
Risela sedang mengupas apel di tangannya sementara penyihir rembulan sedang bermain batu kertas gunting dengan Tako lewat sebuah papan gambar.
"Souma kau mau, ini buah yang mampu melarangmu untuk pergi ke surga."
"Jangan sodorkan padaku, aku tidak menerima buah hasil nyolong di kebun tetangga kalau begitu."
"Aku cuma bercanda, ini aku dapat dengan uangku."
"Kalau begitu aku menerimanya."
"Hey penyihir bulan kau mau juga."
"Aku ingin Souma menyuapiku."
"Sejak kapan kau seperti itu?"
"Bukannya di sini kalian selalu memainkan permainan seperti itu, aku juga tertantang untuk mencobanya."
"Tolong jangan seperti mereka terutama seperti Risela."
"Seperti aku? Aku ini contoh teladan."
Sementara penyihir rembulan mendekat untuk membuka mulutnya, Souma memasukan potongan apel ke dalamnya, tak berhenti di sana penyihir rembulan menjilat jari Souma hingga keseluruhan adegan itu tampak erotis bagi sebagian orang.
"Apa kau menyukainya Souma?"
"Maaf saja tapi aku bukan Lolicon."
"Sayang sekali walau mulutku kecil aku bisa memasukan yang lebih besar ke dalamnya."
Penyihir rembulan membenamkan wajahnya di meja, selagi memutar-mutar satu jarinya di sana.
"Kalau begitu jika denganku tidak masalah bukan."
"Jangan lakukan itu."
__ADS_1
Souma menolak pernyataan Risela sebelum melanjutkan ke arah penyihir rembulan.
"Ngomong-ngomong penyihir rembulan, bisakah kau menceritakan asal usul kalian, tidak ada buku yang membahas tentang kalian?"
"Souma tertarik dengan hal itu kah? Aku tidak bisa membicarakannya di sini tapi jika Souma masih mau mendengarnya aku bisa menyediakan satu tempat di pesta teh para penyihir."
"Pesta teh para penyihir?" entah Souma dan Risela mengulang pernyataan itu.
"Benar, naga Suci Lugunica sudah tidak ada dan sebagian penyihir mungkin merencanakan sesuatu yang buruk untuk dunia ini, saat kau mengikutinya aku yakin kau akan mengetahui segalanya."
"Bagaimana jika aku ikut?"
"Kecuali Souma aku tidak yakin orang lain bisa hidup setelah datang ke sana... kami penyihir bukan orang baik, kami ini sesuatu yang ditakutkan siapapun hingga memanggil nama kami sudah cukup membuat seseorang menggigil, fakta bahwa kalian bisa berhadapanku seperti ini juga bukanlah hal normal."
"Benarkah? Tapi aku merasa biasa saja."
"Souma... sepertinya kau belum menjelaskannya."
Souma terdiam sesaat sebelum membuka mulutnya.
"..."
Mendengar pernyataan Souma, wajah Risela memucat, tubuhnya gemetaran hingga dia harus menutup mulutnya. Ada perasaan mual dan menjijikkan meski begitu Risela menahan dirinya sekuat tenaga agar seluruh isi perutnya tidak keluar, ia merasa terlalu naif dengan memperlakukan penyihir seperti manusia biasa namun pada dasarnya mereka adalah sesuatu yang terkutuk.
Risela menyadari sesuatu di dalam hatinya walaupun itu sudah terlambat, meski dia terlihat seperti gadis kecil dengan wajah imut dan cantik, dia tetaplah penyihir yang merupakan sebuah eksistensi dari kekejian dan ketakutan.
Bagaimana itu bisa menipunya.
Penyihir rembulan tersenyum ke arahnya seolah tidak terganggu dengan reaksi tersebut.
Meskipun.
"Maafkan aku."
"Jangan khawatir, itu reaksi yang normal saat mendengar penyihir.. aku sudah terbiasa dengan itu, mungkin kau sekarang berfikir untuk membunuhku.. jika kau mau kau bisa menarik pedangmu lalu memenggal kepalaku."
__ADS_1
Takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut, takut.
Risela menggumamkan hal itu dalam pikirannya hingga keringat membasahi seluruh tubuhnya.
Dengan tangannya yang gemetaran dia hendak meraih pedangnya seperti yang dikatakan penyihir rembulan namun Souma menghentikannya dengan tangannya.
"Tenanglah Risela dan juga penyihir rembulan bisakah kau hentikan permainan ini."
"Aku terbawa suasana," balasnya dengan senyuman.
Wajahnya jelas tidak menunjukan penyesalan, jika Risela menarik pedangnya bukan kepala penyihir rembulan yang akan terpenggal melainkan kepala dirinya sendiri.
"Lihat kan, hanya Souma yang mampu menahannya."
Risela mengatur lagi nafasnya yang tersengal-senggal seolah dia telah berlari cukup lama. Tako bahkan segera bersembunyi di dekat Risela dengan wajah yang serupa.
"Kau yakin memberitahukan semuanya pada Risela."
"Tidak masalah aku pikir itu cukup membantunya saat bertemu penyihir, terkadang seseorang lupa untuk melarikan diri saat bertemu penyihir dan saat mereka menyadarinya itu sudah terlambat."
"Meski begitu itu cara yang kasar."
Di depan pintu itu Souma hanya bisa melihat Risela membeku. Karena musim dingin telah menghilang penyihir rembulan akan kembali ke kediamannya.
Dia tidak suka salju adalah fakta yang tidak bisa disangkalnya. Di masa lalu orang tua penyihir rembulan mati saat musim dingin. Sejak itu musim dingin adalah hal yang selalu dilewatkan penyihir rembulan.
"Aku permisi, saat pesta teh digelar aku akan menghubungi."
"Tentu, sampai jumpa."
"Iya."
Masih banyak misteri dalam sebuah acara yang disebut pesta teh tersebut namun Souma memilih untuk tidak membahasnya lebih jauh.
Pesta itu mungkin adalah awal atau akhir dari dunia ini, dalam situasi terburuk dia harus membunuh seluruh penyihir yang hadir bahkan jika itu termasuk penyihir rembulan yang dikenalnya.
__ADS_1