Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 110 : Kebebasan Penyihir Rembulan


__ADS_3

Setiap tiruan penyihir rembulan berubah menjadi titik-titik cahaya yang menguap ke udara, saat dia mengarahkan tangannya ke atas Souma menaruh bilah pedang di leher penyihir rembulan.


"Ada apa Souma, kau sangat waspada denganku? Meski salah satu diriku selalu bersama denganmu ingatannya telah masuk ke dalam kepalaku juga... soal pesta teh aku akan mengundangmu."


"Aku tidak peduli hal itu sekarang, apa yang kau lakukan?"


Lingkaran sihir raksasa telah muncul di atas kota ini, itulah yang ingin diketahui Souma.


Penyihir rembulan menjawab tanpa menghilangkan ketenangannya.


"Aku akan menghidupkan semua orang kembali, inilah perjanjianku dengan Lugunica, jika seseorang menyerang kota naga maka aku akan keluar dari kristal lalu mencegah sesuatu hal buruk terjadi tapi diluar dugaan bahwa semua ini bukan akibat penyihir bencana. Dengan perjanjian ini aku yang berada di dalam kristal juga akhirnya bisa keluar dan 1000 tiruanku sudah tidak diperlukan lagi."


Souma memilih poin penting untuk ditanyakannya.


"Jika kau mencoba menghidupkan semua orang kembali bukannya hal yang terjadi pada penyihir kematian akan terulang lagi."


"Itu tidak mungkin, yang membuatnya gagal adalah bahwa dia tidak langsung menghidupkan adiknya saat itu, makhluk hidup terbagi antara tubuh fisik dan jiwa, jika jiwa mereka meninggalkan tubuhnya maka meski kita menghidupkannya itu jelas akan sia-sia."


"Karena jiwanya sudah tidak berada di dunia ini."

__ADS_1


"Tepat sekali Souma, singkatnya jika sekarang masih sempat... pertama aku akan menghilangkan efek dari sihir Fram kemudian mengembalikan jiwa mereka kepada tempat semula."


Dan bersama bersinarnya lingkaran sihir tersebut semua orang mulai bangkit satu persatu, Stelfania yang tadinya hanya bisa meratapi semuanya mulai terbangun lalu mengalihkan pandangan ke semua orang.


"Kalian hidup lagi."


"Apa terjadi sesuatu pada kami?"


Mereka jelas tidak mengingatnya dan hanya melirik ke arah penyihir rembulan yang mulai bergerak ke dekat Souma.


"Aku sebaiknya pergi dari sini, akan buruk jika mereka tahu bahwa aku seorang penyihir."


Penyihir rembulan menopang ke dua buah dadanya.


"Aku harap ini sedikit lebih besar, sampai jumpa."


Souma menghilangkan pedangnya dan membiarkan gadis itu berjalan pergi sampai sosoknya menghilang seutuhnya, mengingat apa yang terjadi sudah cukup membuat Souma kerepotan, kerajaan, penyihir dua hal yang merusak kedamaiannya.


Anna dan Celestrial tampak baik-baik saja saat keduanya kembali ke mansion.

__ADS_1


"Ugh... kenapa Stelfania menangis? Souma apa kau melakukan hal buruk padanya," kata Anna disusul Celestrial.


"Ceritakan dimana Souma menyentuhmu."


"Jadi begitu padangan kalian terhadapku."


"Walau Souma terlihat biasa sebenarnya dia menyimpan nafsu yang besar... bukan tidak aneh jika suatu hari itu tidak bisa dibendung lagi."


Souma menarik pipi keduanya selagi mendesah pelan.


"Hari ini aku cukup lelah, mari kembali besok setelah beristirahat."


Keduanya mengangguk mengiyakan, tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka sebelumnya jika mereka mengetahuinya mereka barusan telah mati dan dihidupkan kembali di waktu yang sama.


Diam-diam Souma memikirkan soal penyihir yang dia temui bernama Fram, matanya yang memiliki bentuk melankolis tidak bisa dilupakan, selain ia yang bisa menghubungkan kematian dirinya ke orang lain dan juga fakta bahwa penyihir rembulan memanggilnya ibu asuh maka Souma bisa mengasumsikan bahwa penyihir dulu sebenarnya berada di satu tempat dan tumbuh bersama di sebuah panti asuhan.


Apa jika dia mengunjungi panti asuhan tersebut apa ia bisa mengetahui sesuatu?


Hal itu bisa ia pikirkan nanti.

__ADS_1


Souma membaringkan dirinya di atas ranjang empuk selagi menatap langit-langit kamar yang diberikan oleh kediaman naga Crimson, ia menutup matanya sesaat untuk bisa merasakan keheningan yang damai.


__ADS_2