
Karina, Riel, Souma dan juga Lugunica telah muncul di The Lost Sanctuary, mereka melewati beberapa hutan yang sudah mati sebelum menemukan diri mereka di depan sebuah pagar besi yang menjadi area luar dari pemakaman.
Ketika gerbang dibuat suara deritan dari besi yang berkarat begitu terdengar jelas yang membuat siapapun akan berfikir dua kali untuk memasukinya.
"Untuk sampai ke dalam inti dari Sanctuary kau harus melewati tiga ujian yang masing-masing memiliki kesulitan tinggi, ujian pertama kau harus mengalahkan dirimu sendiri, yang kedua mengalah masa lalumu dan ujian ketiga adalah bahwa tanah Sanctuary memberikan persetujuannya."
"Yang satu dan ke dua aku bisa mengerti tapi apa yang ketiga?" balas Souma pada Karina.
"Yang ketiga singkatnya tempat ini akan menilaimu apa kau pantas lulus atau tidak, tapi itu berkaitan dengan tujuanmu melakukan semua ini biasanya beberapa orang menginginkan untuk menerobos makam ini untuk keabadian, kekuatan dan juga untuk menjadi penguasa tak terkalahkan, tentu mereka tidak akan mungkin bisa lolos jika mereka memiliki niat tersembunyi."
Riel memotong dengan nada gembira.
"Dulu kami membiarkan siapapun menantang ujian dan akhirnya mereka mendapat penderitaan yang mengerikan sebagai hukuman, karena itulah aku dan Karina memilih untuk menghadang mereka di awal lalu membunuh mereka tentu itu juga termasuk para penjarah makam."
"Hukumannya lebih mengerikan dari kematian."
Kedua penjaga makam mengangguk bersamaan.
Jika itu Souma yang dulu mungkin dia tidak akan bisa melewatinya, tapi sekarang jelas berbeda.
Keduanya mempersilahkan Souma untuk terus maju, dan ketika dia menginjakkan kakinya di atas makam dia bisa melihat dirinya sendiri yang berdiri dengan pakaian zaman Edo sembari memegang katana di tangannya.
"Wajahmu yang sekarang benar-benar menjijikan Souma."
__ADS_1
Souma mengeluarkan katana di tangannya juga.
"Ujiannya terlihat begitu jelas."
Souma yang lain melompat di depan wajahnya untuk memberikan tebasan atas yang berhasil di tahan sebelum keduanya melompat mundur.
"Ujian ini meniru semua kemampuanmu, jadi kau harus berhati-hati," saran Lugunica.
"Aku mengerti, aku mungkin akan memanggilnya Souma palsu."
"Souma palsu hahaha kaulah yang Souma palsu, beginilah seharusnya diriku sebenarnya."
Dua mata tambahan muncul di bawah mata yang lain, yang sama-sama berwarna merah. Dengan gerakan cepat Souma palsu menebas hingga membuat Souma asli memucratkan darah ke udara.
"Guakh."
"Aku berniat membunuhmu dengan satu kali tebasan, tidak kusangka kau berhasil menahannya."
"Ini bukan apa-apa."
Dua mata tambahan muncul juga di bawah mata Souma asli.
"Souma kau memiliki empat mata?"
__ADS_1
"Ini hanya kekuatan yang ditinggalkan oleh iblis samurai, itu akan hilang saat satu kali dipakai."
"Benar sekali, tapi aku tidak akan hilang untuk selamanya."
Souma menangkis setiap tebasan dari dirinya yang lain, dia berfikir apa yang namanya melawan dirinya sendiri? Sudah jelas sosok di depannya lebih kuat. Dia tidak memiliki kelemahan ataupun batas kelelahan ia akan terus bertarung tanpa henti.
"Hellfire."
"Hellfire."
Kedua serangan itu meledak di tengah-tengah. Kekuatan kedua mata tambahan Souma menghilang namun berbeda dengan dirinya yang lain dia tetap bisa menggunakannya.
Tubuh Souma ditendang hingga dia menukik jatuh
"Apa benar tujuan ujian ini untuk bertarung?"
Ketika Souma memikirkannya dia menemukan cara terbaik untuk lolos dari ujian ini. Ia melemparkan pedangnya dan selanjutnya pedang Souma palsu menembus jantungnya.
"Kau?"
Dia tersenyum lebar.
"Sepertinya aku yang menang."
__ADS_1
Perlahan tubuh Souma palsu mulai menghilang seutuhnya.