Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 216 : Guru Dan Mantan Murid


__ADS_3

Sebastian menghentakkan kaki untuk melesat maju, dia mendorong dirinya dengan kecepatan tinggi sembari memutar pedangnya dari belakang untuk memberikan gaya tusukan.


Erza menggunakan dua jari dan menahan pedang tersebut lalu menggunakan dua jari berbeda dari tangan lain untuk menyerang.


Tebasan cahaya melesat dan hanya meleset sedikit dari wajah Sebastian hingga keduanya menjaga jarak, Erza adalah seorang yang kuat mungkin dia satu-satunya yang bisa menggunakan teknik pedang tanpa pedang.


Sebastian mengakui hal itu hanya saja, seberapa kuat dirinya jika seseorang telah jatuh pada kegelapan, tidak ada hal bagus yang bisa diraihnya.


Sebastian memberikan sihir penguatan untuk menciptakan petir di seluruh tubuhnya.


"Akhirnya kau serius juga, di kerajaan ini kau dijuluki si petir emas aku ingin tahu seberapa cepat dirimu."


"Kau akan tahu secepatnya."


Dalam sekejap mata Sebastian telah berada di belakang Erza yang terkejut, dia mengayunkan pedang untuk memenggal kepalanya namun Erza menyadarinya di detik akhir dengan menundukkan kepalanya. Saat dia memberikan serangan balasan, Sebastian telah menghilang dan muncul kembali di tempat berbeda.


Ujung pedang yang tajam melukai bahu Erza, dia mengayunkan tebasan dari jarinya namun Sebastian lagi-lagi tidak berada di tempatnya.


Erza mengalihkan pandangan ke samping selagi menyeringai.


"Baguslah, kekuatanmu memang kuat... ini akan menarik."


Dia berlari ke arah Sebastian, tepat dia menjatuhkan jarinya itu menciptakan jurang raksasa yang membelah satu bangunan, Sebastian muncul di atas Erza sembari mengayunkan pedang secara Diagonal.


Erza menghindarinya meski demikian itu sedikit memotong pakaiannya hingga darah merembes darinya, dia melompat ke belakang menahan topinya lalu bersalto selagi memberikan tebasan melalui jarinya.


"Percuma saja."

__ADS_1


Sebastian telah muncul di belakangnya, mengayunkan pedangnya yang mana sedikit melukai lehernya. Jika itu lebih dalam Erza sudah jelas kehilangan kepalanya.


Erza menekan garis tipis di lehernya untuk menahan darah agar tidak keluar selagi tersenyum.


"Jadi begitu, kau begitu cepat namun aku sudah tahu rahasia kemampuanmu itu."


Tepat saat Sebastian kembali menghilang, Erza telah mengambil pasir di tangannya kemudian melemparkannya ke wajah musuhnya.


"Apa?"


Sebastian dengan panik menjauh namun sebuah tendangan menghantam perutnya membuatnya terlempar sejajar dengan tanah.


Erza berjalan selagi membetulkan topinya.


"Karena kau terlalu cepat kau harus menggunakan matamu untuk berpindah tempat, sayang sekali jika aku sudah tahu trik yang digunakkan, itu bukan hal sulit untuk mengalahkanmu."


Meski kondisi Sebastian terluka parah dia terus berdiri dan mencoba mendengarkan pergerakan melalui suara nafas serta langkah lawannya


Keduanya saling memberikan serangan kuat, beberapa tubuh Erza tergores tapi tidak mengancam nyawanya. Di sisi lain Sebastian mengalami kesulitan yang mengerikan.


"Guakh."


Jari Erza telah menembus tubuhnya layaknya sebuah pedang, dia menendang tubuh Sebastian hingga terkapar di tanah.


"Kau memang mantan guruku, jika aku tidak diajari olehmu sangat sulit untuk mengalahkanmu bahkan setelah kehilangan penglihatan kau masih bisa bertarung."


"Sial, aku tidak akan membiarkannya kau mengambil gerbangnya."

__ADS_1


Sebastian mati-matian untuk bangkit namun seperti sebelumnya dia hanya harus menerima rasa sakit, tepat saat Erza hendak memenggal kepalanya seorang turun dari langit selagi mengayunkan pedangnya yang mana membuat Erza melompat ke belakang.


Erza memanggil nama orang yang melakukannya.


"Lawyer von Hoster."


Law menunjuk tatapan kebencian sebelum beralih pada ayahnya.


"Ayah kau."


"Sudahlah, ambillah ini.."


Sebastian memberikan kunci pada Law sebelum melanjutkan.


"Di bawah istana ada gerbang, hancurkan itu."


"A-aayah."


Dengan tarikan nafas terakhir tangan Sebastian terkulai lemah.


"Akhirnya dia mati juga, pak tua itu terlalu menahan diri bahkan pada muridnya sendiri, apa itu yang disebut sebagai tindakan konyol, seharusnya sejak awal dia membunuhku... terlebih saat insiden itu terjadi."


Law bangkit selagi menyeka air mata di wajahnya.


"Aku sendiri yang akan mengalahkanmu, Erza Deo Foland."


Law mengarahkan pedangnya ke arah Erza yang menyeringai senang.

__ADS_1


__ADS_2