Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 133 : Setelah Kegelapan Maka Ada Kegelapan Yang Lain


__ADS_3

Di jalanan yang seutuhnya tertutup salju seorang gadis sedang menggendong gadis lain di punggungnya tanpa alas kaki, kakinya bahkan telah kehilangan rasa sakitnya seolah jika itu berdarah ia tidak akan merasakan apapun, ini sudah kelima kalinya ia berpindah tempat dan hasilnya tetap sama.


"Maafkan aku tapi tidak ada yang bisa aku lakukan."


"Aku akan pergi ke tempat lain."


"Tolong jangan lakukan itu."


Gadis yang berada di punggungnya telah berhenti bernafas sejak lama, dia sudah meninggal sehingga tidak ada kehangatan yang dirasakan darinya kecuali mata yang tertutup serta senyuman yang mengira bahwa dia sedang tidur.


Kehilangan tenaganya, gadis itu terjatuh sementara gadis di belakangnya berguling ke trotoar.


"Marinna, kakak pasti akan menyelamatkanmu tunggu sebentar, kakak pasti..."


Air mata mengalir di wajah seorang yang berada dalam keputusasaan tersebut, dia telah kehilangan banyak hal namun harta yang selama ini yang membuatnya terus hidup adalah keberadaan adiknya, meski hidup di jalanan ia tidak mengeluh apapun tapi ini terlalu kejam.


Ia menyalahkan dewi yang telah mengambil adiknya begitu saja.


Dia berteriak tapi tak ada yang datang untuk membantunya, semua orang jelas memilih untuk tidak terlibat masalah, beginilah seharusnya, dunia ini kejam, dunia ini tidak punya perasaan dan dunia ini benar-benar terkutuk.


Dilanda pemikiran itu seorang wanita muncul dengan kantong belanjaan di tangannya, dia memiliki rambut pirang serta memiliki mata melankolis serta mengenakan pakaian pendeta.


"Ara... Gadis yang malang... seharusnya kau segera menguburkannya, dia sudah..."


"Adikku belum mati, dia hanya tidur lihat senyumannya dia pasti tidur."

__ADS_1


"Dia sudah mati bagaimanpun kau melihatnya."


"Berisik, tinggalkan kami."


Wanita itu tersenyum.


"Bagaimana kalau kau ikut ke panti asuhan, kau bisa tinggal di sana dan adikmu bisa dimakamkan di sana."


"Aku.."


"Kami juga mempelajari sihir mungkin ada sebuah sihir yang bisa membangkitkan adikmu juga, aku rasa dia tidak pergi terlalu jauh darimu."


"Kau tidak berbohong."


Gadis itu mengangguk mengiyakan.


"Jadi namamu?"


"Altina Testarosa."


"Nama yang bagus dan aku Fram semua orang memanggilku begitu."


Sehari setelah tubuh adiknya di makamkan di dekat panti asuhan seorang baru muncul, dia adalah gadis berambut perak dengan wajah yang telah kehilangan sinar hidupnya, beberapa pendeta mendekatinya dan berkata ke arah pria yang membawanya.


"Kenapa dia?"

__ADS_1


"Orang tuanya terbunuh oleh Chimera, kami ingin menitipkannya di sini."


"Begitu, dia pasti mengalami hal sulit seperti anak-anak yang lain."


"Iya."


"Jadi siapa namamu nak?"


"Pandora."


"Pandora kah? Mulai sekarang ini rumahmu selamat datang."


Pandora tidak menunjukan ekspresi apapun kecuali kegelapan di sorot matanya, dibanding bermain dia hanya menatap kosong dan dia sesekali saling berpapasan dengan Altina tanpa mengatakan sepatah katapun... Kehidupan mereka terlihat baik dari luar namun di dalamnya mereka tidak demikian.


Keduanya belajar berbagai sihir yang diajarkan oleh Fram, namun tentu itu bukanlah hal yang ingin dipelajari oleh Pandora ataupun Altina, suatu hari mereka berdua tanpa sengaja berpapasan bersama lalu menemui Fram secara pribadi di ruangannya.


"Apa yang bisa aku bantu untuk kalian berdua?"


"Kau pasti sudah tahu apa yang kami inginkan bukan," balas Altina.


"Itu benar, anak-anak sekarang benar-benar mengerikan."


Fram mengeluarkan tujuh buku hitam yang ia taruh di atas mejanya.


"Pilihlah yang kalian sukai," katanya menyeringai senang.

__ADS_1


__ADS_2