
Pada akhirnya para pelayanlah yang mengambil tempat untuk mencoba merawat pak tua Jean, sementara Souma menunggu di luar pekarangan Undine sedang menggali tanah dengan cangkul yang dia dapat entah darimana.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Souma mengerenyitkan alisnya.
"Aku sedang membuat kuburan untuk pemilik mansion ini, tapi aku tidak tahu ukurannya jadi kubuat sedikit lebih besar."
"Kau? Sudah kubilang dia belum mati."
"Ini hanya jaga-jaga, tak masalah kan... ini pertama kalinya aku berbuat baik jadi biarkan aku melakukannya."
"Sebenarnya hidupmu seperti apa selama ini?"
Menanggapi sosok Undine yang seenaknya saja, Souma memilih membiarkannya saja. Walau dia seorang wanita dia pandai menggunakan perkakas di tangannya. Souma pikir dia sangat berbakat jadi tukang gali tutup lubang ke depannya.
Tak lama salah satu pelayan yang menyambut Souma sebelumnya muncul dengan tatapan ikan mati.
"A-apa yang dia lakukan?" suaranya tergagap-gagap.
"Katanya dia ingin berbuat baik."
"Tidak... dia merusak perkarangan dan juga apa itu sebuah kuburan?"
"Aku hanya membuat persiapan."
Souma langsung memegangi pinggang pelayan tersebut dan mencoba menenangkannya.
__ADS_1
Setelah tenang pelayan menjelaskan.
"Pak tuan Jean memiliki penyakit yang Souma sebelumnya lihat, selama ini beliau menggunakan obat-obatan untuk menahan sakit namun sayangnya karena terlalu sering menggunakannya kini obat tersebut telah kehilangan kemampuannya."
Setiap obat memang memiliki efek samping jika dikonsumsi sangat lama, namun Souma lebih tertarik soal penyihir yang mengutuk pak tua Jean.
Sejauh ini Souma belum pernah mendengar hal ini secara langsung.
Si pelayan membuka mulutnya dan mulai menjelaskan.
"Apa tuan Souma pernah mendengar nama penyihir rembulan?"
"Tidak, bagaimana denganmu?" Souma mengalihkan pertanyaan tersebut ke arah Undine yang masih menggali.
"Aku pernah sekali mendengarnya kudengar dia mengasingkan diri karena ditolak oleh seorang pria.. aku tidak tahu kenapa dia sampai segitunya?"
"Benar seorang pria itu adalah tuan Jean, saat itu tuan Jean menolaknya sangat kasar, mengatakannya jelek serta buruk rupa hingga dia marah lalu mengutuk tuan Jean seperti sekarang."
Setelah mendengar itu Souma memiliki ekpresi sulit.
"Jika kutukan itu tidak bisa dihancurkan kenapa tidak pak tuan Jean minta maaf padanya agar kutukan tersebut dihilangkan."
"Tuan Jean sudah melakukannya sayangnya penyihir tersebut."
"Jangan bilang dia sudah meninggal?" kata Souma mendahului.
__ADS_1
"Tidak, dia sedang berlibur dan keberadaannya belum ditemukan lagi"
"Apa?"
"Souma apa lubangnya sudah dalam?"
"Kau diam saja dan juga sudah kukatakan dia belum mati."
"Jika begitu bukannya kalian bisa pergi ke kota suci Harmonia... hal kutukan mereka jelas bisa melakukan sesuatu," sambung Souma.
Si pelayan menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan.
"Gereja di sana memiliki peraturan ketat, jika kau bukan seorang penganut sang dewi mereka tidak akan dilayani."
"Itu berlebihan."
"Sayangnya itulah kebenarannya... di Dunia ini hanya dua dewi yang mengelolanya yaitu Dewi Harmonia dan juga Dewi Eria. Dewi Harmonia dinyatakan sebagai agama nasional karena Itulah bagi para pengikut Dewi Eria mereka tidak akan dilayani."
"Bukannya itu aneh."
"Bukan lagi aneh, kudengar mereka memaksa orang-orang untuk bergabung dengan kultus Harmonia."
"Entah kenapa itu terdengar menakutkan?" Souma merinding, syukurlah dia memiliki Dewi yang dia percayai yang mana dewi yang sebelumnya mengirimnya ke berbagai dunia lain.
"Apa benar tuan tidak memiliki obat untuk menyembuhkannya?"
__ADS_1
"Sayangnya begitu, yang namanya kutukan hanya bisa dihilangkan dengan ramuan suci, aku akan pergi ke kota suci Harmonia dan mencoba mendapatkan satu untuk Pak tuan Jean, tapi tidak usah terlalu berharap."
"Terima kasih banyak."