Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 101 : Hasil Dari Jamuan


__ADS_3

Souma duduk bersama keluarga Duke untuk menikmati jamuan yang mereka telah siapkan, ada tiga menu yang mereka coba sajikan, pertama adalah menu pembuka, menu utama serta menu penutup.


Bagi Souma dia ingin secepatnya kembali dan duduk santai di depan tokonya seperti biasanya.


Menu pembuka yang mereka sajikan adalah sebuah sup tanpa apapun di dalamnya. Souma pernah sekali berfikir kenapa makanan seperti ini sangat mahal jika didapatkan di sebuah restoran atau Kafe, dan sekarang Souma tahu alasannya.


Walau hanya sebatas sup cita rasa yang diberikan begitu mewah.


Souma tidak bisa berhenti untuk mencobanya.


"Fufu kak Souma pasti sangat bahagia sekarang, apa selama ini dia belum pernah merasakan makanan seperti ini," perkataan Serena telah menyadarkannya.


Dia membenci dewi yang suka ikut campur sepertinya.


"Ini pertama kalinya untukku."


"Kalau begitu sebuah kehormatan bisa menyajikan sesuatu yang tuan Souma belum rasakan, sekarang mari pindah ke meja utama."


Pindah?


Apa yang kau katakan?


Tanya Souma dalam hati, apa jamuan seperti ini sudah biasa di kediaman bangsawan tingkat atas. Dengan Catrine sebagai pemandu Souma serta keluarga Duke pindah ke ruangan makan yang lebih luas, di sini setiap alat makan dibuat dari emas dan tampak Sebastian berdiri di sana dengan anggur di tangannya selagi mempersilahkan semuanya untuk duduk lalu dia menuangkan anggur di tangannya ke setiap gelas.


"Aku tidak minum anggur," ucap Souma dengan ekpresi sulit saat tahu anggur ini berkualitas atas di mana sudah berusia 100 tahun lamanya.


"Kalau begitu saya tawarkan air biasa saja."


"Itu lebih baik."


Sernia tertawa kecil.


"Ini pertama kalinya aku melihat seseorang tidak minum alkohol, benar-benar sangat mengejutkan."

__ADS_1


"Aku juga bereaksi sama saat mengetahuinya dulu," tambah Stella lalu disambung Serena.


"Aku sekarang merasa khawatir dengan perkembangan dirimu."


Apa yang dewi ini lakukan? Bukannya dia masih dibawah umur untuk meminum alkohol, dan Souma mencoba menyampaikan hal itu padanya.


"Jangan khawatir, Serena sangat kuat dalam minum jadi kami membiarkannya, aku ingat beberapa orang di kota mencoba menantangnya dalam kontes minum dan mereka menangis selagi berlarian karena malu."


Itu cukup mengejutkan bagi Souma tapi hidangan utama yang mereka sajikan lebih dari itu.


Souma mengunyah makanan dengan mata berbinar, di desa Huruhara sendiri jarang mendapatkan bahan makanan seafood namun di kediaman ini malah sebaliknya, dari lobster, tuna, bahkan hal yang kau belum kau makan di luar sana ada di sini dan tersedia dengan indahnya.


Souma bisa menangis karena ini jika saja gadis kecil di hadapannya berhenti menatapnya dengan pandangan jahil sementara Stella menatapnya dengan pandangan mesum.


Adapun yang terlihat jijik hanya Sebastian yang ada di belakangnya.


Setelah mengisi perutnya sekarang giliran makanan penutup, Catrine muncul dengan sebuah gerobak kecil yang di dalamnya diisi oleh berbagai kue serta olahan manis yang tampak menggugah selera.


Souma tidak terlalu suka makanan manis jadi dia hanya memilih puding dan masuk ke obrolan penting yang sejak tadi terlihat dihindari semua orang.


Souma bukan berarti tidak normal dia hanya ingin mencoba hidup sepelan mungkin dalam sebuah ketenangan, dibanding hidupnya sebelumya dia mencoba untuk menenangkan dirinya jauh dari pertempuran serta hal bernama medan perang.


Walaupun sebelumnya dia melakukan hal yang berbeda dari yang dia inginkan semua kontradiksi itu murni hanya sebuah paksaan belaka.


Sandel mendesah pelan lalu melanjutkan.


"Kami sudah menduganya, tapi bisakah paling tidak menjadikan putri kami sebagai selir.. tentu aku sudah mendengar bahwa tuan putri juga ingin menikah dengan Souma."


Souma jelas terkejut.


Bahkan ketika mereka tahu, mereka sama sekali tidak ingin menyerah.


Sernia melanjutkan.

__ADS_1


"Putri kami memiliki kriteria sendiri untuk suaminya, aku tidak yakin selain Souma ia mau menikah lagi.. kami tidak ingin melihat putri kami memutuskan untuk tidak menikah selama hidupnya."


Souma melirik ke arah Stella yang menundukkan kepala malu.


Kalian membuat hidupku menjadi sulit kan? Kalian para bangsawan tidak ada bedanya.


Itulah yang dipikirkan Souma dalam hatinya.


"Kak Souma, sebaiknya kakak putuskan sekarang agar kami tidak menunggu terlalu lama atau sejujurnya."


Sebastian mengarahkan pedang di leher Souma hingga semua orang terkejut termasuk Stella sendiri.


"Serena putriku apa yang kamu lakukan, tuan Souma?"


"Jangan khawatir ayah, aku dan Souma cukup saling mengenal. Dengan cara ini dia akan menjawab kita dengan cepat."


Lupakan soal dewi anak kecil ini iblis di dalamnya.


Meski bagi Souma mengalahkan Sebastian bukan hal sulit tetap saja dia tidak bisa melawannya, itu seperti Souma tidak memiliki tata krama dalam perjamuan.


Singkatnya Serena cukup baik menilai Souma.


"Aku mengerti, seperti yang kukatakan aku tidak berniat berkeluarga dalam waktu singkat, aku masih ingin menjalani hidupku yang bebas dan santai namun saat waktunya tiba aku juga akan menikahi Stella sebagai istriku yang lain."


"Jawaban yang bagus kakak, ambilah pudingku ini sebagai rasa terima kasihku."


Souma mengerenyitkan alisnya sementara semua orang menghela nafas lega.


Sebastian menyarungkan kembali pedangnya tanpa mengubah ekpresinya.


"Sungguh menyebalkan, aku akan kembali setelah jamuan ini, apa tidak keberatan."


"Tentu saja tidak."

__ADS_1


Dengan ini akhirnya hal melelahkan telah selesai.


__ADS_2