
Pagi hari di bawah cuaca cerah Souma sedang menyirami tanaman obat sebelum seorang wanita elf datang untuk menyapanya, ia memiliki rambut hitam yang jarang dimiliki oleh rasnya. Terkesan cantik serta memiliki perut yang kini sedikit membesar.
"Pagi-pagi begini sudah sibuk Souma."
"Nona Fiya kah, selamat pagi."
"Selamat pagi."
"Baru kembali berbelanja."
"Iya... hari ini aku membeli semua makanan yang disukai suamiku."
"Begitu, suami anda pasti sangat senang."
Fiya adalah istri dari Bread pemilik toko makanan, meski dibilang toko makanan mereka hanya menjual barang pokok seperti ubi, beras, gandum serta lainnya.
Tak lama orang yang dimaksud muncul.
"Istriku kenapa kau keluar, sudah kubilang biar aku yang berbelanja... kamu sedang hamil dan juga banyak pria yang akan melihatmu dengan tatapan mesumnya."
"Maksudmu Souma?"
"Dia itu sedikit tidak normal, ia tidak memiliki tatapan mesum."
Souma menyela meskipun tidak diperhatikan.
"Permisi."
"Pokoknya biar aku yang berbelanja mulai sekarang."
"Tapi aku tidak ingin terus berada di rumah."
"Kalau begitu sampai anak kita lahir... orang-orang di sini suka sekali dengan wanita hamil."
Souma jelas baru mendengar itu, lebih dari itu dia berfikir bahwa Bread pasti lupa bahwa istrinya mantan petualang peringkat atas yang kekuatannya bisa seimbang dengan kekuatan naga.
Ia tahu tidak akan ada orang macam-macam dengannya.
Seolah menyadari sosok Souma berada di sana Bread akhirnya menyapanya.
__ADS_1
"Souma kau ada di sini juga."
"Tolong ceritakan bagian di mana aku tidak normal."
"Uwaah... kau mendengarnya."
Fiya tertawa kecil lalu memberikan sedikit belanjaannya pada Souma.
"Pemilik toko daging memberikanku banyak terong, kalau mau silahkan."
"Terima kasih."
Toko daging memberikan terong itu mencurigakan, harusnya dia memberikan daging karena tokonya daging. Bibi penjual itu mungkin dapat kiriman dari anaknya di kota, pikir Souma dalam hati dan hanya melihat kepergian keduanya dari tempatnya berdiri, meskipun sebenarnya rumah mereka tidak jauh dari kediamannya.
Di desa ini kebanyakan orang menjadikan rumah sebagai toko juga.
Undine muncul dengan penampilannya seperti petualang.
"Aku berangkat."
"Kau sudah mau pergi Undine."
"Begitu."
"Apa yang kau bawa? Eh, terong.. aku minta satu."
"..."
"Rasanya enak."
Souma terkejut.
"Kau makan terong ungu mentah."
"Apa ada yang aneh, rasanya enak loh aku juga makan pare mentah."
"Kau makan itu, aku hampir saja bersujud padamu."
"Yah itu bukan hal mengagumkan... pokoknya aku pergi sekarang."
__ADS_1
"Kau tidak sarapan dulu."
"Nanti saja di guild, sampai jumpa."
"Berhati-hatilah."
"Um."
Setelah menyirami tanaman Souma pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan, biasanya ia akan melakukannya sendiri tapi sekarang di sana ada Celestrial yang berdiri dengan apron merah muda melekat di pinggangnya.
"Souma, kau sudah bangun."
"Aku di luar menyirami tanaman, apa yang sedang kau lakukan?"
"Tentu saja memasak."
"Bukannya kau tidak bisa memasak?"
Hidup mewah di istana membuat putri tidak harus repot-repot ke dapur meski begitu Celestrial memiliki pemikirannya sendiri, ini sudah seminggu semenjak dia tinggal di toko ini dan selama itu diam-diam Celestrial belajar memasak dari siapapun yang ia temui.
Itu bisa dilihat bagaimana tangannya terdapat banyak plester yang melekat di sana.
"Aku tidak terlalu pandai melakukan segala hal, aku ingin bisa memasak untuk kalian semua, terlebih..."
"Terlebih apa?"
"Aku ingin jadi istri baik untukmu."
Wajah Souma mematung.
"Tak masalah jika Souma mau menikah lagi, paling tidak jumlah selir tidak lebih dari sembilan orang.. karena sembilan itu angka keberuntungan, halo Souma, Souma."
Celestrial melambai-lambaikan tangannya di depan wajah pria mematung tersebut hingga Risela dan Anna turun dari lantai atas selagi menguap lebar.
"Uwah, Souma telihat shock apa yang terjadi dengannya?"
"Kupikir istri baik terlalu berat untuk Souma."
"Eh, benarkah?"
__ADS_1