
Menyelesaikan ceritanya, Lugunica tertawa kecil dalam wujud pedangnya.
"Aku tidak menyangka kedamaian yang kubuat benar-benar singkat."
"Menurutku ibu sudah lebih dari sekedar membuat kedamaian."
"Benarkah?"
"Iya, kalau bisa aku ingin mengembalikan ibu sedia kala."
Lugunica hanya diam, sementara Souma menyeruput tehnya. Itu adalah pembicaraan terakhir sebelum mereka berpisah. Souma meletakan pedang Lugunica di punggungnya sebelum berpamitan.
"Tolong jaga ibuku Souma."
"Kau juga jangan terlalu dipikirkan."
Souma meninggalkan kota naga lalu bertanya pada Lugunica.
"Kau yakin tidak ingin menyebutkan bahwa ada cara untuk mengembalikanmu ke tubuhmu sedia kala."
"Haha kau tahu juga Souma."
"Tentu, hanya intuisi."
"Berarti intuisimu sangat tajam, cara itu sangat sulit aku tidak ingin membebani anakku dan mungkin bisa mengembalikan orang-orang yang yang dimakamkan di Sanctuary."
"Kau ingin membebaskan Riel dan Karina dari tugas mereka sebagai penjaga?"
"Um... mereka merasa sangat bertanggung jawab dengan kematian banyak penyihir, mereka ingin kota penyihir yang mati kembali hidup kembali."
"Yap itu impian besar, aku tak masalah untuk membantumu namun, aku banyak sekali hal untuk diurus."
"Kau pria sibuk ya."
"Lain kali aku akan membantumu."
"Aku senang mendengarnya."
__ADS_1
Souma melanjutkan.
"Jadi apa 12 kesatria suci berasal dari generasi sekarang?"
"Tidak, kecuali Erza sisanya masih tetap yang dulu."
"Dari generasi pertama?"
Lugunica mengiyakan lalu melanjutkan.
"Mereka dihidupkan kembali menjadi mayat hidup dengan kekuatan lampion kematian, singkatnya mayat hidup dengan pikiran sama seperti sebuah boneka, saat aku menyerang Vanitas, orang-orang seperti Ferdinand dan Hector berada di sana."
"Jadi begitu."
"Yang kutahu hanya Evangelista, Erza Deo Foland, Javelin dan mereka berdua."
"Sudah lima orang."
"Benar, meski aku berada di dalam pedang ada satu tubuhku yang masih belum menghilang dan aku terus mengawasi keadaan gereja Harmonia."
"Itu kemampuan luar biasa lalu bagaimana dengan dewi yang dikurung di gereja?"
Souma mendapatkan petunjuk yang cukup berguna, namun dia lebih khawatir dengan keadaan tempatnya tinggal, jadi dia menghilang dan muncul di depan pintu toko miliknya.
Saat pintu dibuka situasi terlihat tak berubah, Anna, Scarlett, Risela, Asetasius, Celestrial, Undine, Lilith, Beatrix, Tako bahkan Erina masih menjadi pegawai paruh waktu.
"Souma selamat datang kembali."
"Selamat datang kembali."
Mereka secara bergiliran menyapanya selagi tak luput dari tugas mereka melayani para pelanggan.
"Aku pulang."
"Bisakah kau membantuku, kita kehabisan potion di gudang," kata Anna yang dijawab Souma dengan perkataan ringan "Tentu saja."
Lugunica sedikit memberikan komentarnya.
__ADS_1
"Kamu suka hidup dengan banyak Harem, ini biasa dimana pejantan kuat memang selalu menarik banyak betina."
"Aku tidak bisa berkomentar dengan itu."
Souma membaringkan tubuhnya di ranjang sementara Lugunica dia letakkan di pojokan ruangan.
Ini memang terasa baik-baik saja, meski begitu Souma berniat menanyakannya pada Astrea, ia lebih tahu soal peperangan.
Celestrial mengetuk kamar Souma, saat dia membukanya dia melompat ke arahnya untuk memeluknya.
"Syukurlah bahwa Souma baik-baik saja."
"Celestrial?"
"Aku ingin seperti ini lebih lama."
Souma melirik ke sudut ruangan dan melihat bagaimana semua orang sedang mengintipnya juga, mereka seolah mengatakan cepat lakukan sesuatu ini salahmu.
Karena tekanan kuat itu, Souma memilih menepuk-nepuk punggungnya.
"Terima kasih Celestrial, kudengar kau mengalami banyak hal sulit termasuk mengembalikan hatiku."
"Tak apa, ini semua keinginanku... aku bahkan ingin meminta maaf karena bertindak seenaknya."
"Itu bukan apa-apa."
Semua orang yang mengintip bertepuk tangan.
Risela dengan Tako di kepalanya berkata.
"Mari rayakan kepulangan Souma, mari minum-minum."
"Aku tidak minum."
"Tak apa, untuk Souma jus bayam."
"Ugh.. terdengar membuat mual."
__ADS_1
"Anggap saja sebagai hukuman karena terlalu lama pergi."
"Ini benar-benar sarang Harem, aku ingin bergabung juga tapi kurasa sulit karena dalam bentuk pedang," diantara semuanya ada satu orang yang merasa galau.