
Di masa lalu sebuah insiden di kerajaan Diamond terjadi, saat itu secara misterius para kesatria dibunuh dengan tragis dengan kepala mereka dipenggal.
Sementara tubuh mereka dibiarkan di jalanan, kepala itu ditempatkan di tiang-tiang besi hingga semua orang bisa melihatnya setiap pagi di alun-alun kota.
Itu adalah sebuah pemandangan mengerikan, terlebih orang yang melakukannya adalah kesatria yang sama bernama Erza Deo Foland, dia membunuh kesatria demi kesenangan serta balas dendam dimana kesatria pernah membiarkan kotanya dihancurkan oleh monster, alasan itu jugalah yang membuatnya bergabung di pihak kerajaan.
Walau perannya hanyalah sebuah boneka yang dipekerjakan oleh beberapa komplotan yang ingin menjatuhkan kerajaan, dia dengan senang melakukannya.
Pada akhirnya sebuah pasukan yang dipimpin oleh Sebastian dibentuk dan mereka menyergap markas kawanan orang-orang yang berbahaya bagi kerajaan, mereka dihabisi dengan ribuan tebas dan hanya menyisakan satu orang yaitu Erza sendiri.
"Bagaimana sekarang komandan, apa kami harus membunuhnya juga?"
Tatapan Sebastian dan Erza saling bertemu.
"Kau benar-benar membuatku kecewa Erza?"
"Jika kau merasakan hal demikian maka aku meminta maaf namun, aku tidak menyesalinya."
"Kuharap kau akan menyesalinya, ikat dia dan berikan pada gereja Harmonia, kuharap dia bisa berpikir tentang semua tindakannya selama ini dan menyesalinya seumur hidupnya."
"Baik."
"Kau terlalu lunak pak tua, kaulah yang akan menyesalinya suatu hari nanti."
Sebastian hanya diam dan melihat bagaimana muridnya telah diseret oleh anak buahnya, seperti yang dikatakan Erza penyesalan telah diterima oleh Sebastian karena kebaikan hatinya.
Saat itu dia telah gagal dan hari ini tugasnya harus diselesaikan oleh Law.
Selagi mengalihkan tatapannya ke arah semua pergerakan Erza, Law menguatkan tangan untuk menggenggam pedangnya.
Pedang diayunkan untuk mematahkan pergerakan Erza yang cepat, dia menangkapnya yang mana sekarang pedang Law setara dengan satu buah gunung.
Tanah dipijakan Erza hancur menciptakan retakan yang menjalar sampai kebangunan di sekelilingnya.
"Bagaimana seorang kesatria memiliki kekuatan seperti ini?" nada Erza tenang tanpa diliputi ketakutan ataupun kekaguman seolah hanya murni keingintahuannya saja.
"Aku tidak harus mengatakannya padamu."
Pedang Law bertambah berat sehingga Erza memutuskan melepaskannya untuk melompat ke belakang hingga menciptakan ledakan yang membuat tanah menyembur ke udara saat pedang Law jatuh ke bawah.
Erza melemparkan puluhan tebasan cahaya melalui jarinya dan di saat yang sama dua gadis muncul di dekat Law kemudian menghilangkannya seolah itu bukan sesuatu yang sulit.
"Jadi begitu kau bersama penyihir, sepertinya anak buahku juga sudah mereka bunuh semuanya."
__ADS_1
"Kalian berdua jangan mengganggu."
"Yang barusan berbahaya Law, jika kau menahannya tebasannya akan muncul di tempat berbeda," balas Pandora demikian.
"Benar, paling tidak dia setingkat lebih kuat darimu."
Law mengatupkan mulutnya.
Jika hasilnya seperti ini, apa selama ini latihannya hanya sia-sia saja. Law marah pada dirinya bahkan setelah dia bisa sedikit menahan kekuatan penyihir, itu masihlah belum cukup untuk melawan Erza.
Pandora melemparkan pertanyaan pada lawannya.
