
Pemilik tanah terkejut mendapati bahwa Souma kembali dengan wanita yang berbeda dari sebelumnya kendati demikian dia bisa mengetahui bahwa ketiganya merupakan wanita berbahaya khususnya wanita berambut perak dengan dada segede gaban.
"Anda memperhatikan dadaku terus, rasanya sangat memalukan, ngomong-ngomong aku bisa menghasilkan susu 1 liter perhari."
Firasatnya memang tepat.
"Lupakan orang ini, dia seperti ini sejak lama."
"Nyonya tolong bersikap seperti nyonya bangsawan."
Souma menanggapinya dengan wajah lelah.
"Hutan Demon sudah bukan hutan berbahaya lagi, kami sudah mengalahkan penyebabnya dan kini petualang bisa melakukan aktivitasnya sedia kala."
"Aku benar-benar berterima kasih, aku seharusnya membayarnya juga."
"Tidak perlu, seperti pernjanjian tolong berikan semuanya pada petualang yang sebelumnya ingin ikut serta."
"Aku mengerti."
"Dan satu lagi, di manakah kami bisa pergi ke menara Babel?"
"Menara itu kah?"
Si bangsawan menggaruk dagunya seolah menerawang ke dalam ingatannya.
"Aku pernah mendengarnya sejak kecil, itu berada jauh di wilayah Utara dari tempat ini, kebanyakan semua orang akan mengatakannya bahwa tempat itu hanya rumor."
"Kenapa?"
"Walau semua orang pergi menara yang dimaksud tidak pernah ada."
__ADS_1
"Kurasa itu juga sudah cukup."
Souma, Eris, Rosalin dan Lugina berjalan ke tempat yang dimaksud. Mereka beristirahat di sebuah desa kecil yang mau meminjamkan salah satu kandang untuk mereka tempati.
Para wanita di sebelah kanan dan Souma di sebelah kiri terhalang kayu.
"Nah Eris, kenapa kau melibatkan diri juga dalam hal seperti ini? Aku tidak yakin dengan jawabanmu sebelumnya."
"Pria yang tidak percaya benar-benar merepotkan... Di menara Babel itu ditinggali seorang dewi, jika itu menyangkut dewi sudah tugasku untuk terlibat."
"Apa ia yang merubah beberapa manusia menjadi penyihir."
"Bisa dibilang begitu."
"Alasannya?"
"Lebih baik untuk menanyakannya secara langsung dibanding mendengarnya dariku."
Pagi berikutnya Souma bisa bangun secara normal, ia melirik ke arah para wanita itu tidur dan mereka jelas berada di posisi berantakan.
Mungkin bagi Souma ini pertama kalinya dia melihat tiga wanita bisa tidur nyenyak di tempat seperti ini.
"Pura-pura saja tidak melihatnya," gumam Souma dalam hati.
Mereka mengambil sarapan di kedai lalu kembali melanjutkan perjalanan. Eris mengatakan banyak dalam perjalanan walaupun sejujurnya itu hanya cerita tentang ikan dan ikan.
Rosalin memegangi kepalanya.
"Hentikan, aku tidak ingin mendengar soal ikan lagi... aku sudah mendengar cerita itu, cerita ayah ikan yang berusaha menemukan anaknya yang diculik penyelam."
"Heh, tapi ini masih awal... masih ada cerita lainnya juga."
__ADS_1
"Tuan Souma tolong kemari?"
Mengikuti panggilan Lugina ia menemukan beberapa orang telah terkapar di pohon, mereka adalah pengikut Fram yang terdiri dari.
Wanita rambut hijau serta tanduk di kepalanya, Ariana.
Wanita rambut keabuan mengenakan blazer akademi, Rui.
Dan yang terakhir pria berambut hitam dengan pakaian elegan serta memakai sarung tangan hitam Marvelas.
Ketiganya tidak sadarkan diri.
"Apa kamu mengenalnya?" tanya Rosalin.
"Mereka adalah pengikut Fram, aku hanya bertemu dengan mereka satu kali di kota naga."
"Begitu."
"Apa sebaiknya aku sembuhkan mereka?"
"Salah satunya ras iblis, bukan lagi sembuh, sihir suci Eris bisa melenyapkannya."
"Mari gunakan potion saja."
Souma mengeluarkan tiga botol ramuan yang masing-masing dimasukan ke dalam mulut mereka.
Kesadaran mereka perlahan mulai kembali.
Ariana berbisik pada Souma.
"Hati-hati pada kabutnya."
__ADS_1
"Kabut?"
Dari kejauhan tampak sebuah kabut tebal berwarna merah muda telah datang layaknya sebuah gelombang tsunami.