Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 112 : Berpetualang Bersama


__ADS_3

Law menarik dirinya dengan pedang patah di tangannya, tak ingin dirinya dipojokan dia berusaha untuk menjaga jarak dari serangan beruang.


Baginya itu aneh bahwa kecepatan serta kekuatan monster yang dilawannya berada di level mengagumkan.


Apa mungkin monster ini telah banyak belajar dari pertarungan?


Law memutar tubuhnya dengan ayunan pedang patah dari samping, menyadari serangan tersebut beruang membungkuk rendah demi membiarkan serangan tersebut terlepas begitu saja, kehilangan momentum dari serangannya beruang memberikan sebuah tinju menghantam tulang dada Law lalu melemparkannya beberapa meter ke belakang.


Seorang komandan dipermalukan oleh seekor beruang adalah tontonan yang jarang dijumpai di manapun, Pandora yakin dengan hal itu jadi dia tidak bisa menahan tawanya.


Sementara beruang itu tersenyum penuh kemenangan, dia berlari setelah membuang pedangnya, apes baginya saat dia berlari dia tersandung batu hingga wajahnya mendarat di tanah.


"Haha apaan itu? Komandan bisa selemah ini.. ya ampun aku tertawa sampai menangis."


"Berisik aku hanya menurunkan levelku sama dengan musuhku."


"Kau ini pelawak kah."


Beruang yang kesal karena diremehkan memberikan tendangan terbang, Law berguling ke samping dan tendangan itu hanya menghancurkan pohon di belakangnya.


Dengan gerakan gesit Law memukul wajah beruang tersebut dan sekarang giliran dia yang terlempar ke tanah, beruang itu mendengus sebelum berjalan dengan keempat kakinya untuk pergi.


Tidak ada aura permusuhan lain maka dari itu Law memilih melepaskannya.


Pandora yang asyik menonton turun dari dahan dan berdiri di dekat Law yang tiba-tiba meringkuk.

__ADS_1


"Kakiku patah, tidak! kakiku patah."


"Yang kau pegang kakiku," ucap Pandora datar.


"Wahh."


"Kau pasti ingin memintaku untuk pergi ke kota terdekat demi membeli obat, sementara aku pergi kau akan melarikan diri."


"Kenapa kau bisa tahu?"


"Kau orang yang mudah ditebak."


Dan Pandora duduk di depan Law yang sekuat tenaga berusaha untuk tidak mengintip bagaimanapun Pandora telanjang daerah terlarang yang tidak boleh terekpos bisa terlihat jelas di sana.


"Mulai sekarang mohon bantuannya rekan setim."


"Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong."


"Kau akan terbiasa nanti juga."


Kini Law tahu bagaimana rasanya terjerat oleh iblis. Dalam pikirannya yang pertama yang ingin dia lakukan adalah membeli beberapa pakaian untuk penyihir.


Selama ini Pandora selalu menyembunyikan dirinya dan hampir seluruh orang tidak mengenalnya, asal tidak mengatakan julukannya semuanya akan berjalan apa adanya, keduanya mengunjungi sebuah toko jahit yang mana dengan senang memperkenalkan gaun yang mereka miliki pada gadis kecil tersebut.


"Aku suka yang ini."

__ADS_1


"Kalau begitu, mari saya antar ke ruang ganti."


Law menambahkan.


"Apa boleh minta untuk mengepang rambutnya, dia tidak suka dipotong akan jauh lebih baik jika rambut tersebut tidak mengganggunya saat berjalan."


"Tentu saja."


"Aku akan membeli pakaian apapun dengan harga dua kali lipat sebagai ucapan terima kasih."


"Anda sangat dermawan."


Bagi Law yang berstatus tinggi uang bukan masalah, dalam pikirannya dia sempat ingin melarikan diri namun akhirnya memutuskan untuk menyerah. Lagipula seperti yang dikatakan Pandora nasib sebuah kota berada di tangannya.


Pandora menyibak tirai yang selama ini menutupinya dan muncul dengan pakaian yang dipilihnya yang merupakan gaun putih dengan perpaduan hitam dan putih, itu terlihat menggemaskan tapi jika kau tahu siapa yang memakainya hampir sulit untuk mengatakan hal demikian.


Sebisa mungkin Law menyembunyikan ekspresinya dengan senyuman seraya berkata.


"Itu cocok denganmu."


"Apa kau ingin melihat pakaian dalamku juga."


Dan semua orang segera menjauh darinya.


Nama baik dibangun dalam waktu lama serta penuh kesabaran akan tetapi jika itu nama buruk hanya perlu sekejap mata untuk menyebar dengan pesat.

__ADS_1


__ADS_2