"Bukannya bagus jika kami ada di sini, sepertinya kau suka saat melawan orang kuat."
"Aku tidak seangkuh itu, hingga mau melawan dua penyihir."
"Benarkah, kalau begitu bagaimana jika kau bunuh dirimu sendiri?"
Sebelum Pandora mengatakan itu, Erza sudah lebih dulu menutup kedua telinganya dengan tangan. Marinna yang melihatnya tertawa.
"Dia mencegah kutukanmu penyihir rembulan."
"Berisik."
Erza tersenyum lalu berkata.
Hanya dua kata itu bahkan penyihir langsung mewaspadainya.
"Law, cepat keluar dari sini," teriak Pandora.
Jelas hal itu sudah terlambat.
".... Lintas Dunia, Yutopia," bersama perkataannya Law mengetahui bahwa semua hal di sekelilingnya telah berubah, dia berdiri di langit sementara di atasnya adalah permukaan tanah dengan seluruh bangunan terbalik.
Kecuali Erza, dua penyihir ikut bersamanya.
"Apa yang terjadi?"
"Dia mengurung kita ke dalam dimensi berbeda, syukurlah bahwa dia memang tidak berniat menyerang kita lebih dari ini."
"Menyebalkan sekali, karena inilah aku benci kesatria suci mereka tahu bagaimana melemahkan kita," tambah Marinna.
"Apa kita akan terkurung di sini selamanya?"
__ADS_1
"Tidak juga, aku pikir aku bisa mencoba mengeluarkan kita walaupun sedikit memakan waktu," balas Pandora atas pernyataan Law.
Sementara itu Erza hanya berjalan setelah kepergian ketiganya, walau dia tidak mendapatkan kuncinya bukan berarti dia tidak bisa membuka paksa dengan kekuatannya, dengan langkah santai dia menuruni tangga yang tersembunyi di bawah singgasana menuju ruangan tertutup yang terkunci oleh pintu besi, ia mengayunkan jarinya memotong pintu itu agar bisa dia lalui dan menemukan sebuah gerbang raksasa dengan ukiran dua naga yang saling bertarung.
"Jadi ini gerbang Geonova, Javelin ini tugasmu."
"Apa boleh buat."
Sosok yang dipanggil Erza keluar dari bayangannya sendiri. Dia pria dengan seragam militer berwarna merah muda, berambut pirang acak-acakan sampai kaki.
Karena memakai masker.sulit mengetahui seperti apa ekpresi yang ditunjukannya.
"Warna merah muda benar-benar tidak cocok denganmu Javelin."
"Berisik, hanya warna ini yang ditawarkan oleh gereja."
Javelin mengarahkan tangannya dan secara perlahan gerbang itu masuk ke dalam bayangan sebelum akhirnya lenyap seutuhnya.
"Tugas kita selesai, waktunya pergi."
"Kau tidak ingin masuk ke dalam bayanganku lagi."
"Di kota ini sudah tidak ada orang lagi jadi tak masalah."
"Heh, kau benar-benar pemalu, di balik masker itu mungkin kau punya gigi tonggos."
"Tidak."
"Bibir tebal."
"Kubunuh kau meskipun kau tidak semenyebalkan Evangelista."
"Mudah sekali marah ya."
Keduanya berjalan ke luar kota sebelum mengalihkan pandangan ke belakang. Erza yang lebih dulu berhenti.
"Ada apa?"
"Aku tidak suka dengan ibukota ini, boleh aku hancurkan."
"Tentu, lakukan saja sesukamu."
Erza mengarahkan tangannya ke atas hingga menciptakan sebuah lingkaran sihir seluas kota tersebut dari sana cahaya dijatuhkan yang mana melenyapkan segalanya tanpa sisa.
__ADS_1
Ketika Law dan dua penyihir muncul mereka hanya bisa terdiam bahkan tubuh Sebastian pun sama sekali menghilang bersama mayat lainnya.
"Ini tidak masuk akal," hanya perkataan Law yang mengisi keheningan tersebut.