
Walau hari sudah malam Souma tidak pernah berisitirahat, dia terus menjatuhkan setiap naga tanpa henti dan ketika matahari terbit ia baru menyelesaikan semuanya.
Souma menatap matahari yang baru mengintip dari balik gunung dengan perasaan lega.
"Kurasa sudah semuanya, mari pergi ke hutan roh."
"Souma apa kau sadar dengan apa yang barusan kau lakukan?"
"Aku memukuli naga."
"Bukan itu, kau baru mengalahkan satu kota naga secara penuh. Kau bahkan bisa langsung disebut raja naga, jika itu Souma aku tidak keberatan jika bersanding di sebelahmu."
"Aku tidak tertarik jadi raja naga atau apapun itu."
"Harusnya kau menerimanya saja, setelah kau melihat tubuhku kau tidak akan bisa menahannya."
"Ngomong-ngomong Lugunica, bagaimana penyihir bencana bisa mengendalikan para naga?"
"Soal itu ada sangkut pautkan dengan kekuatannya. Dari semua naga yang kuingat ada satu naga yang bisa mengendalikan naga lainnnya, aku yakin bahwa dia telah memakan naga tersebut."
"Bagaimana kau yakin?"
"Aku tanpa sengaja menemukan tulang berulangnya, itu hanya kemungkinan saja lagian aku juga tidak yakin tae-hee."
Souma menjatuhkan bahunya lemas, bagaimana orang seperti ini jadi pemimpin naga.
Ia menggunakan sihir teleportasi dan muncul bersama tunggangannya ke hutan peri, di sana Symponia tampak cemberut.
"Apa-apaan ini suamiku, aku sudah bilang aku tidak suka sembarang orang masuk ke dalam hutanku."
"Aku minta maaf soal ini, namun aku tidak bisa memikirkan tempat yang cocok selain tempat ini," jawab Souma menunjukkan penyesalannya.
Symponia mendesah pelan.
__ADS_1
"Apa boleh buat, tapi aku minta hadiah."
"Hadiah? Tentu saja, apa itu."
"Kita sudah menikah bukan."
"Iya, lalu?"
"Aku ingin melakukan itu."
"Siang hari."
Symponia secara agresif menarik kerah Souma ke tempat sepi.
"Biarkan aku tidur dulu."
Pedang Lugunica diberikan pada naga yang sebelumnya telah banyak membantu perjalanan.
"Souma, sepertinya kau memiliki pertarungan yang lain yang harus dilakukan kurasa."
"Tidak apa, staminanya sangat kuat jika mau kau juga bisa ikut bergabung."
"Apa yang Anda katakan."
"Taruh saja aku di pohon itu, kau bisa kembali dalam kelompokmu lalu terima kasih atas bantuannya."
"Sebuah kehormatan untuk bisa membantu Anda."
Lugunica di dalam pedang mencoba untuk menghubungi dua wanita kembar yang berada di Sanctuary, walau dia berusaha keras ia jelas tidak bisa menghubungi keduanya.
"Seperti yang kuduga, dari sini sulit untuk menghubungi mereka."
Menyadari bahwa apa yang dilakukannya sia-sia, Lugunica memutuskan untuk tidur dan ketika bangun itu hampir menjelang sore hari.
__ADS_1
Ia tidak bisa menemukan Souma jadi mungkin dia masih bersenang-senang.
"Mari tunggu sebentar lagi."
Baru keesokan paginya Souma mengambil Lugunica.
"Souma, kau.. rakyatku dan keluargaku dalam bahaya kau malah menghabiskan waktu dengan istrimu, apa kau tahu betapa aku khawatir?" teriaknya.
"Istriku itu semuanya monster."
"Apa maksudnya itu?"
"Mungkinkah kau baru bisa tidur dari kemarin?"
Lugunica menatap Symponia yang tersenyum senang dengan efek bunga di sekelilingnya.
"Sepertinya aku salah menilaimu, apapun itu berjuanglah."
"Jadi suamiku, kamu akan pergi lagi?"
"Aah, masih banyak yang harus dilakukan... bahkan aku sudah cukup lama tidak kembali ke rumah."
"Mereka mungkin lebih merindukanmu dibandingkan aku."
"Aku hanya bisa meminta maaf nanti, kalau begitu aku pamit."
"Tolong berhati-hatilah."
Souma mengangguk kecil lalu menghilang dan muncul tepat di alun-alun kota naga, dia bisa melihat beberapa tiang ditempatkan di sana dengan orang-orang yang dikenalnya di ikat di atasnya.
Itu meliputi Silguard, Stelfania, dan si kembar Raina dan Rania, mereka anak-anak Lugunica.
Seseorang tampak berdiri di antara seluruh tiang selagi menyeringai.
__ADS_1
"Kau lama sekali Souma, aku hampir bosan loh."
Dialah penyihir bencana Endaemonia.