
Di sebuah ruangan tertutup dimana dihadiri oleh keempat raja mereka duduk dengan gembira di mana hanya sebuah kursi bundar yang memisahkan keempatnya.
Pertama seorang pria dengan rambut pirang panjang yang terlihat arogan bernama Lugional Extratime yang sejak tadi hanya diam mendengarkan lawan bicaranya berbicara saja.
"Dengan kita bergabung, kita akhirnya bisa mengambil alih kerajaan Diamond lalu membaginya diantara kita berempat haha itu bukannya ide yang bagus bukan," suara itu berasal dari pria dengan rambut merah bernama Asteroth Alman.
Sementara di sampingnya pria yang gemar melihat dirinya sendiri di cermin berkata.
"Meski dibagi tetap saja kerajaanku yang harus mendapatkan bagian paling lebih, aku yang lebih banyak berkontribusi akan hal ini."
"Itu tidak bisa, Raider Callvan.. bagaimana pun kita sepakat untuk membaginya sama rata, benarkah Derby Irshide."
"Aah, mereka telah menolak lamaran putra kita sudah sepantasnya hal ini dilakukan."
Lugional, Asteroth, Raider serta Derby tampak sangat menikmati apa yang mereka rencanakan namun saat mereka menyadarinya semua hal itu telah terlambat, saat mereka dibanjiri tawa seorang pria berbaju armor berat masuk membanting pintu.
Dia adalah jenderal yang telah melakukan tugasnya di luar kerajaan dan kembali setelah mendengar bahwa keempat kerajaan menyatakan perang melawan kerajaan Diamond. Dia mengebrak meja dengan emosi marah.
"Apa yang telah kalian lakukan, apa kalian sudah gila menyerang kerajaan Diamond?"
__ADS_1
"Tenanglah dulu jenderal, ini semua akan menjadi kemenangan kita.. mereka hanya kerajaan kecil," ucap Asteroth sementara Lugional yang selalu memandang rendah melanjutkan.
"Apa kau takut, menyedihkan sekali jenderal dari kerajaan kami sedikit lebih berani."
"Aku tidak peduli apa yang kalian ingin bilang padaku tapi kalian sudah melakukan kesalahan besar, di kerajaan itu ada seorang yang tidak harusnya kita lawan."
Mendengar bagaimana jenderal itu ketakutan mereka berempat semakin tertawa seolah mereka mencibir seluruh tindakan serta perbuatan yang dia tunjukkan sebagai balasan untuk mereka.
"Jika maksudmu pahlawan Risela Lockhart kekuatannya tidak terlalu besar, memang benar dia berperan penting saat melawan ratu iblis Anna tapi sisanya semuanya berkat bantuan kita juga bukan."
Jenderal itu menggelengkan kepalanya, jelas sekali ekpresinya jauh dari seorang yang mencoba berbohong atau main-main, wajahnya pucat bahkan keringat dingin telah menjalar ke wajah dan punggungnya.
"Bukan dia yang aku takutkan tapi orang bernama Souma."
"Dia tukang obat."
"Apa? Cuma tukang obat toh."
Jenderal itu berteriak hingga suara raja itu terdiam, normalnya jika seorang jenderal membentak atasannya ia sudah patut menerima hukuman mati tapi melihat bagaimana ekspresi yang ditunjukkannya keempat raja langsung terdiam seolah terbawa oleh suasana yang mencekam.
__ADS_1
"Kalian tidak tahu apa-apa, orang itu sangat berbahaya... saat peperangan, aku dan pasukanku pernah satu kapal dengannya, saat kapal kami memasuki tengah lautan seekor Leviathan muncul untuk menyerang kapal kami, semua orang ketakutan bahkan sihir tidak bekerja padanya hanya dia yang sangat tenang saat itu."
Jenderal itu terdiam lalu melanjutkan.
"Di hadapan Leviathan pria itu hanya menggaruk kepalanya selagi menguap lebar, dia hanya bilang.. berisik sekali, padahal aku sedang tidur, bisakah kau kembali nanti saja dengan nada malas, manusia apa coba itu, tidak ada orang yang bersikap santai dalam bahaya kecuali bahwa dia merasa kekuatannya lebih dari musuhnya."
Keempat raja menelan ludahnya, bahkan Lugional yang selama ini tak tertarik ikut dalam pembicaraan.
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu, semua itu sangat cepat.. aku hanya tahu ada sebuah pedang aneh di tangannya dan selanjutnya Leviathan itu telah terpotong-potong dengan sangat mengerikan, dia pasti menebasnya melebihi apa yang bisa dilihat mata orang lain terlebih mata pria itu berwarna hitam dengan pupil merah itu mengisyaratkan dia bukan manusia, semua orang yang melihatnya bahkan gemetaran."
"Kau berlebihan, mungkin dia hanya beruntung."
"Aku yakin sekali, mulai sekarang aku mengundurkan diri.. permisi."
Jenderal itu melangkah pergi tanpa sepatah katapun.
"Dia hanya berlebihan jangan didengarkan, mungkin otaknya ada yang salah mari minum lagi."
__ADS_1
"Benar, bersulang untuk kemenangan kita."
"Bersulang."