
Ibukota Tensura, Kastil Irabel adalah tujuan akhir dari penyerangan ini. Memiliki tiga tembok yang menghalanginya adalah sebuah rintangan yang harus ditembus semua orang.
Keesokan paginya Souma berjalan sendiri dengan pedang di tangannya, beberapa orang dari atas tembok Green Wall mengirimkan anak panah padanya, tanpa terlihat mengayunkan pedang semua panah terbelah dua dan berjatuhan ke permukaan tanah.
Semua prajurit mengerenyitkan alisnya.
"Apa-apaan orang itu, kemana semua pasukanku yang lain, Green Wall tidak mungkin akan ditembus hanya satu orang."
"Kapten setengah dari pasukan kita masih tidur."
"Nani?" teriaknya panik.
"seluruhnya orang yang makan kemarin malam."
"Ada yang meracuni mereka."
Bersamaan itu ledakan di beberapa titik terdengar saling sahut menyahut menciptakan asap kelabu yang mengepul ke udara.
"Mustahil? Apa itu?"
"Gawat Kapten. Tembok Green Wall di tembus dari berbagai arah."
"Kenapa ini terjadi? Tembok kita dihancurkan dengan mudah."
"Aku pikir kalian lebih baik menyerah."
Souma yang sebelumnya berada di bawah telah muncul di atas tembok.
__ADS_1
"Sialan."
Tanpa basa-basi kapten tersebut mengayunkan pedangnya dan dengan mudah ditangkap oleh Souma hanya dua jari saja.
"Sebenarnya kau siapa?"
"Anggap saja aku mimpi buruk kalian."
Seluruh pasukan berjatuhan dengan sebuah tebasan yang tidak pernah mereka lihat, ketua tersebut hanya bergumam dengan mata yang setengah terbuka.
"Da-dasar monster."
Suara lain menyapa Souma yang hendak berjalan menjauh, itu berasal dari seorang pria dengan jenggot lebat serta membawa pedang di tangannya.
Ia memiliki rambut emas penuh kharismatik.
"Kau seperti lumayan juga anak muda."
"Siapa aku hehe."
Dia menggosok hidungnya sebelum melanjutkan.
"Salah satu 12 kesatria meja bundar."
Pria itu melesat maju dengan kekuatan cepat, Souma menahan dengan pedang yang tersarung hingga seluruh pijakannya berubah menjadi retakan.
Pria itu melompat kembali untuk menjaga jarak sebelum mengayunkan pedangnya di udara untuk memberikan tebasan angin yang mampu diblokir dengan baik.
__ADS_1
"Kudengar aku harus mewaspadai orang yang mengenakan topeng iblis, tapi melawanmu juga cukup menyenangkan."
Sejujurnya orang yang mengenakan topeng iblis adalah Souma sendiri.
Souma menebas dengan kecepatan tinggi menjadi sebuah kilatan petir hitam, pria yang menjadi lawannya memasang kuda-kuda lalu menebaskan pedangnya dari samping menciptakan hembusan yang melenyapkan petir tersebut.
"Haha ini baru pertarungan menyenangkan, apa kau punya trik yang lainnya anak muda."
"Aku punya banyak."
Souma bergerak cepat dengan tubuh menyamping, kecepatannya sangat luar biasa hingga tubuhnya menghilang dan menyisakan bayangan di belakangnya.
Pria tersebut mewaspadai seluruh pergerakan hingga dalam sekejap Souma telah muncul di belakangnya dengan gerakan tarikan pedang.
"Mustahil? Bagaimana kau bisa."
Sebuah tebasan menghantam tubuhnya membuatnya terlempar jauh sebelum menukik menghancurkan satu bangunan di bawahnya, dengan luka yang mengalir dari tebasan tersebut pria itu bangkit.
"Aku tidak tahu bagaimana kau mampu melakukannya, tapi ini menarik."
Souma melompat dari tembok lalu mendarat dengan baik di permukaan, dia sama sekali tidak terlihat mengayunkan pedang namun seluruh bangunan di sekeliling pria tersebut telah terbelah dengan parah.
"Aku Bertovo mengakui kemampuanmu."
"Kau lumayan hebat, jika orang lain pasti sudah mati oleh tebasan sebelumnya dan juga tidak ada rasa takut dari wajahmu."
"Takut itu mustahil anak muda, saat kau bertemu orang yang lebih kuat darimu maka kau akan jauh lebih bersemangat."
__ADS_1
"Rasanya dulu aku tahu perasaan seperti itu namun sekarang aku sudah lupa rasanya bertarung melawan orang yang lebih kuat."
"Maka dari itu akan kutunjukan kemampuanku anak muda."