
Di ruangan yang biasa digunakan rapat, Law melemparkan berkas ke atas meja. Dibandingkan siapapun dialah yang mendapatkan pekerjaan lebih berat khususnya tentang bangsawan namun di samping itu, fakta bahwa kekaisaran telah jatuh hanya karena seorang bernama Souma membuatnya juga sedikit tidak nyaman.
Tentu saja fakta penting ini hanya diketahui segelintir orang, pada dasarnya semua berfikir bahwa kekaisaran jatuh akibat pemberontakan Dark Elf dan ras malaikat.
"Dia melakukannya sendiri lagi," gumamnya demikian sementara orang yang berpenampilan seperti gadis yang dia ajak bicara duduk di meja selagi memakan cemilan.
"Dari awal aku sudah tahu bahwa Souma menakutkan, bagaimana dia menekan seluruh penyihir dengan aura membunuh sudah lebih cukup membuatku mual."
Mendengar perkataan menakutkan dari penyihir mengerikan bernama Pandora seperti sebuah ilusi, dulu dia dikenal sebagai mesin pembunuh dan sekarang hanya terlihat seperti gadis kecil yang tidak berdaya, tentu saja itu hanya sebuah penyamaran belaka dan di lubuk hati Law dia tidak pernah melupakan itu.
"Dengan wilayah kerajaan Diamond yang luas kita harus membuat kesatria lebih banyak lagi, Aku dan Stella jelas tidak mungkin menjaga semua wilayah."
"Itu mungkin benar, apa aku harus bergabung di dalam kesatria?"
"Kau penyihir jadi jelas ditolak."
"Ditolak karena penyihir itu tidak adil, ini konspirasi aku menuntut.. cepat daftarkan aku."
Law menerima perkataan itu, namun kekuatan penyihir rembulan mulai tidak berpengaruh padanya.
"Ugh, kau menangkal kemampuan sihirku?"
__ADS_1
"Dibatas tertentu jika kau serius aku masih belum bisa melakukannya."
Pandora bisa mengerti itu, semakin dia bersama penyihir maka semakin mudah juga dia mencoba mematahkan pengaruh mereka. Tapi dibandingkan Pandora sosok yang sulit diatasi adalah yang satu lagi.
Seorang yang dikenal sebagai penyihir kasih sayang yang tanpa ragu melakukan hal yang memalukan memeluk Law dari belakang.
Dia bernama Marinna Testarosa.
"Ara kau sepertinya sibuk, tak bisakah kau coba untuk tidur denganku."
Wajah Law mengeras.
"Yaw... bukannya kau suka gadis kecil, gadis ini meninggal karena sakit, aku mengambil tubuhnya."
Dia seperti Pandora sekarang hanya saja dengan rambut pirang dibandingkan rambut perak.
Selagi tidak diambil secara paksa Law tidak akan mempermasalahkannya. Dia terkejut sejak kapan dia menjadi sedewasa ini bahkan ia sedikit memberikan toleransi terhadap penyihir.
"Bagus Law, dengan ini kau akan dianggap sebagai Lolicon selama hidupmu."
"Aku tidak menemukan poin bagus dengan itu."
__ADS_1
Penyihir kasih sayang Marinna sudah duduk di pangkuan Law mencoba menggoda sebisa yang dia lakukan tapi seperti yang diharapkan dari Law dia tidak terpengaruh.
"Meski aku memegangnya kau tidak bereaksi, sungguh menarik."
"Itu sudah cukup Marinna kau akan menjadikan tempat ini area delapan belas jika terus melanjutkannya."
"Aku baru saja bersenang-senang."
Marinna mengembungkan pipinya dan Pandora tak begitu peduli dengan sifat yang ditunjukannya, di sisi lain dia lebih peduli dengan apa yang terjadi di luar sana.
Ledakan menggema ke segala arah di mana cahaya menyilaukan menyebar ke langit lewat sebuah sihir yang memukau. Karena alasan tertentu kini wilayah ini tak dijadikan sebagai ibukota lagi dan Celestrial lebih memilih memindahkannya ke kota yang sudah semua orang duga.
Pandora dan Marinna menyeringai saat mereka bersama-sama menghancurkan jendela dan berdiri di sudutnya.
"Sudah lama sekali aku tidak melakukan ini, apa sebaiknya aku bunuh mereka?"
"Mereka orang jahat jadi Law tidak akan menghentikan kita, bukan begitu Law?" Marinna melemparkan pertanyaan yang sudah pasti.
Law hanya menatap datar selagi mendesah pelan.
"Di Dunia ini sulit sekali mendapatkan kedamaian."
__ADS_1