
Hersefone tertawa.
"Kemampuanku benar-benar menumpul."
"Apa kau sudah mau menyerah?"
"Ini masih bagian awalnya."
Hersefone tiba-tiba saja masuk ke dalam tanah, merasakan firasat buruk dia segera membebaskan Rosalin, Lugina dan juga Eris hingga bersamaan itu tanah menyembur ke udara.
Itu memang firasat yang tepat, di dalam tanah sekitar lebih dari 50 cacing yang menyerupai ular telah muncul.
Eris berkata.
"Hanya ada satu yang benar-benar Hersefone, saat kita menemukannya penggal saja kepalanya."
"Diterima."
Semua orang serempak berlari maju, tidak seperti pertarungan sebelumya mereka harus menggunakan sihir berskala besar.
Ledakan terjadi di mana-mana khususnya saat masing-masing kepala tersebut menembakan bola hitam, Rosalin dan Lugina membuka jalan diikuti Eris dan terakhir Souma.
Sekitar lima kepala meluncur pada mereka, Lugina mengambil peran pertama, dia merubah dirinya menjadi seekor naga lalu menahan semuanya, Rosalin menggunakan punggungnya sebagai pijakan untuk mengatasi kepala yang lainnya disusul Eris yang menancapkan tombaknya di salah satu kepala lalu mengulurkan tangannya.
"Souma!"
Souma menerima uluran tangan tersebut, dengan kekuatan kuat Eris melemparkannya jauh ke atas dengan kecepatan tinggi.
Sejak tadi hanya satu kepala saja yang tetap berada di belakang yang membuat semua orang yakin bahwa ia merupakan keberadaan dari Hersefone.
Souma menyarungkan kembali pedangnya, ketika jaraknya menyempit, dia menariknya hingga sebuah kilatan terpancar kemudian kepala makhluk tersebut jatuh ke bawah.
Tubuh makhluk lainnya mulai melebur menjadi serpihan debu hitam sedangkan kepala yang dipenggal Souma telah berubah kembali sosoknya menjadi Hersefone.
Eris tak menunggu lagi ia menjerat sosoknya dengan tali.
"Lepaskan aku, aku tidak mau."
"Jangan khawatir kami sekarang akan mengurungmu di alam dewi, di sana kau bisa bebas melakukan apapun tanpa takut dirubah jadi batu, sesekali aku akan menemanimu minum teh."
"Ugh."
"Bagaimana soal penyihir?" tanya Souma demikian.
"Setelah dewi ini dibawa ke alam dewi kutukannya akan ikut ditarik juga, sekarang siapapun yang memilikinya akan kembali sedia kala dan mati layaknya manusia pada umumnya, lihat itu."
Eris segera menunjukkan menara Babel yang mulai roboh, di depannya terbaring dua orang yang menghancurkannya.
"Banyak hal yang terjadi pada keduanya, seharusnya lebih baik kita pergi."
Rosalin dan Lugina turut mendekat lalu mengangguk mengiyakan, tugas mereka telah selesai dan setelah berpamitan hanya Souma yang tetap berada di sana untuk mendekati Fram.
__ADS_1
Dia menarik pedangnya hendak menusuknya namun ia memilih untuk menyarungkannya kembali.
"Tidak kau lakukan?" suara samar itu berasal dari Fram.
"Percuma saja, meski aku membunuhmu tidak akan ada yang berubah."
"Begitu, yah aku senang bahwa aku melakukan hal baik sekarang."
Fram melirik ke arah pria di sampingnya yang masih tak sadarkan diri.
"Orang ini?"
"Aku bertemu dengannya dan entah kenapa dia seperti suamiku yang sebelumnya, kebetulan dia juga penyihir dan hidupnya lebih sulit dibandingkan aku."
"Begitu, jadi itu alasanmu malah lebih memilih untuk menyelesaikan hal ini, kau menyukainya?"
"Bisa dibilang begitu."
Fram menunjukan senyuman miliknya yang sesungguhnya.
Bagi Souma keduanya kini hanya manusia biasa.
Dia berbalik untuk berjalan pergi.
"Aku akan memanggil rekanmu yang lain."
"Kau melepaskanku?'
"Sebelumnya kebahagiaanmu direbut oleh orang lain dan sekarang aku tidak ingin merebutnya kembali."
"Kurasa dia benar-benar pahlawan," gumamnya dalam hati.
Beberapa Minggu berikutnya di toko Souma seperti biasanya, ia sedang merapikan botol-botol ramuan yang baru saja dibuatnya sampai sosok dewi berdiri di depannya dengan penampilan aslinya.
"Tidak biasanya toko ini sepi."
"Semua orang sedang mempersiapkan festival yang sebentar lagi digelar di kota ini."
"Begitu."
Sang dewi mulai memperhatikan toko yang jauh lebih besar dari yang dia ingat.
"Beberapa istrimu sedang hamil selamat untuk itu."
"Mereka baru menginjak bulan awal."
"Masih tersisa banyak waktu sebelum menjadi ayah kan."
Sang dewi mengambil ramuan di rak paling depan lalu meminumnya.
"Itu hanya sebuah ramuan untuk memulihkan stamina saja."
__ADS_1
"Untuk dewi aku akan memberikan diskon."
"Kamu meminta bayaran padaku," perkataannya dibuat semengejutkan mungkin.
"Tentu saja cuma bercanda."
Sang dewi berdeham.
"Seperti perjanjian kita, aku akan mengabulkan satu permintaanmu setelah tugasmu selesai, jadi silahkan sebutkan keinginanmu? Jika kamu ingin tinggal di alam dewi aku bisa melakukannya."
Souma menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa aku sudah memiliki apa yang kumiliki sekarang."
"Kalau begitu aku yang tidak merasa puas."
Sang dewi mengembungkan pipinya, ini pertama kalinya dia bertingkah seperti gadis kecil pada umumnya.
Souma menimbang-nimbang apa yang dia inginkan sampai akhirnya membuka mulutnya.
"Bagaimana permintaanku adalah untuk dewi datang sesekali kemari dan kita minum teh bersama."
Mendengar itu sang dewi tertawa.
"Itu jelas bukan permintaan yang sulit tapi aku akan mengabulkannya, sebaiknya kamu bersiap bahwa aku juga akan mengundang dewi yang lainnya."
"Aku harap itu bukan Eris?"
"Terlambat dia akan selalu ada."
Souma tersenyum kecil saat dewi yang dikenalnya telah menghilang, ini bukanlah perpisahan jadi dari keduanya tidak ada perkataan selamat tinggal ataupun salam perpisahan lainnya.
Noreen masuk ke dalam toko dengan sedikit ekpresi marah.
"Apa yang kau lakukan di sini Souma, kau juga harus membantu kami."
"Apa hari ini aku bisa libur?"
"Tentu saja tidak, Bread malah paling banyak membantu... paling tidak kau tidak boleh kalah darinya."
"Baik-baik."
Noreen menarik tangan Souma lalu berlari pelan ke arah pintu yang bersinar terang, ketika sinar matahari mulai memudar di depan matanya ia bisa melihat seluruh istrinya melambaikan tangan padanya beserta pelayan yang dikenalnya.
Symponia terlihat senang walaupun sebenarnya dia juga dipaksa datang.
"Sepertinya masih banyak yang harus aku lakukan setelah ini."
"Jangan bertingkah malas lagi dan sebaiknya kamu mulai berhenti bertarung."
"Tentu saja, aku mungkin satu-satunya pahlawan dari dunia lain yang tidak suka bertarung."
__ADS_1
Noreen tersenyum kecil dan keduanya berlari bersama.
Tamat.