
Sekali lagi Souma memeriksa kristal tersebut.
Sesuai dugaannya ketebalan serta bagaimana itu dibuat sangatlah luar biasa, sihir biasa tidak mungkin bisa menghancurkannya dan jika pun itu berhasil kristal tersebut akan kembali sedia kala.
Terlepas bagaimana itu dibuat, sosok gadis di dalamnya terlihat sangat damai.
"Dia cukup menawan bukan?"
"Iya, jadi selama ini aku hanya menemui kloningnya. Kenapa dia melakukan hal ini?"
"Yang kudengar, semua ini demi mencari Chimera yang telah membunuh orang tuanya menurut ibuku masa lalu penyihir tidaklah baik."
Stelfania menengok dengan tatapan sedih lalu melanjutkan.
"Penyihir kematian pun sama, saat itu dia dan adiknya hidup di jalanan dan hanya bertahan hidup dari belas kasihan orang banyak, saat itu adiknya meninggal karena kedinginan dan akhirnya dia menggendongnya ke berbagai tempat untuk menemui dokter agar bisa menyelamatkannya namun orang yang meninggal berapa kali pun diperiksa tidak akan pernah kembali hingga akhirnya dia menciptakan sebuah sihir untuk menghidupkan orang mati sayangnya yang berada di tubuh adiknya itu bukanlah adiknya yang asli melainkan sosok yang lebih menakutkan dari iblis hingga akhirnya dia sendiri yang membunuhnya dan saat itu siapapun yang mendekatinya dia akan mati tanpa syarat."
Souma hanya terdiam tanpa bisa mengatakan apapun lagi hingga dia bereaksi akan sesuatu yang datang secara tiba-tiba, Stelfania pun merasakan hal sama.
Singkatnya ada penyusup.
Keduanya segera berlari ke arah alun-alun dan melihat tiga orang di tambah sebuah peti mati telah berada di dekat sebuah pedang yang menancap di lantai.
Dua wanita bertanduk dan satu pria yang terlihat mengenakan pakaian rapih.
"Kita ketahuan, tapi sayang sekali kalian terlambat."
Pria itu menarik pedangnya lalu memamerkan bilahnya sambil memutar-mutarnya di telapak tangannya.
"Siapa kau?" tanya Stelfania yang dijawab oleh pria tersebut sambil mengayunkan pedang ke arah rantai yang melilit peti tersebut.
"Namaku Marvelas seorang yang melayani dewa jahat dan juga disebut pemimpin dari pilar."
Souma mengerutkan alisnya saat rantai itu jatuh ke bawah dengan mudahnya, ada aura gelap yang keluar dari sekitarnya namun orang yang keluar dari sana jelas lebih gelap lagi.
__ADS_1
"Tidurku pasti sangat lama."
Dari suaranya itu seorang wanita, bukan wanita biasa, wanita itu mengenakan pakaian pendeta hitam yang terlihat ketat dengan rambut pirang dengan mata melankolis.
Saat ia melirik ke arah Souma dia menyeringai senang selagi menyentuh pipinya dengan wajah memerah.
"Heh, aku merasakan kekuatan tak biasa darimu, apa kau penyihir, bukan. Penyihir Sage yang kubentuk harusnya semuanya wanita," sementara wanita itu mengatakan hal aneh ketiga orang yang membebaskannya hanya berlutut kepadanya.
"Dan kalian?"
"Kami bertiga sebuah organisasi yang disebut pilar, aku pemimpinnya, dan mereka pilar pertama dan pilar kedua."
"Jadi kalian yang mengeluarkanku, kalau begitu aku sangat berterima kasih.. akan kuberikan apapun yang kalian inginkan sebagai pembayaran."
Hampir suara wanita itu penuh dengan erotisme.
"Kami hanya ingin melayani anda, dewa jahat, tolong ijinkan kami tetap bersama Anda."
"Dewa jahat hanya perkataan orang-orang aneh itu, panggil saja aku nona Fram."
Wanita bernama Fram kembali mengarahkan mata kuning emasnya pada kedua orang di depannya.
Stelfania membeku di tempat bahkan hanya dengan kehadirannya, itu cukup membuat kakinya gemetaran.
Jika situasi semakin berbahaya, Souma tidak ragu untuk bergerak, namun di saat yang sama tanpa disadari semua orang kristal di dalam perpustakaan telah retak dan hancur hingga gadis yang berada di dalamnya telah berada di depan Stelfania tanpa mengenakan pakaian sedikipun.
Rambut peraknya tertiup angin ketika dia menatap sosok Fram dengan kilatan mata tajam.
"Ara Pandora... kau juga ada di sini, lama tak bertemu. Sungguh disayangkan kau dan penyihir kematian malah mengurungku di peti mati ini."
"Lama tak bertemu ibu asuh, kehadiranmu seperti biasa sangat memuakkan."
"Kau masih kejam seperti biasanya."
__ADS_1
Seribu orang yang terlihat seperti penyihir rembulan telah berada di langit dan bersiap menyerangnya.
Fram memunculkan sebuah senapan di tangannya.
Itu dikatakan sebagai senjata kuno yang telah menghilang sejak lama, Souma pernah membaca hal serupa di suatu buku tertentu.
Dia menodongkan senjata itu pada kepalanya sendiri lalu menarik pelatuknya selagi menyeringai.
"Bonjour."
"Kau?"
DOAR.
Dia menembak kepalanya sendiri hingga tubuhnya terhempas ke samping.
Apa itu artinya dia bunuh diri?
Di saat yang sama seluruh kloning penyihir rembulan berjatuhan ke bawah dengan luka yang sama yang terjadi pada Fram. Tak hanya mereka seluruh penduduk kota naga juga mengalami hal sama kecuali orang yang berada di dekat Fram.
Dia bangkit selagi tersenyum penuh gairah.
"Kematian sangat indah bukan."
Stelfania yang menyadari apa yang terjadi hanya berlutut lemas dengan wajah pucat, semua orang yang dikenalnya telah mati hanya dengan waktu sekejap di waktu bersamaan.
Anna dan Celestrial mengalami hal sama.
"Mustahil?"
Penyihir rembulan tak tinggal diam dia hendak menerjang maju namun tubuhnya tertahan sebuah sihir yang tak terlihat.
"Aku baru bangkit jadi kekuatanku sepenuhnya belum pulih, kalau begitu mari bertemu lagi suatu hari nanti Pandora... kalian bertiga?"
__ADS_1
"Kami mengerti."
Mereka meninggalkan pedang tersebut lalu menghilang dalam sebuah kegelapan.