
Risela maupun Anna berjalan dengan pandangan kosong, mereka tidak tahu apa yang telah menimpa mereka. Saat mereka membuka mata keduanya telah berada di sebuah gudang luas yang sekelilingnya di penuhi pria yang dengan senang menunjukan senjata di tangan mereka.
"Bos, akhirnya kita dapat mangsa baru... harga keduanya pasti mahal di pasar gelap."
"Kerja bagus, dengan dupa hipnotis kita akhirnya mudah untuk mengelabui mereka."
Kebenaran yang telah terjadi bahwa keduanya memang berjalan ke sini secara sukarela.
Menyadari situasi yang terjadi Risela menghela nafas panjang, dia adalah seorang pahlawan tapi tak disangka ia telah masuk jebakan dengan mudahnya.
"Aku benar-benar malu karena sudah masuk rencana mereka."
"Hah? Memangnya kau pikir kau siapa... kami ini penjahat kelas atas bersyukur karena kalian menjadi mangsa kami."
"Apanya yang harus aku syukuri?"
Anna melanjutkan.
"Jangan begitu Risela, mereka repot-repot telah membawa kita kemari, jadi dimana minumannya."
"Kau? Apa kami membawa kalian untuk minum teh."
"Bukan?" Anna menjawab dengan lugu.
"Jelas bukan... coba katakan siapa kita bos?"
"Lu jangan nyuruh gue, di sini gue bosnya... hanya gue yang boleh memerintah, kau hanya cecunguk satu dan di sana cecunguk dua, tiga dan empat maupun seterusnya."
"Entah kenapa tidak ada nama yang bagus bos untuk kami?"
__ADS_1
"Kalian cuma peran pendukung jadi nggak perlu di kenal...lebih dari itu, kalian berdua akan jadi tawanan kami, kuharap kalian tidak melawan."
Risela tersenyum lebar.
"Anna mereka mengatakan hal lucu, apa sebaiknya kita hajar mereka sampai babak belur."
"Sepertinya begitu tapi aku sangat memuji bahwa mereka bisa menyembunyikan dirinya di kota suci."
"Suci apanya? Orang-orang di sini terlalu sibuk menambah pengikut jadi jelas mereka diabaikan."
"Apa? Kalian mau ribut? Apa boleh buat, kau maju dulu?"
"Kenapa aku bos?"
"Peran pendukung selalu maju paling awal dan mati yang pertama ini sudah aturan."
"Karena aku ini bos, jadi bebas menyuruh siapapun."
Pria yang disuruh tidak bisa mengelak lagi, dia menerjang ke arah Risela yang menatapnya tajam sebelum dia bisa mengayunkan pedangnya kaki dari Risela menghantam wajahnya dari bawah membuatnya meluncur ke atas lalu tertancap di langit-langit.
"Ah, si cecunguk satu langsung dikalahkan, mereka berbahaya... lari, emak."
"Apa yang kau katakan cecunguk dua, barusan hanya kebetulan... kita serang bersama-sama mereka masih kalah jumlah."
"Benar... serang."
Mereka membagi dirinya menjadi dua kubu yang masing-masing kubu berhadapan dengan satu orang.
"Gadis ini pasti lembut, dia pasti yang paling lemah.. hajar."
__ADS_1
Sebelum tinjunya sampai ke wajah Anna, dia sudah tumbang dengan cara dilemparkan jauh menabrak dinding kayu.
"Tidak, si cecunguk 10 sudah dikalahkan," teriak salah satu yang menonton.
"Dia hanya orang yang genepin kita jadi dua puluh orang, dia sebenarnya lebih lemah dari kita."
"Begitukah."
"Pokoknya maju."
Anna mengirim tendangan dan pukulannya dengan santai, beberapa orang terhempas ke segala arah sementara Risela memilih membuat musuhnya terbang dan menancap di langit-langit atap.
Tak perlu waktu lama untuk mereka memenangkan petarungan tak berarti ini, yang terakhir masih berdiri dengan kaki gemetaran hanya bos dari kumpulan penjahat ini.
Anna mengangkat tangannya.
"Sepertinya mereka telah menculik beberapa orang, aku akan membebaskan mereka"
"Baiklah, biar aku yang memberi pelajaran padanya."
"Tunggu aku ini bos, aku memiliki peran penting."
"Entah kau bos ataupun peran utama aku tidak peduli, aku akan menghajarmu."
Pada akhirnya wajah bos tersebut bonyok sebelum diikat dengan kawanannya. Anna muncul bersama beberapa orang gadis muda.
"Terima kasih banyak, kami pasti sudah dijual jika kalian berdua tidak datang."
"Sungguh disayangkan hal ini terjadi, kalian laporkan ini pada para penjaga agar mereka lebih berhati-hati," balas Risela yang dijawab anggukan kecil.
__ADS_1