
Eris sekali lagi menepuk punggung Souma.
"Tak perlu mencoba memahaminya, kita hanya harus mengalahkannya. Bukannya itu juga merupakan tujuanmu untuk menyelamatkan dunia dan juga ada kesepakatan yang Souma buat dengan Persefone sebelumnya bukan?"
Eris mengatakannya agar Souma lebih mengutamakan tujuannya dibanding mengurus motifnya. Jika bukan karena Souma Eris juga tidak akan tahu bahwa dewi jahat memang berada di sini.
Eris mengangguk ke arah Rosalin dan Lugina dan mereka menjawabnya dengan segera menerjang ke depan Hersefone, dia hanya diam di kursinya dan dari lantai, dua ekor cacing tanpa mata kecuali mulut memaksa mereka mundur.
Masing-masing makhluk tersebut menjatuhkan air liur ke lantai selagi menggeram.
"Grrrrrrrrrrrrr."
Di waktu singkat itu Eris merubah dirinya ke dalam mode bertarungnya selagi menodongkan tombak di tangannya.
"Holy Buster."
Dua kata tersebut mampu menembakan cahaya dari ujungnya menghancurkan makhluk tersebut termasuk menerjang sosok Hersefone sampai terbang ke langit sebelum akhirnya menukik jatuh.
Semua orang melompat dari lubang yang diciptakannya dan mendarat baik di depan Hersefone yang bangkit kembali.
"Hibur aku lebih jauh," katanya demikian.
Semua orang serempak melesat, Rosalin mengusir tinjunya yang dihindari musuhnya dengan baik, melihat pergerakan Lugina yang telah maju Hersefone menarik tangan Rosalin lalu membantingnya menabrak Lugina hingga keduanya terpental jauh.
Souma dan Eris telah melompat untuk menggantikan keduanya dalam menyerang, tubuh Hersefone kecil namun dia lebih mahir dalam penguasaan bela diri dari siapa pun.
__ADS_1
Dia menangkap pedang Souma yang nyaris tidak terlihat saat dia menebas kemudian menginjak tombak milik Eris untuk tetap ada di bawah.
"Aku tidak bisa menarik tombakku."
"Ini hadiah dariku."
Dia mengalirkan listrik untuk menyambar sosok Eris dan Souma.
Souma menancapkan pedang di tanah untuk mengalirkan listrik itu ke tanah sebelum meninju perut Hersefone hingga dia terlempar selagi berputar-putar di tanah.
Tepat ia berhenti, di sana Lugina telah membuka mulutnya lalu menelan sosok Hersefone dengan bola api raksasa.
"Masih belum berhasil, Souma."
Mereka berdua berlari bersama Rosalin yang sudah bangkit, saat serangan Lugina selesai mereka kembali menyerang secara bergantian.
Menara Babel yang sebelumnya diam mulai bergerak, dari mulut-mulut yang berjumlah seratus itu menembakan bola-bola yang mampu memaksa semua orang mundur.
Itu hanya berlangsung sesaat sebelum ledakan yang lain terjadi di sana.
"Dua orang itu masih belum mati," teriak Hersefone sebelum melompat menghindari tebasan Souma, Lugina muncul di belakangnya untuk memberikan tendangan yang mampu membuat Hersefone terlempar kembali.
Kini ia seperti bola pinball yang dioper secara bergantian.
"Kalian benar-benar menyebalkan."
__ADS_1
Hersefone menyadari karena tidak memastikan dua orang penyihir sebelumnya dia tidak bisa memaksimalkan menara Babel.
Rosalin hendak memukul Hersefone dari depan. Hersefone segera melompat dengan menggunakan pijakan udara hingga bersalto ke belakang.
"Apa?"
Dia meletakkan tangan di perut Rosalin lalu sebuah penangkap telah menahannya. Sebelum dia beralih mengincar Lugina.
Karena dia belum siap dia juga terperangkap.
Kini pertarungan menjadi dua lawan satu atau paling tidak begitu, sampai Eris juga terkurung. Dalam kasusnya dia terjebak dengan sendirinya.
"Ah, aku kena juga."
"Kau jelas sengaja!" teriak Souma.
Dewi ini seolah meminta Souma untuk bertarung satu lawan satu, jika demikian apa sebenarnya untungnya ada mereka, pikir Souma dalam hati sebelum mengayunkan pedangnya dari samping.
Seekor cacing menggigit pedang tersebut namun malah dirinya yang terpotong.
"Hanya satu orang yang bisa membuat senjata seperti itu di alam dewi."
"Kau menyadarinya juga."
Souma menendang sosok Hersefone dan dia memuntahkan darah hingga sejajar dengan tanah.
__ADS_1