
"Api biru?"
"Aku bisa menciptakan berbagai api entah api merah, hitam ataupun ungu."
"Bukannya itu sangat luar biasa, harusnya istana tidak mengusir orang kuat seperti Souma... jika ada Souma dunia pasti akan terselamatkan," atas pernyataan Undine Souma menggelengkan kepalanya.
"Di masa lalu aku telah banyak mengalahkan raja iblis, penguasa jahat serta monster-monster kuat lainnya namun di saat yang sama aku juga banyak kehilangan orang yang berharga... perang tetaplah sama, entah itu kau kuat atau lemah semua hal yang kau kenal akan terenggut begitu saja."
"Mustahil?"
"Jika seseorang bisa memilih untuk bertarung maka seseorang juga bisa memilih untuk tidak bertarung, bukannya akan lebih menyenangkan jika bisa hidup dengan orang yang kau kenal jauh dari pertempuran," perkataan Souma diselimuti kesepian.
Undine hendak membuka mulutnya namun dia akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakan apapun lagi selain memeluk Souma seerat yang bisa dia lakukan.
"Undine aku tidak bisa bernafas."
"Berisik, cepat bawa aku pulang.. aku sangat lapar."
"Kau ini kasar sekali."
Saat Souma menengok ke arah Undine dia sudah menenggelamkan wajahnya dengan tangisan yang dia tidak bisa bendung lagi.
"Aku tidak mau mati, terima kasih Souma."
Souma hanya tersenyum lembut sebagai balasan.
Sekembalinya ke rumah, Anna dan Risela segera memburu Undine dengan sebuah pelukan.
Beberapa saat kemudian Risela membuka mulutnya.
"Syukurlah kau baik-baik saja, karena aku khawatir aku mengambil persediaan kuemu untuk menenangkan diriku."
__ADS_1
"Apa?"
Undine mencengkeram bahu Risela lalu menggoyang-goyangkannya selagi berteriak.
"Kau harus ganti rugi, kue itu sangat mahal aku bahkan tidak mau menghabiskannya sekaligus."
"Tenangkan dirimu Undine."
"Mana mungkin aku bisa tenang."
Anna yang berdiri di samping Souma menyeka air matanya.
"Syukurlah kalian berdua pulang dengan selamat, aku bersyukur uuuueeeeeh."
Anna yang memiliki hati yang lembut tiba-tiba saja menangis hingga Risela maupun Undine buru-buru menghiburnya.
"Aaaaah, bagaimana ini, Anna menangis? Undine lakukan sesuatu."
"Benar, aku juga akan membantu."
Souma berteriak.
"Tunggu apa yang kalian katakan, berikan aku penjelasan yang jelas soal bra itu."
"Karena tidak ada yang muat dengan dada Anna, dia tidak memakainya beberapa hari ini," ucap Risela.
Souma yang mendengarnya hanya bisa memasang wajah bermasalah.
Seharusnya dia menyadarinya sejak awal.
Pagi berikutnya sekitar lima penjahit wanita telah datang ke toko untuk saling bergiliran mengukur tubuh Anna.
__ADS_1
"Maaf merepotkan tapi tolong buatkan baju untuk mereka juga sekaligus ********** juga."
"Kami mengerti."
Setelah Souma mengatakan itu pada para penjahit, ekpresi Risela dan Undine yang selama ini duduk di pojokan dengan ekpresi suram kembali tercerahkan.
Pada akhirnya bayaran Souma dari mengalahkan pilar keempat telah raib dalam sekejap, dia akhirnya harus bekerja kembali.
Seminggu berikutnya.
"Selamat datang di toko Dewa Alchemist, apa yang bisa kami bantu?"
"Itu, namaku Lulu... aku membutuhkan racun serangga... perkebunan kami diserang banyak hama."
"Ah, kamu pasti berasal dari luar desa."
Gadis kecil bernama Lulu mengangguk mengiyakan atas pernyataan Anna.
"Tolong tunggu sebentar aku akan panggilkan Souma."
Beberapa saat kemudian Anna muncul bersama Souma.
Souma menggaruk kepalanya seolah sudah mengetahui apa yang terjadi.
"Biar aku menanyakan satu hal, hama itu memiliki ukuran seberapa besar?"
"Itu sekitar 5 meter."
"Sudah kuduga, maaf nak tapi racun serangga tidak dapat mengalahkannya."
"Eh?"
__ADS_1
Souma telah mendengar desas-desus tentang keberadaan belalang raksasa, dia sudah menduga jika suatu hari akan ada seseorang yang menemuinya.