
Mereka turun dari stasiun kemudian berjalan sedikit lebih jauh sebelum menemukan diri mereka tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Itu menyerupai dinding kaca yang tidak bisa dihancurkan, paling tidak oleh Souma.
"Jadi ini penghalangnya."
"Jangan bilang Souma mau menghancurkannya?" tanya Lugunica.
"Tidak, itu akan beresiko jika ketahuan, kita akan menyamar sebagai iblis."
Souma menjentikkan jari dan dua botol ramuan telah berpindah pada tangannya.
"Jangan bilang ramuan itu bisa merubah kita jadi iblis."
"Itu benar, sayangnya efeknya hanya akan habis dalam tiga hari jadi kita tidak boleh melewatkan meminumnya kembali nanti."
Janet menerimanya kemudian bertanya.
"Apa ada efek samping?"
"Tidak, ini aman diminum koq."
"Souma itu dewa obat kemampuannya sudah tak diragukan lagi," tambah Lugunica membuatnya semakin yakin.
__ADS_1
Dengan sekali tegukan Janet meminumnya dan dengan itu, dua tanduk menyerupai tanduk domba muncul di kepalanya serta ekor dengan ujung hati tercipta di belakangnya, untuk Souma sendiri hanya tanduk kecil saja. Dia menekan perubahannya seminimal mungkin jika dia tidak melakukannya dia mungkin akan menjadi sosok mengerikan yang disebut raja iblis bahkan itu akan terlihat seperti 10 raja iblis saat seseorang melihatnya.
Terlepas dari itu, Janet menyukai penampilannya sekarang
"Aku benar-benar jadi succubus."
"Apa sebaiknya pakaiannya juga diganti? Iblis biasanya mengenakan sesuatu yang sexy untuk menutupi tubuhnya terkadang mereka hanya menutup bagian pentingnya."
"Mungkin yang dikatakan Lugunica memang benar."
"Tidak, tidak, aku tidak mau memakai pakaian tidak senonoh, paling tidak biarkan aku melindungi dadaku."
Souma mengeluarkan pakaian Cheongsam merah untuknya.
"Tentu saja."
Penampilannya memang seperti itu apalagi dengan pedang di punggungnya. Janet mengganti pakaiannya di balik pohon sementara Souma pikir dia akan menggunakan Tang Suit dengan warna abu yang tidak terlalu mencolok. Mereka kembali berhadapan dengan penghalang, berbeda dari sebelumnya keduanya berhasil menembusnya tanpa kesulitan.
"Kita masuk," wajah kagum tertulis di wajah Janet.
Meski mereka sudah masuk itu hanya daratan luas dengan padang rumput saja karena itulah mereka kembali berjalan untuk menemukan sebuah kota.
"Dengar Janet, kita akan mencuri Relife di tempat ini, dengan kata lain kau harus siap menjadi musuh dari benua ini nantinya, apa kau tidak masalah?"
__ADS_1
"Itu kecil bagiku, selagi aku menjadi pendekar menjadi musuh siapapun tak masalah."
"Wanita ini sudah parah Souma, apa dia akan baik-baik saja nantinya?"
"Entahlah, paling tidak jangan jauh dariku."
"Itu pilihan baik."
Mereka menemukan sebuah kota dengan tembok tinggi mengelilinginya, ada beberapa penjaga ditempatkan di gerbang masuknya untuk mendata siapapun yang masuk ke dalam.
Keduanya tidak berniat menyembunyikan nama mereka, kecuali soal tujuan mereka yang diganti dengan sesuatu yang biasa Souma lakukan di masa lalu.
Souma mengatakan bahwa dirinya seorang tabib sedangkan Janet seorang pengawalnya, mereka berpergian ke tempat berbeda untuk menyembuhkan orang-orang yang tidak memiliki keberuntungan dalam hal uang.
Mata penjaga itu berlinang air mata.
"Betapa mulianya, di saat orang-orang mematok harga tinggi saat seseorang berobat, Anda malah menggratiskan semuanya... sungguh seorang panutan."
"Ah, tolong jangan berlebihan.. saat aku mengobati para bangsawan aku malah merampok mereka dengan harga tinggi."
"Tak apa, itu memang harus dilakukan tidak ada orang yang bisa bertahan tanpa uang bukan."
Souma tak ingin mengatakan apapun lagi dan memilih meninggalkan penjaga itu yang mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang suci atau sebagainya.
__ADS_1