Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 139 : Hal Yang Dilakukan Selanjutnya


__ADS_3

Tiga bulan berikutnya.


"Ini bukan lagi dungeon, mari sebut tempat ini menara iblis."


"Tunggu sebentar, jika kau menyebutnya seperti itu maka aku iblis berarti," Souma jelas memprotes usulan nama yang diberikan Astrea.


Saat ini dia dan dengannya sedang berdiri di luar menara raksasa yang telah menjulang tinggi ke langit.


Astrea membalas dengan dengusan kesal.


"Hah? Kau masih menganggap dirimu manusia. Biar aku tegaskan tidak ada orang normal yang membangun hal seperti ini."


"Meski begitu jangan anggap aku iblis, aku pikir aku akan menamainya The Tower Of Goddess."


"Itu berarti kau dewi."


"Abaikan saja kalau aku yang membuatnya."


"Kalau begitu menara iblis."


Souma dan Astrea saling berusaha mencekik satu sama lain, mereka sudah berumur namun melihat tingkah laku mereka itu lebih ke arah anak-anak yang sedang bertengkar memperebutkan nama keren.


Pada akhirnya The Tower Of Goddess menjadi pilihan pertama. Astrea menyalakan rokok di tangannya, menghirupnya sebelum membuang asapnya ke udara.


Souma sudah berulang kali mencegahnya untuk merokok sayangnya itu hanya menjadi hal sia-sia untuk dilakukan.


"Jadi seperti apa menara ini bekerja?"


"Setiap lantai diisi oleh monster semakin tinggi monster yang kau lawan semakin kuat,ketika monster dikalahkan itu berubah menjadi batu sihir yang bisa ditukar dengan uang di guild. Semua orang bisa keluar setelah mencapai kelipatan 10 lantai dan mereka bisa melanjutkannya esok hari tanpa memulainya dari awal tentu dalam satu kelompok harus ada yang bisa sihir teleportasi untuk melakukannya."


"Aku mengerti."


"Karena sudah selesai tolong jaga pelayanku."


"Kau mau kemana?"

__ADS_1


"Tentu saja bersantai... aku juga ingin menggoda Anna dan karyawan lainnya sesekali."


"Jalan yang kau pilih sepertinya penuh dengan dosa."


Souma hanya tersenyum masam sebagai balasan.


"Yap, dibandingkan kau kehidupan Law lebih sulit. Sekarang ada dua penyihir yang terus menguntitnya."


"Sepertinya itu jelas buruk, jadi apa yang akan dia lakukan?"


"Dia berniat mengubah katedral suci."


"Orang itu, alasan aku tidak bergerak sendiri karena aku tahu itu sangat merepotkan terlebih saat harus melawan 12 orang yang disebut pedang suci."


"Kurasa dia akan mampu melakukannya, uskup agung Vanitas adalah lawan yang cukup merepotkan."


"Apapun itu yang terpenting aku tidak terlibat."


Souma berjalan pergi, sesampainya di toko Scarlett melompat padanya.


"Kenapa kau melakukan ini."


"Tentu saja untuk bersenang-senang, janda sepertiku perlu banyak dibelai, Asetasius kau juga."


"Aku mengerti."


"Kau tidak harus ikut-ikutan."


Risela, Anna dan Undine tampak menatap penuh tekad.


"Sekarang persaingan di sini sangat ketat."


"Aku juga berfikiran sama."


"Aku ingin meledakan keduanya."

__ADS_1


"Kalian semua berhentilah menggoda Souma, aku perlu seseorang untuk membantuku?" Celestrial memotong selagi membawa kotak-kotak kardus di tangannya hingga Anna dan Risela yang pergi membantu.


Pergerakan Souma jelas terkunci sekarang, dengan membawa banyak wanita maka banyak pula masalah yang akan ditimbulkan, apakah dia bisa mempertahankan keperjakaannya adalah masalah yang lain.


***


Di suatu tempat di sebuah gunung berbatu, Law yang telah menguasai pedang di tangannya mampu memotong apapun di depannya.


Sementara dia duduk beristirahat dua penyihir sedang bertengkar, yang satu adalah Pandora dan satu lagi Marinna yang menggunakan tubuh seorang wanita yang baru dimakamkan beberapa hari lalu.


Marinna bisa mengambil alih tubuh seseorang namun jika dia keluar sebelum hari berlalu tubuh itu akan diambil oleh pemiliknya.


"Jadi selama ini kau adiknya Altina, sungguh aku harus menghajarmu demi dia."


"Aku hanya ingin membuat kejutan dan akhirnya aku lupa untuk membicarakannya."


"Aku akan menghajarmu."


"Itu pun jika kau bisa."


Keduanya saling melemparkan pukulan, hanya satu yang dipikirkan Law sekarang.


"Masalah selalu datang kepadaku, ini pasti karena aku menyerobot antrian ke kamar mandi dan karena aku tidak mencuci tangan saat keluar dari sana."


"Law bantu aku untuk menghajar wanita ini."


"Jika itu Law aku tidak keberatan silahkan lakukan semaumu."


"Dasar mesum."


"Kau juga mesum kan, apa kau tidak pernah merasakan bercinta."


"Kau sekarang memamerkan hubungan seksualmu yang seperti kapal tempur itu."


"Ini sebuah kebanggaan."

__ADS_1


Law mendesah pelan.


__ADS_2