Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 221 : Darah Vampir


__ADS_3

Di koridor gereja Harmonia, seorang gadis dengan seragam militer putih sedang berjalan melewatinya. Dia memiliki rambut hitam panjang sementara matanya berwarna biru langit.


"Evangelista."


Menyadari namanya dipanggil dia berhenti dan menoleh ke arah suara yang muncul dari belakangnya.


"Kau Hector, apa yang kau butuhkan dariku?"


Hector adalah pria yang menyembunyikan wajahnya dengan topeng besi, dimana tidak ada siapapun yang tahu bagaimana wujud aslinya dari seragam putih tersebut.


"Mau pergi kemana? Bukannya kita sudah menerima misi untuk menyerang kota penyihir, hanya kita yang masih hidup dari 12 kesatria suci, aku, kau dan juga Ferdinand."


Hampir seluruh 12 kesatria suci bukan dibunuh oleh penyihir melainkan oleh Riel dan Karina.


"Aku hanya seorang mata-mata, tugasku tidak cocok untuk pembantaian, dah."


"Dengan kata lain pedang di pinggangmu hanyalah pajangan."

__ADS_1


Evangelista hanya melambaikan tangannya hingga dirinya semakin menjauh dan hanya meninggalkan jejak langkah kaki yang menggema bersamanya.


Dia berada di kedai saat tengah hari dan saat sore hari dia memutuskan untuk pergi ke sebuah bangunan yang sebelumnya dijadikan sebagai lab penelitian penciptaan manusia baru, bangunannya sendiri berupa reruntuhan namun tanpa orang sadari ada sebuah jalan rahasia untuk mencapai ruang bawah tanah.


Saat melakukan identifikasi bersama yang lainnya Evangelista memutuskan untuk tidak membicarakannya pada siapapun dan memilih menyelidikinya sendiri seperti yang dia lakukan sekarang.


Tempat ini dibangun dengan puluhan bahkan ratusan nyawa yang dikorbankan, paling tidak Evangelista berharap ada sesuatu yang berharga yang dia bisa ambil untuk dirinya sendiri.


Dia berjalan semakin menjauh dari permukaan dan menemukan ruangan yang tidak terpakai, beberapa adalah ruangan penjara yang berisikan tulang berulang manusia, untuk sekelas bangsawan, orang bernama Scarlett Evergarden tampak adalah orang yang bar-bar.


Dia menginginkan tubuh kuat dan abadi dan ketika dia mendapatkannya dia menghancurkannya agar tidak ada siapapun yang bisa mengambilnya darinya.


Ada sebuah kotak kaca di sana dengan sebuah tabung darah di dalamnya.


"Heh, jadi ini yang digunakan oleh Scarlett," Evangelista bergumam lalu mengambil tabung itu, dia berfikir apa bahan ini mampu membuat manusia berevolusi? Atau mungkin tabung ini adalah ekperimen yang gagal? Evangelista banyak memikirkan hal tersebut di dalam kepalanya.


Dia berfikir bahwa ini sebuah pertaruhan yang patut dia coba.

__ADS_1


Mati dan hidup adalah pilihannya.


Ia mengambil jarum suntik lalu mengisinya dengan darah di dalam tabung sebelum memasukannya ke dalam tubuhnya.


Beberapa menit tidak terjadi apa-apa namun saat dia hendak pergi tubuhnya mengalami reaksi penolakan. Darahnya naik seolah mendidih, jantungnya sesak hingga ia merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya.


Evangelista memuntahkan darah beberapa saat sebelum akhirnya roboh ke lantai tak sadarkan diri, walau dia mati paling tidak dia sudah mencobanya, pikirnya dalam hati.


Keesokan paginya Evangelista menyadari bahwa dirinya masih hidup, ia mengecek tubuhnya untuk memastikan tidak ada perubahan yang terjadi padanya.


"Aku tidak merasakan apapun, apa gagal?"


Evangelista bangkit dan melihat pantulan dirinya di depan cermin, mata birunya telah berganti dengan mata merah terang menyala, dan taring mengintip dari ujung mulutnya.


"Kurasa berhasil."


Untuk mengetesnya Evangelista melukai tangannya dengan pedang yang berada di pinggangnya dan dalam sekejap itu pulih kembali. Dia tersenyum kecil.

__ADS_1


"Jadi ini namanya Vampir, tidak buruk juga... sepertinya dari sini aku hanya meminum darah kah, apa boleh buat kekuatan besar selalu didapatkan melalui pengorbanan," katanya demikian.


__ADS_2