
Di Sanctuary kedua pendeta penjaga makam sedang menggali kuburan seseorang, mereka secara bergiliran melakukannya hingga didapatkan sebuah peti mati yang mereka bisa tarik ke atas permukaan tanah. Peti itu terbuat dari kaca sama yang digunakan untuk menyimpan tubuh Lugunica.
Di dalamnya adalah seorang wanita dengan kimono putih polos serta Obi berwarna kuning cerah, kulitnya putih salju dan ditunjang dengan tubuh yang proporsional.
Ia memiliki rambut putih panjang yang diikat ke samping dan wajah tampak awet muda, seseorang akan selalu berfikir bahwa dia seperti sebuah boneka cantik yang berasal dari negeri dongeng, namun dia juga menyimpan rahasia besar di dalamnya.
Orang yang membunuh kesatria suci untuk pertama kali bukanlah Riel ataupun Karina, melainkan sosok di dalam peti ini, semua ini adalah rencananya yang melibatkan Riel dan Karina sebagai kambing hitam.
Kenapa dia melakukan sejauh itu? Karena dia adalah utusan Dewi Harmonia sendiri bernama Inoe Sakuya, dia memiliki nama yang sama seperti Souma dan terlahir di negara yang sama itulah bagian terkecil untuk mengenalinya.
Demi menanggulangi yang akan terjadi ia membuat skema tersebut namun di luar dugaannya semuanya berjalan tidak semestinya, hingga dia harus berada di Sanctuary terlebih sekarang dewinya terperangkap di gereja Harmonia.
Peti mati dibuka hingga kedua matanya perlahan terbuka menampilkan mata bintang berwarna biru cerah.
"Kalian berdua kah, berapa lama aku tidur?" tanyanya.
"Hmm mungkin cukup lama," balas Riel dan Karina juga mengangguk mengiyakan.
"Kalian pasti melupakanku kan."
__ADS_1
Inoe segera merangkul leher kedua pendeta tersebut.
"Kami bukan lupa hanya saja kami menunggu waktu yang tepat dan sekarang adalah waktunya."
"Hmm, yah... jika kalian bilang begitu apa boleh buat."
Keduanya menjelaskan situasi yang terjadi menciptakan senyuman di wajah Inoe yang bertepuk tangan sekali.
"Jadi begitu, orang bernama Souma kah... seharusnya aku mengucapkan terima kasih padanya tapi sepertinya ada yang harus aku urus dulu di sini."
Tepat saat Inoe mengalihkan pandangannya di sana berdiri sosok yang sudah dikenal semua orang.
Dia mengambil jalan dari kota Omelas.
"Lama tidak bertemu, sudah kuduga kau memang berada di sini."
Riel dan Karina mengeluarkan sabit di tangan mereka namun Inoe segera menghentikannya.
"Dari awal aku sudah tahu bahwa tidak mungkin dua pendeta di sana bisa mengalahkan kesatria suci dengan mudah, aku yakin bahwa kau yang membantu mereka."
__ADS_1
"Kenapa kau begitu yakin? Bukannya mereka dihidupkan lagi, kau bisa bertanya langsung bukan."
Evangelista menunjukan lampion di tangannya dan dengan mudah dia hancurkan. Itu adalah alat yang bisa membangkitkan orang mati dan dia menghancurkannya dengan mudah.
"Kau memiliki sihir untuk menghilangkan ingatan, aku tidak akan pernah lupa dengan itu."
"Riel bisa aku mendapatkan senjataku."
"Baiklah."
Riel memberikan sebuah katana dengan desain yang sederhana kepada Inoe sebelum mundur dengan Karina untuk melihat dari kejauhan saat Inoe dan Evangelista saling berhadapan.
"Kau dan aku sama-sama memuja dewi Harmonia, kau tidak mungkin bisa terpengaruh oleh Vanitas. Aku seorang yang dikirim oleh Dewi Harmonia sudah sepantasnya aku melayani beliau dan menghancurkan orang yang bermain-main dengan kultusnya, lalu bagaimana denganmu Evangelista?"
"Aku sudah mengetahui apa yang terjadi karena itulah sekarang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."
"Jadi begitu, kau hanya akan mendengarkan orang yang kuat bukan."
Evangelista menunjukan senyuman seperti biasanya sementara Inoe tahu bahwa dia jelas sedang bimbang.
__ADS_1