
Di bawah udara dingin seorang pria dengan ringan mengayunkan kapak di tangannya untuk menebang pohon di depannya, tangannya berhenti saat dua orang wanita mendekatinya.
Mereka bukan keluarga atau kerabatnya mereka adalah mantan dari ratu dan putri dari kerajaan ini sementara pria itu adalah mantan jenderal yang mengundurkan diri saat mengetahui bahwa kerajaan yang dilayaninya telah mengibarkan bendera peperangan pada orang yang dia takutkan.
"Jadi apa yang kutakutkan terjadi juga."
Kedua wanita itu mengangguk mengiyakan, sekilas ia sudah tahu bahwa mereka sudah tidak memiliki tujuan lagi.
"Apa boleh buat untuk sementara kalian tinggallah di rumahku, akan kuminta istriku untuk membuat makanan untuk kalian."
"Terima kasih banyak."
Yang menemani perjalanan mereka hanya sebuah keheningan semata.
Sementara itu di ruangan tertutup Souma hanya membaringkan wajahnya di atas meja dengan malas, di depannya Stella melakukan hal sama dan berkata.
"Nah Souma maukah kau memberikan benih berhargamu padaku."
Sekujur tubuh Souma gemetaran, dia berbalik dan sekarang yang ada di hadapannya adalah Risela.
"Souma lebih suka sebuah permainan mesum, dia akan mengikat kita lalu mempermainkan kita sampai dia puas."
__ADS_1
"Aku ingin menendang kalian berdua ke luar jendela lihat Laura dia memandangku dengan jijik sementara Law otaknya sudah tidak jalan lagi karena terkejut makanannya digondol kucing."
Untuk Souma dia tidak pernah berpikir bahwa dia selalu terlibat dengan orang-orang aneh. Dua orang wanita syaraf, satu wanita yang menatapnya penuh kebencian dan satu komandan yang tidak bisa menerima kenyataan.
Setelah beberapa saat rapat dimulai kembali.
Law yang sudah tenang memulai percakapan.
"Dengan kita menaklukkan kerajaan ini maka tiga kerajaan akan mengarahkan serangannya pada kita, dan juga raja sebelumnya pasti berada di antara salah satu dari mereka."
"Sudah jelas seperti itu... selanjutnya yang menyerang bukan satu saja tapi mereka semua," Laura menegaskan hal itu yang mana membuat semua orang mengangguk kecil.
Mereka tidak akan terlalu bodoh untuk menyerang kerajaan Diamond, hal yang mereka inginkan adalah menghancurkan kekuatan militernya. Jika pun kemungkinan itu melesat ada ratu iblis Anna dan penyihir gila Undine yang bisa bergerak secara fleksibel.
Perkataan Law jelas tidak memiliki hal yang bisa Souma tolak, semua yang terjadi sekarang murni adalah keinginannya.
"Aku mengerti."
Risela memotong.
"Empat kerajaan telah menyewa organisasi sayap kebebasan, abaikan soal anggotanya apa ada kemungkinan bahwa penyihir senja juga akan terlibat."
__ADS_1
"Itu juga yang aku takutkan, jika kita memulai perang dengan salah satu penyihir Sage, bukanlah hal bagus untuk dilakukan pasti akan banyak nyawa yang melayang," tambah Stella.
Dan Souma tampak memikirkannya.
"Apa kau punya sesuatu untuk disampaikan?" tanya Laura.
"Tidak, bahkan aku meragukan penyihir senja kenapa dia mau repot-repot terlibat perang padahal dia bisa melakukannya sendiri dan malah terlihat dengan empat kerajaan."
"Memang benar, Law bagaimana menurutmu?"
Kini Risela mengalihkan pertanyaan tersebut padanya.
"Entahlah, yang kutahu eksistensi dari penyihir Sage dikatakan tidak normal terkadang pemikiran mereka juga tidak waras."
"Jika penyihir rembulan mendengarnya kau mungkin akan dikutuk."
"Aku tidak ingin hal itu terjadi, yang bisa kita lakukan hanya menyiapkan pasukan lebih banyak untuk berjaga di luar."
Memindahkan lebih banyak pasukan dari kerajaan diamond ke kerajaan ini sudah jelas akan menyulitkan.
Tepat saat pemikiran itu terlintas di benak mereka, seorang pria masuk ke dalam ruangan rapat lalu membungkuk rendah selagi memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Namaku Kalion, aku adalah mantan jenderal kerajaan ini.. aku ingin membuat sebuah kesepakatan."
Sebuah dadu telah dilemparkan, sekarang tergantung keberuntungan angka seperti apa yang akan keluar.