Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 168 : Pertemuan, Perpisahan Dan Saling Memahami


__ADS_3

Historia terbangun di atas tempat tidur dan melihat bahwa Souma telah membereskan pakaiannya seolah ingin melarikan diri.


"Souma? Apa yang terjadi?"


"Kau tadi tak sadarkan diri."


"Eh, tak sadarkan diri.. lalu apa yang?"


"Kita akan segera pergi dari sini, aku berpikir akan menitipkanmu di gereja pusat Eria, aku juga akan memutuskan kembali ke desaku."


"Secepat itu, tapi bisakah aku tinggal bersamamu saja."


"Maaf Historia tapi akan jauh lebih baik jika kau tinggal di sana."


Historia menatap dengan pandangan kecewa meski begitu dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan hingga memutuskan untuk tidak memaksa.


Walau tak terlihat Souma terlihat mencoba untuk tidak sedekat mungkin dengan orang lain.


"Aku mengerti, jika Souma bilang begitu aku tidak punya alasan menolak, tapi apakah aku bisa menghubungimu lewat surat sesekali."


"Tentu saja."


Itu sedikit memberikan Historia harapan dan menutupi rasa kesepiannya juga, mereka memasukan setiap barang ke dalam kereta kemudian melanjutkan perjalanan kembali.


Souma tidak mengambil rute yang biasa dilewati pedagang melainkan rute tersembunyi untuk sampai ke medan perang. Saat Historia bertanya kenapa mereka harus pergi ke sana Souma hanya bilang ingin menemui seseorang.


"Maaf Historia, aku sebenarnya ingin menghabiskan banyak waktu denganmu namun.."


"Aku tahu, ini pasti ulah gereja Harmonia, mereka memang jahat sampai kapanpun aku akan terus menganggap mereka seperti itu."


"Mereka tidak jahat, hanya saja ada beberapa orang yang mencoba mengendalikan mereka."

__ADS_1


"Tetap saja."


Historia cemberut dan Souma hanya tersenyum masam, mereka sudah menghabiskan waktu di dalam kegelapan hutan selama 2 hari dan Souma dengan sabar menghadapi Historia sebisa yang ia lakukan.


Di sela-sela waktunya Souma juga membuat obat-obatan dengan jumlah besar, ia sudah tidak bisa menjual obat seperti sebelumnya meski begitu dia berfikir akan memberi semua itu pada para penjaga dan memintanya menyebarkan ke kota-kota yang benar-benar membutuhkannya.


Tak lama kemudian mereka sampai di camp yang digunakan sebagai perkemahan orang-orang yang bertarung di garis depan peperangan.


Risela yang bertugas sebagai komandan melompat pada Souma.


"Kau di sini, apa kau berubah pikiran untuk bertarung bersamaku?"


"Ada yang ingin kukatakan padamu, aku juga ingin kau menyalurkan seluruh obat-obatan ini."


Souma menjentikkan jarinya hingga ribuan botol potion dijatuhkan dari sihir penyimpanannya.


"Tadinya aku ingin menyimpannya tapi kurasa lebih baik jika aku berikan semuanya padamu."


"Uwahh, Souma sangat baik kalau begitu bisakah kau menghukumku juga, aku sedikit bergairah."


Meski begitu Risela malah lebih terkejut, seberapa banyak ia meminta Souma melakukan pelecehan padanya dia tidak pernah menurutinya.


"Souma apa terjadi sesuatu? Dan gadis kecil di sana itu."


"Aku tidak bisa mengatakannya, tapi seperti yang kukatakan ada sesuatu yang ingin kuminta."


"Apa itu?"


"Jika ratu iblis berhasil dikalahkan lepaskan dia."


"Bukannya itu?"

__ADS_1


"Dunia ini banyak hal yang belum kita mengerti lagipula entah aku dan Risela kita orang yang berasal dari dunia lain."


"Aku mengerti, jika Souma yang bilang maka akan kulakukan. Jika Stella mendesak aku akan bertarung dengannya juga. Ada apa? Kenapa kau menatapku begitu Souma?"


"Aku terkejut kau langsung menyetujuinya."


"Tentu saja aku masih tidak percaya untuk membiarkan ratu iblis lolos, namun aku lebih ingin mempercayaimu lagipula ini adalah pertama kalinya kau meminta sesuatu padaku.. padahal aku sering memintamu untuk melakukan hal aneh-aneh pada tubuhku, entah kenapa aku sangat senang."


"Risela."


"Kalau begitu aku akan kembali, terima kasih untuk obatnya."


Souma hanya melihat kepergian Risela dari kejauhan sebelum pergi, kemudian bersama Historia mereka mengunjungi sebuah katedral di mana di sinilah kultus Eria berada.


Salah satu pendeta wanita menerima Historia dengan tangan terbuka.


"Tolong jaga Historia, dia bocah mesum dan bermasalah meski begitu ketika dia tidur dengan gadis lain itu tidak akan terjadi apapun hingga salah satu mereka hamil."


"Ah, soal itu? Aku cukup terkejut kamu bisa mengatakannya dengan datar tapi aku akan menjaganya sebisa mungkin, Historia akan kami latih hingga menjadi seorang Saint."


"Aku meragukannya dia bisa seperti itu, kalau begitu Historia ini perpisahan kita. Kau bisa mengirimiku surat aku juga akan melakukan hal sebaliknya."


"Padahal kita sudah saling memahami."


Souma meletakan tangannya di kepala Historia selagi tersenyum padanya.


"Jaga dirimu."


Air mata menetes dari wajahnya.


Historia menundukkan kepalanya selagi berkata dengan suara yang keras.

__ADS_1


"Terima kasih banyak untuk semuanya."


Dan Souma melambaikan tangannya tanpa menoleh. Tanpa ia sadari Souma telah membuka jalan baru untuk dunia ini agar terselamatkan.


__ADS_2