
Sore hari Souma duduk di kursi saat Anna datang untuk memberikannya secangkir teh.
"Silahkan tuan."
"Tapi ini air putih?"
"Tidak ada teh untuk orang yang bermalas-malasan."
"Bukannya perkataanmu sangat kejam meskipun kau memanggilku tuan barusan... dan kau harusnya mengenakan ekor dan telinga kucing."
"Tidak, tidak, aku tidak mau melakukannya meksipun Souma membayarku dengan harga tinggi tubuhku harus tetap suci."
Souma memasang wajah bermasalah tepat saat Risela datang untuk memotong.
"Bagaimana kalau aku saja?"
"Tidak usah," Souma bereaksi cepat untuk itu membuat Risela terduduk lemas selagi terengah-engah.
"Sungguh luar biasa, mantap."
"Mantap apa coba."
Pada sore hari toko berubah menjadi sepi demi menghilangkan kejenuhan mereka mencoba memerankan naskah pertunjukan panggung yang baru-baru ini terkenal di ibukota, tentu bagian di mana Anna menolak dan Risela seperti itu sama sekali tidak ada.
Souma menampar naskah di tangannya selagi berkata.
"Apa orang-orang di ibukota sangat menyukai cerita seperti ini, bukannya mencurigakan saat mencoba membaca judulnya... Teriakan malam pelayan yang bergairah."
"Aku juga setuju dengan Souma.. harusnya pertujukan seperti itu dicekal."
Orang yang membawa naskah menyipitkan mata sebelum mendesah pelan untuk melanjutkan.
"Ini bukan naskah mencurigakan, jika kalian berdua membacanya sungguh menyentuh hati, bagaimana bisa pelayan itu menerima segala perlakuan tuannya."
"Dan di sini tuannya mati dibunuh lalu dimasukan ke dalam sumur, entah kenapa ceritanya jadi horor."
__ADS_1
"Sudah wajar kan, tuan itu terus mencoba merayu si pelayan hingga dia tidak kuat lagi dan menusuk tuannya selagi berteriak -teriak, karena itulah judulnya teriakan bergairah."
Itu bukan sesuatu yang Souma pikirkan, ketika mereka bertiga asyik berdebat, pintu toko mereka terbuka secara mendadak. Orang yang menerobos masuk adalah seorang staf guild bernama Ira.
Ira memiliki penampilan seperti wanita kantoran dewasa dengan rok ketat serta rambut biru sebahu, nafasnya terlihat tersengal-sengal seolah dia tengah mengikuti lomba lari.
"Ada apa?" tanya Souma.
Ira menarik nafasnya sekali untuk menjelaskan.
"Undine dalam bahaya, beberapa petualang yang menjelajahi dungeon.... mengalami kendala di pertengahan.... jalan saat itu Undine kebetulan di sana dan mengalihkan perhatian monster untuk menyelamatkan... mereka. Huah."
Walau perkataannya sedikit tidak jelas ketiganya bisa mengerti apa yang dimaksud, Anna mempersilahkan Ira untuk duduk di kursi.
"Souma?"
Saat mereka mengalihkan perhatian ke arah Souma dia sudah menghilang dengan sihir perpindahan.
"Walau tidak tampak, Souma sangat mengkhawatirkan kita," ucap Risela disusul Anna.
"Begitulah... aku tidak tahu tapi sepertinya Souma terlihat seperti seseorang yang telah kehilangan banyak orang berharga."
Souma telah muncul di depan dungeon untuk kedua kalinya, pertama saat insiden para monster dan sekarang dia tak menyangka harus datang kemari lagi.
Tanpa memikirkan apapun Souma berlari masuk ke dalam, ketika beberapa monster muncul di depan matanya dia bergerak semakin cepat untuk melewati mereka.
"Undine di mana kau?" teriaknya.
Ada beberapa jejak pertarungan yang bisa Souma lihat, berbeda dengan di luar sihir ledakan tingkat atas tidak terlalu berguna di dalam sini meski begitu jika ledakan kecil hal itu masih bisa dilakukan.
Setiap dungeon ditempati bebatuan bercahaya bahkan saat Souma semakin berjalan masuk kegelapan tidak ada sama sekali.
Dia akhirnya menemukan Undine yang sedang bersandar di batu dengan kaki dan tangan terluka.
"Souma?"
__ADS_1
"Mulai sekarang jangan datang ke tempat berbahaya."
"Lihat ini, aku dapat tanaman herbalnya," balas Undine tersenyum kecil.
"Kau sama sekali tidak mendengarku."
"Aku dengar... tapi.."
"Menjadi petualang bukan berarti kau harus ke tempat berbahaya seorang diri."
"Aku tidak pernah memiliki anggota party jadi hal seperti ini sudah wajar bagiku."
Souma menghela mafas panjang lalu memberikan obat penyembuh.
Selama ini Undine telah berjuang sendirian bahkan saat dia masih berwujud gadis kecil, berbeda dengan orang lain yang bisa dikelilingi banyak orang hingga membentuk party, Undine hanya seorang gadis kesepian tanpa teman.
"Bisa berjalan?"
"Sepertinya itu sulit hehe."
"Orang bodoh mana yang masih tersenyum saat situasinya sulit, naiklah aku akan menggendongmu."
"Aku akan menyusahkanmu."
"Itulah gunanya teman saling menyusahkan satu sama lain."
"Souma? Perkataanmu kurang tepat."
"Cepatlah."
Souma menggendong Undine tanpa kesusahan.
"Kau sangat kuat Souma."
"Berhentilah berbicara sampai kita pulang."
__ADS_1
"Um."
Puluhan monster muncul tepat di keduanya, mata kiri Souma bersinar terang mengeluarkan api berwarna biru hingga bersamaan itu mereka semua terbakar menjadi debu.