Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 115 : Perkampungan Dwarf


__ADS_3

"Selamat datang, kau?"


Souma sedikit terkejut saat mendapati seorang Dwarf muncul di tokonya, Dwarf adalah ras kurcaci yang selalu menenggelamkan dirinya dalam pekerjaannya, karena kesukaannya mereka cenderung tidak keluar dan selalu menghabiskan waktunya di wilayah tempat tinggalnya, mengingat tempat ini jauh seorang Dwarf tidak akan repot-repot pergi ke toko Souma.


Dwarf dengan jenggot coklat itu berkata.


"Apa aku bisa bertemu dengan dewa Alchemist?"


"Aku bukan dewa tapi kurasa seorang memberikan julukan itu padaku."


"Syukurlah kalau begitu."


Risela dan Anna diam-diam mendengarkan di belakang mereka saat kurcaci tua itu melanjutkan.


"Tiba-tiba saja penduduk kami berjatuhan karena wabah aneh, mereka cenderung tak bisa bernafas dan sesak di bagian dada, bisakah aku menerima obat untuk itu."


Itu gejala yang pernah Souma tahu ketika Astrea membawanya berkeliling ke tempat lain, dalam kasus yang sama.


"Apa mungkin saat pagi hari banyak kabut putih?"


"Kami tinggal di bawah gunung tapi kurasa belakangan ini kabutnya semakin tebal."


"Ini berbahaya."


"Apa mungkin penduduk desa tidak akan selamat."


"Bukan, perkampungan Dwarf dalam bahaya."


Souma mengalihkan pandangan ke arah Anna dan Risela hingga keduanya mengangguk lalu menyiapkan cukup banyak potion yang nantinya dibawa Souma. Undine yang baru masuk ke toko tiba-tiba saja ditarik olehnya.


"Eh, ada apa ini?"

__ADS_1


"Besok kau luang bukan."


"Begitulah."


"Kalau begitu ikut aku, aku pikir kau bisa meledakan sesuatu."


"Baru kali ini aku diminta meledakan sesuatu olehmu... apa orang jahat?"


Souma mengangguk mengiyakan dan hanya menunggu waktu sesaat untuk mereka muncul di perkampungan Dwarf melalui sihir teleportasi milik Souma.


Seharusnya itu menghabiskan waktu lebih dari empat hari lewat kereta namun hanya beberapa detik mereka sudah pulang.


Pimpinan Dwarf tampak terkejut hanya saja di depannya lebih membuatnya terkejut dimana seluruh bangunan tempat tinggalnya telah rata oleh api, tidak ada tanda-tanda siapapun di sini kecuali pria berambut pirang yang berdiri bersama gadis kecil berambut perak.


Pria itu membawa sebuah taring di punggungnya jadi semua orang tahu bukan dia pelakunya, menyadari kedatangan mereka pria itu berbalik untuk menunjukan senyuman masam.


"Kau komandan kesatria itu," ucap Undine namun tidak ada yang membalasnya dan lebih masuk ke pembicara intinya.


"Entahlah, saat kami datang hal ini sudah terjadi."


Pandora atau yang dikenal sebagai penyihir rembulan tersenyum dan berkata.


"Sepertinya mereka meracuni penduduk di sini, membakar tempat ini lalu mencuri seluruh senjata yang kalian para Dwarf buat."


Tidak perlu memikirkan terlalu jauh siapa pelakunya, jelas mereka adalah tiga raja yang Law sedang cari selama ini.


Senjata Dwarf sangatlah kuat bahkan diantaranya bisa mengalirkan sihir penggunaannya dan meningkatkannya beberapa kali lipat.


"Ini mustahil," ucap pemimpin Dwarf.


Souma memeriksa sekitar dan yakin satu hal, semuanya telah mati, tidak.. masih ada beberapa yang hidup.

__ADS_1


Dia berlari ke sebuah bangunan yang runtuh, mengangkatnya dan menemukan seorang ibu yang memeluk anaknya, anaknya selamat sementara ibunya dalam masa kritis.


Dia berteriak ke arah yang lain.


"Ada seseorang di sana, di sana dan di dalam sumur cepat selamatkan mereka dan kumpulkan."


"Aku mengerti."


Souma mengambil botol potion lalu meminumkannya pada wanita malang tersebut dan dalam sekejap dia telah siuman untuk memeluk anaknya, dia kemudian memeriksa orang yang lain.


"Sesuai yang diharapkan darimu yang selalu berada di medan perang, kau bisa mengatasinya."


"Bukan waktunya untuk memujiku penyihir rembulan."


"Panggil saja Pandora."


"Apa yang kau lakukan di sini dan kenapa kau bersama Law?"


"Kenapa yah? Coba tebak."


"Kau berniat membunuhnya lalu menjadikan organ tubuhnya sebagai bahan ramuan."


Pandora tertawa.


"Itu terlalu kejam, aku hanya tertarik dengannya aku pikir jika pergi bersamanya akan banyak hiburan yang menarik."


"Penyihir memang haus hiburan."


"Benar sekali, dibandingkan kita dia lebih bercahaya kau tahu."


Souma hanya tersenyum masam sebagai balasan.

__ADS_1


__ADS_2