorang akan menerima dampak yang besar pula tapi Souma dia hanya berdiri di sana dengan santai dan sesekali menguap bosan.
Orang yang mengerikan.
Aku juga tidak boleh terlena dan melupakan tugasku juga, aku mengambil sisi lain untuk menebas mereka.
Law berdiri di belakangku selagi berfikir.
"Mana yang harus kugunakan pedang ini atau pedang ini. Aku mungkin harus menggunakan keduanya."
Setelah perdebatan dia berlari ke depanku untuk menyerang monster, dia memberikan luka berat pada mereka sementara aku mengarahkan tanganku lalu menembaknya dengan sihir api ringan.
"Uwaah... kenapa kau menembakku juga?"
__ADS_1
"Kau menghalangi buruanku."
Kini aku ragu untuk mengikutinya.