
Hanya perlu waktu singkat untuk mereka bisa sampai ke bagian dalam kuil yang merupakan kolam air mancur dengan patung Dewi Harmonia berdiri di tengahnya.
Patung itu tampak anggun saat cahaya bulan menyinarinya.
"Kita hanya harus mengambil airnya dan kembali ke desa," atas pernyataan Souma ketiga yang lainnya mengangguk setuju.
Anna bertanya saat mereka masing-masing mengambil air untuk dimasukan ke dalam botol.
"Ngomong-ngomong bukannya kita bisa mengambil air suci dari kultus Dewi Eria, mereka jelas akan memberikannya dengan mudah?"
Risela yang membalasnya.
"Mereka diperintahkan untuk tidak menjualnya sembarangan, selain dibatasi hanya keluarga mereka saja yang boleh menggunakannya."
"Bukannya rasanya ini sangat mencurigakan."
"Aku juga berfikiran begitu, ngomong-ngomong berapa botol yang kita ambil?" tanya Souma setelah melihat ada 12 botol yang masih harus diisinya.
Undine berkata.
"Kita perlu banyak, aku yakin kita juga bisa menjualnya dan mendapatkan untung karenanya."
__ADS_1
"Kau ternyata mata duitan juga?"
"Apa-apa memang memerlukan uang, aku cukup marah saat seorang bilang bahwa cinta lebih penting dari uang... memangnya cinta bisa membuat perutmu kenyang."
Souma membalas selagi menarik pipi Undine.
"Jangan remehkan cinta orang lain."
"Awawawa."
Ketika mereka asyik mencuri dari kejauhan tampak seorang wanita berjalan dengan gaun panjang putih.
"Pencurian itu dilarang, aku akan melupakannya jika kalian mau pergi dengan tenang... tidak, jika dipikirkan aku berubah pikiran."
Menemukannya di jam malam adalah sesuatu yang jarang sekali, berbeda dari Souma, Anna dan Risela telah maju untuk membentangkan tangan mereka dalam sikap melindungi.
Undine sedikit bertanya-tanya kenapa mereka begitu waspada namun saat dia melihat ke atas langit pertanyannya seketika terjawab dengan mudahnya.
Di atas langit tampak puluhan tangan bermunculan, tangan itu keluar dari semacam lubang hitam dan masing-masing tangan menangkap para pendeta kultus Harmonia.
Benar, semua tangan itu menyerupai tangan iblis.
__ADS_1
Souma menunjukan kebingungannya dengan sebuah pertanyaan.
"Ada apa di sini?"
"Mereka sekarang tidak dibutuhkan lagi, aku berniat untuk membuat mereka menjadi makananku."
"Nona Veronica kau pasti bercanda?"
Mata yang ditunjukkan wanita yang dipanggil itu berubah menjadi merah terang, sudah jelas dia bukan Arc Priest yang dikenal banyak orang, melainkan.
"Aku kira aku tidak membutuhkan penyamaran ini lagi, tubuhnya mulai berubah bentuk dan dia berubah menjadi sosok monster mengerikan meski begitu elemen manusia padanya tidaklah menghilang."
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Anna.
"Namaku Noir, salah satu empat pilar yang melayani dewa kejahatan... bisa dibilang aku salah satu pemimpin dari Orleans."
Mereka terkejut namun tidak ada yang berpikir untuk melarikan diri, Risela menarik pedangnya dan Anna menyiapkan diri untuk menciptakan rapalan sihir.
"Jangan terburu-buru, jika kalian melawan maka orang-orang di atas ini akan dilenyapkan."
"Jadi kaulah yang selama ini mengubah kultus ini seperti sekarang."
__ADS_1
"Tepat sekali, aku hanya menyamar dan mereka langsung menurutiku... ngomong-ngomong Dewi Harmonia yang kalian sembah tidak melakukan apapun meskipun aku sudah melakukan banyak hal di sini."
Dewi tidak bisa bertindak seenaknya hingga datang ke dunia ini, Souma mengerti sekali dengan hal itu. Jika pun mereka bisa datang ke dunia ini maka sejak awal Souma tidak harus berpergian ke berbagai dunia untuk menyelamatkan umat manusia.